Lanjut ke konten

Solusi Sekaligus Petaka?

15 November 2013

kompas edisi 11 nov 2013

ADA artikel yang menggelitik di harian Kompas, edisi Senin, 11 November 2013. Artikel berjudul ‘Sepeda Motor, Solusi Sekaligus Petaka’ memperlihatkan bahwa di balik faedah, ada risiko yang dipikul. Karena itu, menjadi logis jika kita mesti mengenali risiko dan mencari solusi agar terhindar dari risiko tersebut.

Oh ya, edisi cetak koran Kompas juga disadur dalam edisi online-nya dengan judul ‘Motor, Solusi Macet Sekaligus Petaka.’

Kompas menulis bahwa sepeda motor menjadi solusi sekaligus ancaman di jalan raya, terlebih di kota besar yang kerap dilanda kemacetan. Tidak heran, banyak orang memilih memakai sepeda motor meskipun mereka tahu risiko besar di jalan, mulai dari kecelakaan, luka, sampai kematian. Di Jakarta, keinginan untuk cepat sampai tujuan kerap berujung kecelakaan.

Fakta memperlihatkan bahwa di Indonesia, pada 2012, sepeda motor masih berkontribusi sekitar 64% dari total kendaraan yang terlibat kecelakaan. Buntutnya, tingkat fatalitas yang dipikul pesepeda motor menjadi cukup tinggi. Terbukti, dari total 80-an orang yang tewas per hari akibat kecelakaan, sekitar 30-an adalah dari kalangan pesepeda motor.

Ironisnya, kecelakaan lalu lintas jalan kerap kali diawali dengan pelanggaran aturan di jalan. Kompas menulis, Kecelakaan lalu lintas banyak yang diawali dengan pelanggaran aturan atau rambu. Begitu juga kecelakaan yang menimpa pengendara sepeda motor.
Data dari Korlantas Polri, jumlah kecelakaan yang melibatkan sepeda motor pada tahun 2011 mencapai 120.226 kejadian atau 72 persen dari total kecelakaan pada tahun itu. Banyaknya kecelakaan berkaitan dengan tingginya pelanggaran yang dilakukan pengguna sepeda motor, yakni 60 persen atau lebih dari 3,56 juta pelanggaran sepanjang tahun 2011. Tahun 2012, jumlah pengendara sepeda motor yang melakukan pelanggaran mencapai 74,09 persen atau 3,2 juta pelanggaran. Artinya, setiap jam terjadi 360 pelanggaran.

Rasanya menjadi mutlak bagi kita para pesepeda motor agar lebih fokus dan waspada. Sudi berbagi dan toleran, termasuk mengikuti aturan yang ada. Kesemua itu untuk menangkis kemungkinan risiko yang menghantui para penunggang kuda besi. Maklum, si roda dua lebih ringkih ketimpa kecelakaan lalu lintas jalan ketimbang roda empat atau lebih. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    15 November 2013 16:28

    wah

  2. 15 November 2013 16:45

    kenapa tidak memberikan solusi transportasi masal yang nyaman murah aman ya???

  3. 16 November 2013 03:32

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: