Lanjut ke konten

Minum Obat, Naik Motor dan Masuk Bui

20 Februari 2014

poster_konsentrasi_kopcau7

INI kisah cukup buram. Terinspirasi dari sebuah fakta yang bukan untuk ditiru. Bisa menjadi pembelajaran bersama bahwa konsentrasi mutlak saat bersepeda motor.

Bermula pada suatu malam, sebut saja Zaynasto, usia masih di bawah umur, nekat bawa sepeda motor seusai nenggak obat terlarang. Dia tak sendiri, malam itu Zay berempat satu motor. Tiga temannya menjadi boncenger.

Mereka berempat hendak berkunjung ke desa sebelah tempat tinggal mereka. Niat itu tak kesampaian, di tengah jalan, Zay oleng, motornya nabrak tiang listrik. Sepeda motor tanpa pelat nomor dan tidak menyalakan lampu utama kandas di tiang terbuat dari beton. Mudah ditebak, keempatnya terluka. Bahkan, belakangan salah satu diantara mereka menemui ajal setelah dirawat di rumah sakit. Miris.

Persoalan pun meluas. Zay menjadi pesakitan. Menginap di hotel prodeo selama 21 hari sebelum jatuh vonis dari hakim yang menyidangkan masalahnya. Palu diketuk, Zay dibui tujuh bulan dan denda Rp 500 ribu.

Nyaris tak ada penunggang roda yang ingin celaka saat melaju di atas si kuda besi. Mereka selalu ingin selamat sampai tujuan. Salah satu kunci penting adalah senantiasa waspada dan berkonsentrasi saat menunggang si kuda besi. Haram hukumnya memancing hal-hal yang mengganggu konsentrasi. Tak heran jika negara lewat instrumen Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengatur soal konsentrasi. Para pengendara wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Aturan di pasal 106 itu menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya. Hal-hal yang dianggap mengganggu perhatian itu adalah karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan. Bila itu terjadi bakal memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan.

Artinya, siapa saja pengemudi yang kedapatan mabuk saat berkendara bakal diganjar hukuman. Tengok saja di pasal 283 yang menyebutkan bahwa

setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Tapi cerita menjadi lain ketika kejadiannya seperti yang dialami Zay. Anak di bawah umur itu diganjar pasal 310 ayat 4. Aturan itu bilang bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dan mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Karena itu, tak ada kata lain bahwa berkendara adalah pekerjaan penuh waktu. Butuh konsentrasi. Tak bisa disambi oleh aktifitas lain yang berpotensi mengganggu konsentrasi. Maklum, saat itu dilanggar, pilihannya sulit, ditabrak atau menabrak. (edo rusyanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: