Lanjut ke konten

Kecelakaan Karena Tidak Tertib Melonjak 200%!

29 Januari 2014

kopcau poster 13 represif

TRAGIS. Cuma itu yang keluar dari mulut seorang teman saat membaca berita tabrakan maut di jalan layang non tol (JLNT) Casablanca, Jakarta Selatan, Selasa (28/1/2014). Seorang wanita yang menjadi penumpang sepeda motor skutik tewas. Ironisnya, dia sedang mengandung.

Ya. Peristiwa yang terjadi pada Senin (27/1/2014) sekitar pukul 22.30 WIB itu mengundang banyak perhatian publik. Korban meninggal dunia saat kejadian posisinya dibonceng oleh sang suami. Sepeda motor meluncur dari arah Kampung Melayu menuju Tanah Abang. Entah mengapa, sang suami memilih JLNT yang notabene tidak memperbolehkan sepeda motor melintas di jalan senilai Rp 2 triliun itu. Media online menyebutkan, menjelang penghujung JLNT ada razia. Sang pengendara banting stir, lawan arus sehingga akhirnya bertabrakan dengan mobil yang memang sedang di dalam jalur yang semestinya. Sang perempuan pun terlontar. Jatuh dari atas JLNT yang ditaksir berketinggian 15 meter. Belakangan disebutkan bahwa sang pengendara tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM).

Kisah tragis lantaran petaka jalan raya terus bermunculan. Andai kata media massa merekam seluruh kejadian kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia, media itu isinya bakal penuh dengan berita kecelakaan. Maklum, pada 2013, setiap hari rata-rata ada 270-an kasus kecelakaan yang merenggut rata-rata per hari 72 jiwa.

Melonjak Drastis

Kecelakaan yang dipicu faktor tidak tertib saat berkendara ternyata melonjak drastis dalam dua tahun terakhir. Data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) menyebutkan, pada 2013, aspek tidak tertib melonjak sekitar 202% jika dibandingkan tahun 2011. perilaku tidak tertib pada 2013 menyumbang sekitar 42% terhadap total kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang terjadi di Indonesia. Sedangkan di dalam faktor manusia, sumbangan aspek tidak tertib mencapai sekitar 46% dari sembilan aspek di faktor manusia.

Tahun 2013, setiap harinya rata-rata ada 114 kasus kecelakaan yang dipicu tidak tertib berkendara. Padahal, pada 2011, kasusnya baru sekitar 38 kejadian per hari.
Muncul pertanyaan, kenapa tren berkendara tidak tertib terus terjadi? Apakah para pengguna jalan tidak menyadari risiko akibat berkendara tidak tertib? Atau, sanksi yang diberikan terhadap mereka yang tidak tertib dirasakan belum memberi efek jera?

Jawabannya tentu tidak mudah. Seseorang berkendara tidak tertib tentu ada alasannya. Oh ya, kita samakan dulu persepsi bahwa yang tergolong berkendara tidak tertib adalah perilaku yang melanggar aturan. Di Indonesia, saat ini, aturan yang digunakan adalah Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Nyaris seluruh aspek yang berpotensi memicu terjadinya kecelakaan telah diatur dalam regulasi tersebut. Maklum, lazimnya regulasi yang dikeluarkan oleh negara, substansi aturan itu untuk melindungi warganya, dalam hal ini melindungi keselamatan bagi para pengguna jalan.

Contoh perilaku yang diatur demi keselamatan yang dimaksud adalah larangan untuk melawan arus lalu lintas jalan. Lalu, larangan melanggar marka dan rambu maupun alat isyarat lainnya, seperti lampu pengatur lalu lintas jalan. Melibas bahu jalan dan trotoar termasuk yang dilarang oleh Undang Undang tersebut.

Lalu, kenapa pengguna jalan tetap melakukan pelanggaran sekalipun ada aturan dan sanksinya? Jangan-jangan memang karena tidak tahu akan risikonya. Atau, di tengah demikian hebatnya tekanan hidup perkotaan, perilaku pengendara kendaraan bermotor selalu tergesa-gesa. Ingin segera tiba di tempat tujuan, ingin segera menyelesaikan persoalan, ingin segera mencapai tujuan, namun dengan mencari jalan pintas. Ironisnya, jalan pintas yang dipilih justeru merugikan dirinya dan orang lain. Bahkan, kerugian yang lebih dahsyat yakni hilangnya nyawa manusia akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Di sisi lain, rasanya ketertiban bisa terwujud bila memenuhi dua aspek, yakni kesadaran dari pengguna jalan dan tegasnya penegakan aturan. Aspek yang pertama lahir melalui proses yang cukup panjang atas landasan kesadaran menghargai kehidupan dan indahnya toleransi berkendara di jalan. Nilai hakiki keadaban manusia adalah mampu bertoleransi yang jika di jalan raya terrefleksi dengan sudi berbagi ruas jalan. Lalu, aspek kedua, membutuhkan para petugas yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Bila keduanya jalan bersamaan, saling melengkapi, rasanya peluang kecelakaan bisa ditekan signifikan sekaligus menekan potensi fatalitas atas kecelakaan itu sendiri. Semoga. (edo rusyanto)

5 Komentar leave one →
  1. 29 Januari 2014 00:11

    semoga menjadi pembelajaran bersama

  2. 29 Januari 2014 00:26

    saya prihatin atas kecelakaan itu
    yg jadi soal apakah pengemudi mobil itu tak melihat & tak bisa mengantisipasi ada motor yg jalan berlawanan arah?
    saya selaku driver mobil berpikir pasti bisa mengantisipasi bila ada kendaraan di samping bila melihat tentunya.apakah tdk ada ruang utk menghindar agar tak terjadi kecelakaankah?

  3. 29 Januari 2014 01:09

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  4. 29 Januari 2014 15:13

    Agak miris bacanya. Pertama si korban yang meninggal adalah wanita yang sedang mengandung. Semoga amal ibadahnya diterima dan di diampuni segala dosa-dosanya. Kedua sang pengendara lebih memilih mengambil resiko melawan arah demi menghindari razia yang pada akhirnya resiko yang diterima lebih besar.

    Semoga bisa menjadi pelajaran, kalau ada razia ya hadapi saja. Hilang duit buat sidang lebih baik dari pada kabur melawan arah berakibat terjadi kecelakaan LAKA yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Semestinya juga Pak Polisi (semoga ada orang ditlantas yg membaca) jangan melakukan razia seperti main jebakan. Polisi itu adalah pengayom masyarakat, menjaga ketertiban dan keamanan. Bukan menjadi sosok yang ditakuti masyarakat. Bila polisi menjaga keamanan lalu lintas, posisinya jangan ada di ujung akhir jalan, tapi baiknya berada di ujung depan jalan yg diperuntukan kendaraan non roda 2. Sehingga pengemudi R2 yg umumnya lebih takut polisi dibanding nyawanya tidak mengambil tindakan yang membahayakan dirinya dan orang lain.

  5. Prasetyo permalink
    3 Februari 2014 09:59

    terlepas dari kesalahan pengemudi motor,, sy rasa benar bahwa polisi sebaiknya jangan main seperti menjebak,, razia lebih baik di depan jalan ketimbang di ujung, tujuannya utk menhindari hal seperti ini bukan mendapatkan pelanggar lalu lintas, untuk pengemudi kendaraan sy agak “khusnudzon” ni, masak tdk bs menghindar sedikit, mana tau mmg kesal jg krn melihat ada yang melanggar arus jd nekat gk minggir, (emosi di jalan itu mudah). smoga kedepannya hal ini bs diminimalisir. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: