Lanjut ke konten

Apa Mau Dilakukan Setelah Seremonial?

26 Januari 2014

gernas sby dan warga

LANGIT di atas Jakarta mendung. Kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat menjadi lebih teduh, Minggu, 26 Januari 2014. Beberapa jam sebelumnya, kawasan itu sempat diguyur hujan. Maklum, Januari merupakan langganan turunnya hujan di Jakarta.

Gelombang warga Jakarta dan sekitarnya terus memadati kawasan Bundaran HI yang dihubungkan oleh Jl Jenderal Sudirman dan Jl MH Thamrin. Ribuan orang mulai menyemut ketika jarum jam memasuki angka pukul 08.00 WIB. Gelombang massa berdatangan dari dua titik, yakni kawasan Monas dan Markas Kepolisian RI Daerah Metro Jaya. Mereka longmarch alias berjalan kaki hingga lebih dari delapan kilometer, pulang pergi untuk rute Markas Polda – Bundaran HI.

Hari Minggu merupakan hari bebas kendaraan bermotor di kawasan tersebut. Warga Jakarta menikmatinya dengan berjalan kaki atau bersepeda kayuh di kawasan yang terkenal sebagai lokasi perkantoran premium di jantung Jakarta.

Keriuhan warga kali ini agak berbeda. Penjagaan keamanan super ketat jika dibandingkan hari-hari biasanya. Tak hanya kendaraan lapis baja dan brigade mobil yang nongkrong di sekitar situ. Di atap gedung tampak para penembak jitu mengamati dengan teliti orang-orang yang berlalu lalang. Di sisi lain, beberapa pawang hujan yang biasa menggawangi lapangan golf pun didatangkan guna menahan hujan agar tak jatuh ke bumi.

Ya. Pagi itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hadir untuk mencanangkan Gerakan Nasional (Gernas) Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas. Seremonial yang dilakukan serempak di seluruh Indonesia itu dijadikan momentum agar para pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan bekerja lebih serius. “Kami mengajak masyarakat luas untuk meccegah kecelakaan lalu lintas dan meningkatkan keselamatan berlalu lintas,” ujar Presiden dihadapan ribuan orang dari berbagai kalangan.

Menurut Presiden seiring pertumbuhan ekonomi, seperti terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, daya beli masyarakat pun meningkat. Hal itu, ujarnya, tercermin dengan melambungnya penjualan kendaraan bermotor. Namun, tambah Presiden, konsekuensinya lalu lintas jalan kian ramai. Karena itu, kesadaran untuk berkendara yang aman dan selamat menjadi mutlak.

Kepada Gubernur Jawa Tengah dan Jawa Timur yang saat itu melakukan telewicara dengan Presiden, diminta agar terus menjalankan program keselamatan jalan. Mengajak masyarakat lebih tertib ketika berkendara di jalan. “Gubernur dan Kapolda agar terus bekerja meningkatkan keselamatan pengguna jalan,” sergah Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden yang didampingi Ibu Negara Ani Yughoyono dan Wakil Presiden Boediono beserta isteri, serta para jajaran menteri Kabinet Bersatu jilid dua, juga menekankan pentingnya penegakan hukum di jalan raya. Menurut dia, kalau perilaku pengendara kendaraan bermotor sudah tertib dan selamat, penegakan hukum tidak perlu tegas. “Namun, kalau perilakunya membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan yang lain, penegakan hukum harus tegas,” kata Presiden.

Sebelum pencanangan yang secara simbolik dengan penekanan tombol sirene dan pelepasan balon, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Sutarman memaparkan fakta-fakta yang ada di Republik Indonesia. Menyitir data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kapolri menegaskan bahwa masalah kecelakaan lalu lintas jalan sudah menjadi isu global. Maklum, setiap tahun setidaknya ada 1,24 juta jiwa menjadi korban kecelakaan di jalan dan sekitar 50 juta orang menderita luka-luka didera petaka jalan raya.

“Di Indonesia, setiap jam empat orang tewas akibat kecelakaan di jalan pada 2013,” tegas Kapolri.
Dia memperkirakan bahwa dengan pertumbuhan penduduk sekitar 2% per tahun dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang lebih dari 8% per tahun, jumlah kasus kecelakaan di jalan berpotensi meningkat. Pada 2013, setidaknya ada 94 juta kendaraan yang berdaftar di Indonesia dan sekitar 240 juta jiwa penduduk yang mendiami Nusantara.

“Polri telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah kecelakaan lalu lintas dengan merangkul komunitas masyarakat dan memperbaiki sistem ujian mendapat surat izin mengemudi (SIM),” katanya.
Kegiatan seremonial sudah banyak dilakukan oleh instansi pemerintah. Kali ini terasa lebih istimewa karena Presiden turun langsung. Beberapa kegiatan seremonial terkait program keselamatan di jalan paling tinggi dilakukan oleh Wakil Presiden Boediono seperti saat mencangkan Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan pada 2011 di Jakarta. Atau, pelaksanaan Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) yang dilakukan oleh menteri perhubungan.

Aksi nyata setelah seremonial menjadi lebih penting. Program kerja yang konkret dalam mengatasi masalah terenggutnya warga usia produktif, 17-50 tahun. Di sisi lain, aksi nyata juga dibarengi dengan sinergi yang solid diantara para pemangku kepentingan keselamatan jalan.

Sedangkan penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu menjadi racikan yang mujarab untuk memangkas potensi kecelakaan maupun fatalitasnya.

Kepolisian Republik Indonesia selalu mengatakan bahwa perilaku berkendara yang tidak tertib menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas jalan. Rasanya, jika penegakan hukum diterapkan seperti di atas sehingga ketertiban menjadi kian nyata, potensi kecelakaan pun bisa direduksi secara signifikan.

Sepak terjang para pemangku kepentingan yang fokus dan tersinergi bisa menopang pencapaian target penurunan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan seperti ditargetkan dalam RUNK Jalan. Indonesia berharap mampu memangkas hingga 50% fatalitas kecelakaan sepanjang rentang 2011-2020. Program yang dibalut dalam Dekade Aksi Keselamatan Jalan itu mesti kian bergulir dengan cepat. Terlebih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 4 tahun 2013 tertanggal 11 April 2013 tentang Program Keselamatan Jalan Presiden Republik Indonesia.

Inpres itu keluar setelah hampir empat tahun diterbitkannya Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang juga ditandatangani SBY. Atau, hampir dua tahun setelah pencanangan Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan, di Kantor Wakil Presiden Boediono, pada 20 Juni 2011.

Inpres itu menginstruksikan kepada 12 menteri, Kapolri, 33 gubernur, dan ratusan para bupati dan walikota. Mereka diminta lebih terkoordinasi dalam menjalankan program keselamatan jalan. Seluruh kegiatan yang dilakukan mereka mesti dilaporkan ke Presiden paling sedikit satu kali dalam satu tahun. Pelaporan dilakukan melalui Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Jurus menelorkan Inpres menjadi salah satu upaya negara melindungi warganya di jalan raya. Negara harus memberi rasa aman bagi warganya. Cukup sudah lebih dari 300 ribu jiwa tewas sepanjang 1992-2013. Cukup sudah sekitar setengah juta warga negara yang luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Pesta sudah selesai. Seremonial sudah ditutup, kini tinggal aksi nyata yang terkoordinasi. “Yang paling penting aksi nyata di lapangan untuk menurunkan kecelakaan,” ujar Fajar, salah seorang pemuda yang hadir dalam pencanangan Gernas Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 26 Januari 2014 15:22

    Semoga tidak menjadi seremoni belaka

  2. 27 Januari 2014 01:41

    apakah akan kaya yg udah2 :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: