Lanjut ke konten

Genangan Hilang, Lubang pun Datang

22 Januari 2014

jalan rusak gatsu januari 2014_1
Lubang di Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan jelang perempatan Kuningan, Jakarta. Foto diambil Selasa, 21 Januari 2014. (edo)

HUJAN yang bertubi-tubi mengguyur kota Jakarta membuat sebagian titik tenggelam pada minggu ketiga Januari 2014. Di tepian Sungai Ciliwung, seperti di Kampung Pulo, Jakarta Timur ketinggian air mencapai atap rumah.

Hujan lebat dan meluapnya sungai yang berhulu di kawasan Bogor, Jawa Barat membuat genangan dan banjir. Aparat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sibuk. Badan penanggulangan bencana, para sukarelawan, dan warga bahu membahu. Bahkan, ada partai politik yang ikut “nyemplung” di ajang banjir.

Mereka yang menderita tentu saja para warga yang tertimpa musibah banjir. Rumah mereka tenggelam. Ribuan warga mengungsi, bahkan 12 jiwa tewas terkena banjir. Jakarta meradang.

Kini, para pengguna jalan juga bukan hanya harus sabar menghadapi genangan dan kemacetan lalu lintas jalan. Sekalipun banjir belum benar-benar hilang, sejumlah jalan yang terkena genangan menyisakan cerita lain, yakni jalan berlubang. Sejumlah jalan di Jakarta terlihat bolong-bolong. Saya melihat tidak hanya di jalan pinggiran kota, di sejumlah jalan utama, seperti Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, mengalami hal serupa. Di Jl Gatot Subroto, Selasa (21/1/2014) siang ada lubang cukup lebar. Persis di dekat halte bus Trans Jakarta jelang perempatan Kuningan dari arah Pancoran, tidak hanya lubang besar, tapi juga sejumlah celah di permukaan aspal.

Waspada. Jangan terlalu percaya diri melibas genangan air yang ada disitu. Bisa-bisa terjerumus ke dalam lubang yang bisa berbuntut kecelakaan di jalan.

Selama ini, dari seluruh aspek-aspek di faktor jalan yang memicu kecelakaan, jalan berlubang menempati keempat terbesar. Sumbangan jalan berlubang pada faktor jalan mencapai sebesar 15,10%. Aspek utama adalah tikungan tajam 25,32% dan lalu posisi kedua marka rusak atau tak ada marka (15,74%), dan posisi ketiga jalan yang licin (15,42%). Sedangkan aspek yang kelima di faktor jalan pada 2011 adalah jalan rusak (11,18%).

Para penyelenggara jalan wajib memberi tanda jalan yang rusak selama belum diperbaiki. Lalu, sesegera mungkin memperbaiki jalan yang rusak tersebut. Maklum, jika jalan rusak ternyata menimbulkan kecelakaan, sang penyelenggara jalan bakal dikenai sanksi pidana penjara dan denda.

Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) bilang, jalan rusak yang mengakibatkan kecelakaan, menimbulkan korban luka ringan, bisa menyeret penyelenggara jalan dipenjara maksimal enam bulan atau denda maksimal Rp 12 juta.

Tapi, kalau kecelakaannya bikin korban luka berat, penyelenggara jalan bisa dipidana maksimal satu tahun atau denda maksimal Rp 24 juta.

Bahkan, jika bikin korban tewas sanksinya membesar jadi paling lama lima tahun penjara atau denda paling banyak Rp 120 juta.

Sedangkan, penyelenggara jalan yang tidak memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak dan belum diperbaiki bisa dipidana penjara maksimal 6 bulan atau denda maksimal Rp 1,5 juta. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 22 Januari 2014 00:14

    sama saja bahayanya….
    eh baru tahu kalau mbah edo ganti byson ūüėÄ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: