Lanjut ke konten

Motor Bakso Bro

4 Februari 2014

bakso motor_1

WAJAHNYA serius. Sesekali mengumbar senyum. Pria berusia sekitar tigapuluh tahunan itu sibuk memenuhi pesanan para pembeli. Ada yang memesan satu porsi, ada juga yang hanya memesan setengah porsi bakso.

Seporsi bakso berisi satu bakso besar dan delapan butir bakso kecil. Ada mie kuning dan mie putih alias bihun untuk melengkapi santapan bakso daging sapi tersebut. Satu porsi dibanderol Rp 12 ribu.

Begitulah kesibukan Mas Mintho, begitu saja kita sebut, pedagang bakso keliling saat sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan meracik bumbu dan sesekali mengambil kuah bakso dari semacam panci besar, seperti saya temui di sela ajang ‘Jakarta Taekwondo Festival ke-9’ di bilangan Jakarta Timur, Minggu (2/2/2014) pagi. Dia menempati salah satu sudut di tenda-tenda yang disediakan panitia penyelenggara. Tenda-tenda itu berisi aneka pedagang makanan, minuman, cendera mata, hingga beragam pakaian olahraga.

Nah, yang membedakan dengan bakso yang satu ini adalah gerobaknya yang ditaruh di atas sepeda motor. Sebuah sepeda motor bebek menjadi tempat nangkring gerobak yang menghabiskan Rp 800 ribu untuk pembuatannya. “Saya sudah sekitar dua tahun berjualan dengan gerobak di motor ini,” sergah dia.

Menurut Mintho, uang untuk pembuatan gerobak diatas motor itu sudah kembali modal. Bahkan, lebih dan cukup untuk kehidupan sehari-hari. “Cukuplah buat beli rokok,” selorohnya.

Dia bercerita, dengan menempatkan gerobak bakso di atas sepeda motor, dia bisa lebih cepat bergerak untuk mendatangi sebuah lokasi. Bila dibandingkan dengan gerobak dorong, tambahnya, gerobak motor bisa lebih cepat. Dia tidak mengaku repot. “Sampai sekarang belum pernah kecelakaan. Jangan sampai deh,” harap dia.

Ya. Sepeda motor masih menjadi alat mencari nafkah, termasuk dimodifikasi seperti tukang bakso tersebut. Bukan hanya masyarakat kecil yang memodifikasi sepeda motor sebagai alat angkut. Para perusahaan jasa angkutan kurir, restoran siap saji, hingga perusahaan farmasi memakai si kuda besi untuk mendistribusikan barang. Si roda dua dianggap lebih mangkus dan sangkil. Tak heran jika volume penjualan sepeda motor tetap tinggi di Indonesia. Tahun 2013, lebih dari tujuh juta unit sepeda motor yang merangsek ke pasar domestik. Semoga tetap aman dan selamat ya mas. Amin. (edo rusyanto)

4 Komentar leave one →
  1. 4 Februari 2014 00:18

    semoga aman

  2. emir99 permalink
    4 Februari 2014 00:33

    Perlu ditiru .. Cikal bakal kewirausahaan modern

  3. soto permalink
    4 Februari 2014 06:45

    bermanfaat.. (y)

  4. 8 Februari 2014 08:16

    banyak disini mas 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: