Lanjut ke konten

Sudah Tabrakan, Disidang Pula di Pengadilan

20 Januari 2014

laka motor ketimpa truk

NOVI Amalia bisa sedikit lega. Majelis hakim yang menyidangkan kasusnya memutuskan hukum percobaan enam bulan. Artinya, wanita muda berparas ayu ini tak mesti mendekam di balik jeruji besi. (tribunnews.com, 7 Januari 2013)
Lain Novi, lain lagi dengan Suryanto. Pria berusia 59 tahun ini meradang karena divonis hukuman lima tahun plus denda Rp 2 juta oleh Pengadilan Negeri Banyumas , Jawa Tengah, pada Kamis, 5 Desember 2012. (radarbanyumas.co.id, 6 Desember 2012)

Jika yang pertama adalah wanita dengan profesi model, yang kedua adalah hanya sopir bus. Apesnya, sang pria saat mengemudikan bus terlibat kecelakaan lalu lintas jalan yang menewaskan 15 jiwa dan belasan lainnya luka-luka pada Sabtu, 10 Agustus 2012. Sedangkan Novi menabrak sejumlah pejalan kaki sehingga menimbulkan korban luka-luka di daerah Tamansari, Jakarta Barat, pada 11 Oktober 2012.

Bila Novi membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk menerima vonis dari hakim, Suryanto membutuhkan waktu lima bulan sejak kejadian hingga divonis. Bedanya, sang sopir bus itu harus menderita luka patah tangan kanan, sedangkan Novi tidak mengalami cedera serius.

Ya. Kasus Novi dan Suryanto adalah dua kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang berujung ke meja hijau. Indonesia punya catatan punya catatan kasus lainnya, yakni kasus Lanjar Sriyanto yang kehilangan isterinya akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Kasus Lanjar bermula pada 21 September 2009, hari kedua Lebaran. Saat itu, dia memboncengkan Saptaningsih, istrinya, dan Samto Warih Waluyo, anak tunggalnya. Singkat cerita, Lanjar menabrak mobil. Saat itu, sepeda motor Lanjar terjatuh dan isterinya tewas.

Lima bulan kemudian, pada Kamis, 25 Februari 2010, di Pengadilan Negeri (PN) Karanganyar, Jateng, Lanjar dituntut penjara satu bulan tujuh hari. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eko Kuntadi menilai, saat kejadian Lanjar lalai karena di tengah keramaian mengemudikan sepeda motor tanpa mengurangi kecepatan dan bahkan berjalan zig-zag.
Namun, pada sidang sebulan setelah tuntutan JPU, Majelis Hakim PN Karanganyar, pada Kamis, 4 Maret 2010, membebaskan Lanjar Sriyanto. Lanjar yang dijerat pasal 359 dan 360 ayat 2 Kitab Undang Hukum Pidana (KUHP), dalam penilaian majelis hakim, tidak bisa dijatuhkan hukuman karena ada alasan pemaaf atas kesalahannya. Lanjar tidak bisa dipersalahkan atas kejadian menabrak mobil. Saat itu, sepeda motor Lanjar terjatuh. Hakim menilai, tabrakan itu dalam keadaan memaksa karena tidak bisa dihindarkan. Kondisi itu disebut sebagai keadaan yang memaksa sehingga ada alasan pemaaf atas tindakannya. Setelah divonis satu bulan tujuh hari, Lanjar mengajukan banding, bahkan membawa kasusnya hingga ke Mahkamah Agung. Perjuangan mencari keadilan tersebut berujung pada putusan Mahkamah Agung yang mengganjar hukuman percobaan dua bulan dan empat belas hari. (solopos.com, 12 Desember 2011)

Perundangan yang berlaku di Tanah Air kita membidik para pelaku kecelakaan lalu lintas jalan dengan sejumlah sanksi penjara dan denda. Simak saja Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 310 (1) yang menyebutkan, pengemudi yang lalai lalu mengakibatkan kecelakaan dan timbulkan kerusakan kendaraan/barang bisa kena sanksi penjara paling lama enam bulan dan/atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Namun, jika lalai dan menimbulkan kecelakaan hingga korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang sanksinya ada juga, yaitu penjara paling lama satu tahun dan/atau denda paling banyak Rp 2 juta.

Sedangkan, jika akibat kelalaian pengemudi dan menimbulkan kecelakaan dengan korban luka berat, penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10 juta. Lalu, kalau bikin orang lain meninggal dunia, penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Tapi, di pasal 311 Undang Undang yang sama, jika sengaja mengemudikan kendaraan yg membahayakan nyawa/barang, penjara maksimal satu tahun/ denda maksimal Rp 3 juta. Kalau kecelakaan menimbulkan kerusakan kendaraan dan/atau barang, penjara maksimal dua tahun atau denda maks Rp 4 juta. Jika kecelakaan membuat korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang, penjara maksimal empat tahun atau denda maksimal Rp 8 juta. Lalu, jika bikin kecelakaan dengan korban luka berat, penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp 20 juta. Sedangkan kecelakaan yang bikin orang meninggal dunia, penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta. (edo rusyanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: