Lanjut ke konten

Pedestrian Bisa Bareng Pesepeda Kayuh

21 Januari 2014

trotoar dan mobil

PEDESTRIAN di sekeliling kita. Bahkan, kita semua termasuk di dalam kategori pedestrian. Bagaimana tidak, kita semua berjalan kaki, pembedanya hanya soal jarak. Ada yang hanya ratusan meter per hari, tapi ada yang berkilometer sehari.

Di jalan raya, pedestrian mesti mendapat tempat yang layak. Menjauh dari risiko tertabrak kendaraan bermotor. Karena itu, Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pemerintah menyediakan fasilitas bagi pedestrian. Alasannya cukup kuat, pedestrian amat rentan ketimpa kecelakaan lalu lintas jalan.

Gak percaya? Simak saja laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’. Laporan ini menyebutkan bahwa di dunia, tiap hari, rata-rata 747 pejalan kaki tewas akibat kecelakaan di jalan. Pedestrian tergolong kelompok yang rentan kecelakaan.

Tunggu dulu, pedestrian tak sendirian. Mereka yang juga masuk kategori rentan kecelakaan salah satunya adalah pesepeda kayuh. Data WHO menyebutkan, di seluruh dunia, tiap hari, 169 pesepeda kayuh tewas akibat kecelakaan di jalan. Miris.

Indonesia punya undang undang yang melindungi para pedestrian dan pesepeda kayuh. Kini, setelah UU No 22/2009 tentang LLAJ ditelorkan pada 2009, Indonesia punya aturan turunannya, yakni Peraturan Pemerintah (PP) No 79 tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan yang diterbitkan pada 10 Desember 2013 itu merinci regulasi di atasnya. Salah satu aspek yang dijabarkan adalah perlindungan para pedestrian dari segi infrastruktur jalan. PP ini menggantikan PP No 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.

Kembali soal aturan baru dalam PP 79 tahun 2013. Dalam pasal 54 disebutkan bahwa jalan harus dilengkapi dengan fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat. Nah, fasilitas untuk sepeda itu berupa lajur dan/atau jalur sepeda yang disediakan secara khusus untuk pesepeda. Lajur pesepeda dapat terpisah dengan badan jalan atau berada pada badan jalan. Untuk lajur sepeda pada badan jalan dipisahkan secara fisik dan/atau marka. Terpenting, lajur sepeda harus memenuhi persyaratan keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan ruang bebas gerak individu, serta kelancaran lalu lintas.

Oh ya, lajur bagi pesepeda ini juga bisa digunakan bersama-sama dengan pejalan kaki. Begitu juga dengan tempat penyeberangan pejalan kaki dapat digunakan tempat penyeberangan pesepeda apabila tidak tersedia tempat penyeberangan pesepeda.

Lantas, fasilitas pejalan kaki merupakan fasilitas yang disediakan secara khusus untuk pejalan kaki dan/atau dapat digunakan bersama-sama dengan pesepeda. Sedangkan fasilitas penyandang cacat merupakan fasilitas khusus yang disediakan untuk penyandang cacat pada perlengkapan jalan tertentu sesuai pertimbangan teknis dan kebutuhan pengguna jalan.

Lalu, fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat harus dilengkapi dengan paling sedikit rambu lalu lintas yang diberi tanda-tanda khusus untuk penyandang cacat. Kemudian, marka jalan yang diberi tanda-tanda khusus untuk penyandang cacat. Serta, alat pemberi isyarat lalu lintas yang diberi tanda-tanda khusus untuk penyandang cacat dan alat penerangan jalan.

Sementara itu, fasilitas pejalan kaki meliputi pertama, tempat penyeberangan yang dinyatakan dengan marka jalan, rambu lalu lintas, dan/atau alat pemberi isyarat lalu lintas. Kedua, trotoar. Fasilitas trotoar harus disediakan pada ruas jalan di sekitar pusat kegiatan. Ketiga, jembatan penyeberangan, dan keempat, terowongan penyeberangan.

Selain mengatur soal infrastruktur bagi pedestrian, aturan yang dibuat pemerintah juga mengatur tentang perlindungan keselamatan bagi pedestrian. Dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ disebutkan para pengendara kendaraan bermotor harus memperlambat kendaraannya jika melihat dan mengetahui ada pejalan kaki yang akan menyeberang. Hal itu karena pejalan kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang jalan di tempat penyeberangan.

Selain itu, pejalan kaki juga wajib berjalan di lajur yang diperuntukan bagi pejalan kaki atau jalan yang paling tepi. Kemudian jika menyeberang wajib di tempat yang telah ditentukan. Jika tidak terdapat tempat penyeberangan pejalan kaki wajib memperhatikan keselamatan dan kelancaran lalu lintas.

Oh ya, UU No 22/2009 tentang LLAJ juga bilang bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda bisa kena pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu. Tapi, ceritanya jadi lain kalau ternyata pengendara kendaraan bermotor menabrak pejalan kaki hingga menimbulkan korban luka atau meninggal dunia. Sanksinya bisa lebih berat lagi. Ingat kasus Tugu Tani di Jakarta, tahun 2013? Sanksinya bisa dipidana penjara maksimal 15 tahun.

Nah, risikonya sudah di depan mata, di tabrak atau menabrak saat di jalan raya. Karena itu, sudah sepatutnya para pedestrian lebih waspada. Apalagi para pengguna kendaraan bermotor, mesti lebih peduli karena semua pengguna jalan punya hak yang sama demi keselamatan bersama. Setuju? (edo rusyanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: