Lanjut ke konten

Kita Masih Bisa Tertib Kok

16 Februari 2014

bikers tertib di lamer

SIANG terus bergulir. Beragam kendaraan bermotor berhenti saat lampu pengatur lalu lintas berwarna merah. Ada yang memilih berhenti di belakang garis setop berwarna putih, tapi ada yang memilih lebih. Melibas zebra cross.
Ada pengendara yang semula berhenti di belakang garis setop, secara perlahan maju lantaran terprovokasi. Satu pengendara maju, pengendara yang lain meniru. Penumpukan pun terjadi. Mereka yang melaju melibas marka penyeberangan jalan bagi pejalan kaki itu bak tak sabar menunggu lampu berganti menjadi hijau.

Tunggu dulu, tak semua penunggang kuda besi berapi-api merangsek hak pejalan kaki. Siang itu ada tampak sebagian memilih tertib, bersabar menunggu saatnya bergerak. Di antara mereka yang memilih bersabar tampak seorang penunggang kuda besi yang mencerminkan anggota kelompok pengguna sepeda motor. Sang bikers, begitu biasanya penyebutan untuk anggota kelompok pesepeda motor, memakai atribut lengkap seperti side box dan rompi warna hitam. Berbagai stiker nama kelompok bertebaran di side box, sedangkan identitas kelompok terlihat jelas di rompi hitamnya.

Bikers yang tertib tak sedikit, walau kalah banyak dengan mereka yang tidak tertib. Begitulah potret lalu lintas jalan di Jakarta. Pemandangan bikers tertib di salah satu sudut Jl Raya Bogor, di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur menjadi salah satu contoh bahwa kita masih bisa tertib. Sabar antre sesuai dengan hak dan kewajibannya di jalan.

Budaya menghargai aturan yang ada menjadi salah satu kata kunci dalam mengurangi potensi terjadinya kecelakaan. Jika hal yang dianggap kecil bisa ditaati, bukan mustahil untuk hal besar lebih mudah lagi mengikutinya. Ingat pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Aturan yang tertuang di dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan para pengendara menaati rambu dan marka jalan. Salah satu marka jalan yang dimaksud adalah garis setop dan zebra cross. Sanksi dalam aturan itu pun cukup jelas, yakni denda maksimal Rp 500 ribu atau penjara maksimal dua bulan. Sanksi itu jauh lebih ringan dibandingkan dalam aturan yang sebelumnya berlaku, yakni Undang Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Undang Undang tersebut denda maksimalnya adalah Rp 1 juta atau penjara maksimal satu tahun. Entah kenapa sanksinya dikurangi.

Perilaku tidak tertib dengan melanggar marka dan rambu jalan menjadi salah satu aspek di dalam faktor manusia yang memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Tahun 2013, faktor manusia merupakan penyebab terbesar terjadinya kecelakaan, yakni 87,56%. Sisanya terbagi kedalam tiga faktor lain, yaitu jalan (7,71%), kendaraan (3,16%), alam (1,03%), dan teknologi (0,55%).

Nah, data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) juga menyebutkan bahwa di dalam faktor manusia terdapat sebelas aspek. Dari keseluruhan aspek tersebut, tidak tertib merupakan penyumbang terbesar, yakni 45,66%. Ironisnya, jika dibandingkan tahun 2011, aspek tidak tertib melonjak sekitar 202%. Miris.

Tahun 2013, tak kurang dari 26 ribu jiwa tewas akibat kecelakaan di jalan. Korban tersebut berjatuhan lantaran 270-an kecelakaan per hari. Mayoritas kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor, yaitu sekitar 72%.
Saat ada bikers yang bisa tertib di jalan rasanya menjadi salah satu ikhtiar untuk memangkas potensi terjadinya kecelakaan yang kita tahu buahnya amat pahit. Perilaku tertib dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dimulai dari sekarang. (edo rusyanto)

13 Komentar leave one →
  1. 16 Februari 2014 00:06

    ajib,..

  2. ahmadfaisolat permalink
    16 Februari 2014 00:35

    respek 🙂

  3. 16 Februari 2014 02:26

    Nah ini baru biker….

  4. 16 Februari 2014 05:50

    Yuukkk…

  5. 16 Februari 2014 06:04

    Contoh yang bagusss 😀

    **Tips meningkatkan Hits >> http://potretbikers.com/2014/02/16/hits-naik-seiring-adanya-gunung-kelud-meletus/

  6. 16 Februari 2014 06:08

    Salut nih

  7. 17 Februari 2014 07:20

    dari atributnya, disinyalir itu oknum 😀

  8. 17 Februari 2014 14:16

    saluttttt

  9. 17 Februari 2014 14:27

    sayangnya di jogja makin menjadi. makin mirip perilaku berkendara tidak amannya seperti di kota kota besar lain. paling sering, udah start duluan meskipun bangjo/traffic light belum menyala hijau 😦

  10. Heri permalink
    18 Februari 2014 15:08

    Mbah Edo dapet salam dari Mantan Ketum GPMR (itu yg ada di foto)

  11. 21 Februari 2014 01:55

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  12. 23 Februari 2014 16:41

    Ane Kaya Pernah Liat Motor Itu Bro Di XDeres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: