Lanjut ke konten

Delapan Belas Detik (Terlalu Lama?)

9 Februari 2014

motor langgar lamer 2014

RASA sabar sirna. Warga kota tampak selalu tergesa-gesa. Waktu adalah kesempatan.

Potret ketergesaan warga kota Jakarta amat mudah dijumpai di jalan raya. Bahkan, setiap hari, tak perlu dicari, hal itu muncul sendiri. Seakan mempertontonkan instingnya bahwa waktu adalah panglima bagi penduduk kota.

Apa iya, ketergesaan yang dengan telanjang dipertontonkan di jalan raya merupakan nafas seluruh warga? Apalagi, jika dengan dalih mengejar waktu lantas mengabaikan segala risiko yang ada. Termasuk, tak peduli pada aturan yang sudah disusun para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Merampas hak orang lain, mencabik-cabik rasa kemanusiaan.

Ya. Jalan raya kota disesaki atraksi kendraan bermotor yang menerobos lampu merah. Melibas bahu jalan. Merangsek trotoar jalan. Bahkan, ada yang nekat melawan arus lalu lintas jalan.

Ironisnya, pelanggaran demi pelanggaran aturan di jalan berbuah pahit. Ratusan orang menderita luka-luka tiap hari disundul petaka jalan raya. Bahkan, tujuh puluhan jiwa meregang nyawa per hari lantaran kecelakaan di jalan pada 2013.

Tahukah kita, data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) menyebutkan sekitar 42% kecelakaan dipicu perilaku tidak tertib. Perilaku mau menang sendiri, egois. Tak heran, tipis sekali jarak emosi dan toleransi dengan sesama pengguna jalan. Tapi, apa iya semuanya begitu?

Tapi, suatu hari pemandangan itu terlihat di depan mata, secara telanjang. Belum juga lampu pengatur lalu lintas menyala hijau, belasan kendaraan bermotor berbondong-bondong melaju. Tanda waktu di lampu pengatur itu masih delapan belas detik. Artinya, masih ada waktu delapan belas detik menunggu. Menerobos lampu merah. Entah apa yang ada di benak kepala mereka.

Saya jadi ingat sebuah pernyataan, “Jika ingin lihat potret suatu bangsa, lihatlah perilaku para pengguna jalannya.” Saya lupa siapa yang mengucapkan kalimat itu. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 9 Februari 2014 21:10

    “Jika ingin lihat potret suatu bangsa, lihatlah perilaku para pengguna jalannya”. Sekedar penambahan juga…”Jika ingin lihat kepedulian terhadap yang lebih membutuhkan, cobalah naik kereta KRL”. Ada yg cuek bebek padahal di depannya ada ibu yang mengendong anak, dst.

  2. 11 Februari 2014 09:26

    salam kenal mbah, kalo saya ketemu lampu merah malah seneng, bisa istirahat sebentar di tengah jalan 🙂

  3. Rcd 13 permalink
    12 Februari 2014 01:37

    Takut kejebak macet mungkin,, di lampu merah bau asap kendaraan mungkin,, buru-buru karena sudah telat mungkin,, dsb…. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: