Lanjut ke konten

Guru, Digugu dan Ditiru

25 November 2013
tags:

IMG-20131031-02236

INDONESIA butuh figur teladan. Sosok guru, yakni sosok yang digugu dan ditiru menjadi amat strategis. Di bahu guru menggelayut peran penularan norma dan nilai kebaikan. Besar harapan banyak pihak agar pembentukan kepribadian berjalan mulus dari guru ke anak didi.

Tak heran jika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh berharap mampu
menghasilkan guru yang mampu mengembangkan kemampuannya secara mandiri. Selain itu, mampu sebagai sumber inspirasi dan keteladanan, kreatif, inovatif, dan menegakkan kode etik guru
sebagai profesi.

Selaku sumber inspirasi dan keteladanan, sosok guru amat strategis dalam penularan kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Langkah itu bisa dimulai dengan hal yang dianggap sepele, misal, memakai helm saat bersepeda motor ke kantor. Ingat, sosok guru, digugu dan ditiru.

Korlantas Polri menyebutkan, tiap hari, pada 2012, di Indonesia, rata-rata 17 anak di bawah umur menjadi pelaku terjadinya kecelakaan di jalan. Siapa bertanggung jawab?
Kalau sebagai korban kecelakaan, tiap hari, rata-rata ada 152 anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan di jalan.
Nah, kalau anak2 remaja/muda berusia 16-25 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan, tiap hari rata-rata ada 92 orang. Sebagian dari mereka itu, yakni rata-rata tiap hari sebanyak 50 pelajar menjadi pelaku kecelakaan di Indonesia.
Sedangkan dari kalangan mahasiswa yang menjadi pelaku kecelakaan pada 2012, rata-rata sebanyak 17 orang. Jika para pelajar yang menjadi pelaku kecelakaan naik 28% pada 2012, kalangan mahasiswa naik 19%.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh menyebutkan, dalam struktur penduduk Indonesia pada 2010, terdapat 46 juta anak usia 0 sampai 9 tahun dan 44 juta anak usia 10 sampai 19 tahun. Pada 2045, kata Menteri, mereka akan berusia 35 sampai 44 tahun dan 45 sampai 55 tahun. Merekalah yang akan memimpin dan mengelola bangsa dan negara yang kita cintai ini.

“Mereka harus kita bekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan zamannya. Mereka harus memiliki kemampuan berpikir orde tinggi, kreatif, inovatif, berkepribadian mulia, dan cinta pada tanah air, serta bangga menjadi orang Indonesia, sebagaimana yang digagas dalam Kurikulum 2013,” kata Menteri dalam sambutan Hari Guru, Senin, 25 November 2013.

Karena itu, suatu langkah mulia jika membentengi anak-anak negeri dengan kesadaran berlalu lintas yang aman dan selamat. Negara harus tegas dalam menyelamatkan anak-anak dari potensi kecelakaan di jalan raya. Rasanya amat penting untuk menanamkan perilaku beradab di jalan raya. Kesemua itu bisa dimulai dengan memberi keteladanan kepada anak-anak didik. Selamat hari guru. (edo rusyanto)

4 Komentar leave one →
  1. 26 November 2013 01:08

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  2. 26 November 2013 14:31

    Setuju banget. Guru harus jadi teladan baik, termasuk dalam berlalu-lintas, dan dalam setiap hal yg juga dianggap sepele padahal penting. (Ada yg dianggap lebih sepele daripada memakai helm, yaitu: memasang dengan benar tali helm) Di kota tetangga saya, ada SMP yg melarang siswa-siswinya pakai kendaraan bermotor ke sekolah.

  3. modus permalink
    27 November 2013 06:38

    please deh, kalo berita kaya gini itu sm aja mojokin guru. emangnya siswa ga punya orang tua apa? yang ngasih motor dsb kn orangtuanya, bukan guru. jd peran pendidik bukan cuma guru aja, tapi diluar sekolah masih 95% tanggung jawab orang tua.

Trackbacks

  1. Guru, Digugu dan Ditiru - Usum News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: