Lanjut ke konten

Menjaga Jarak Aman

17 Februari 2014

IMG04128-20101227-1303

SALAH satu upaya mencegah tingginya kasus kecelakaan lalu lintas jalan adalah dengan menjaga jarak aman saat berkendara. Rentang jarak tiap kendaraan mempengaruhi pada kemungkinan terjadinya tabrakan. Saat ada pengereman mendadak, bila jarak antara kendaraan terlalu dekat, apalagi hampir menempel, tidak mustahil membuat peluang tabrak belakang kian besar.

Jarak aman saat bersepeda motor adalah suatu kondisi untuk pengendara melakukan reaksi atas situasi yang terjadi di depannya. Karena itu, agar aman selalu diciptakan ruang kosong dengan rentang tiga detik. Rentang waktu tersebut juga dengan persyaratan laju sepeda motor yang konstan, artinya jika kendaraan di depan melaju 50 kilometer per jam, kendaraan yang ada di belakangnya melaju dengan kecepatan yang tidak terpaut jauh, bahkan relatif sama. Lantas jaraknya berapa meter?

Dengan asumsi melaju dengan kecepatan 50 kilometer per jam, kecepatan itu setara dengan 0,83 km/menit. Angka itu setara dengan 0,013 km/detik atau sama dengan 14 meter/detik. Bila asumsi rentang waktu yang aman adalah tiga detik, artinya jarak aman yang dibutuhkan sekitar 42 meter.

Bila pengendara sepeda motor melakukan pengereman normal, jarak 42 meter tersebut tergolong cukup untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan di depan yang tiba-tiba berhenti.

Selain menjaga jarak aman, formasi antara sepeda motor yang di depan dengan yang di belakang, jika ruang memungkinkan, bisa memakai pola zigzag. Tujuannya untuk menghindari tabrak belakang ketika kendaraan yang di depan melakukan pengereman mendadak. Formasi zigzag member ruang kosong bagi kendaraan yang di belakang jika pengeremannya ternyata tidak maksimal.

Di Indonesia, tabrak depan belakang merupakan jenis kecelakaan lalu lintas jalan yang terbesar ketiga dari berbagai jenis kecelakaan. Pada 2013, tabrak belakang menyumbang sekitar 17,26% terhadap total kecelakaan. Saat itu, setiap hari rata-rata ada 47 kasus kecelakaan tabrak depan belakang.

Sementara itu, pemanfaatan tiga detik tersebut untuk dua hal penting, yakni bisa untuk menyerap informasi sebanyak mungkin atas situasi di depan dan sekitarnya. Karena itu, ruang kosong sebagai jarak aman juga bisa dimanfaatkan untuk melihat kondisi di depan apakah ada lubang atau tidak. Sedangkan detik kedua dimanfaatkan untuk mengolah informasi yang sudah diserap untuk mengambil keputusan apa yang akan dipilih. Dan, di detik ketiga dimanfaatkan untuk aksi apa yang sudah dipilih. Tindakan tepat apa yang perlukan atau bermanuver seperti apa atas situasi yang ada. Misal, untuk melakukan pengereman yang tepat atau penghindaran diri atas potensi benturan yang fatal.

Soal penghindaran diri juga tidak bisa gegabah. Butuh kepastian dengan risiko sekecil mungkin terjadinya benturan dengan kendaraan lain, entah dari arah belakang maupun dari arah berlawanan. Salah satu upaya memastikannya adalah dengan melihat ke kaca spion dan menebar pandangan seluas mungkin ke arah depan.

Manfaat jarak aman untuk menghindari terjadinya tabrak belakang atau tabrakan beruntun. Sekalipun tabrak beruntun hanya berkontribusi sekitar 3% terhadap total kasus kecelakaan di jalan, tetap saja harus diwaspadai oleh setiap para pengendara kendaraan bermotor. Karena itu, penting menjadi perhatian adalah untuk menghindari berkendara gaya menguntit (tail gating). Jarak yang terlalu rapat menciptakan kondisi berkebalikan dari perilaku menjaga jarak aman. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 17 Februari 2014 00:09

    joss om, menyimak dulu 🙂

  2. 17 Februari 2014 00:27

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: