Lanjut ke konten

Sumpah Keselamatan Jalan

28 Oktober 2013

Bertanah Air Satu,
Tanah Air Tanpa Petaka di Jalan Raya

Berbangsa Satu,
Bangsa Tanpa Arogansi di Jalan Raya

Berbahasa Satu,
Bahasa Tanpa Diskriminasi di Jalan Raya

DELAPAN puluh lima tahun lalu anak-anak muda merapatkan barisan. Bergandengan tangan menyerukan satu pandangan, Indonesia Raya.

Selang tujuh belas tahun setelah ‘Soempah Pemoeda’, di kota yang sama, yakni Jakarta, anak bangsa mengepalkan tangan. Meninju kepongahan kolonialisme, mendobrak penindasan lewat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Semangat Soempah Pemoeda, yakni menyatu dengan tetap mengusung keberagaman, ditorehkan dalam lambang negara, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Esensi yang mencuat pada 1928 dan 1945 nyaris sama, melawan penindasan dan menjadi bangsa yang berdaulat. Bangsa yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan untuk hidup sejahtera tanpa penindasan di semua lini kehidupan.

mudik2_fajar
Hari ini, tepat delapan puluh lima tahun lalu, fakta mengajarkan kita soal persatuan. Keutuhan Indonesia Raya banyak melewati ujian. Bahkan, masih tersisa sejumlah penindasan. Si kuat pongah pada si lemah.

Jalan raya perkotaan menjadi etalase. Penindasan terus terjadi. Si kuat, pesepeda motor menindas si lemah pejalan kaki dengan merampas zebra cross dan menjarah trotoar jalan. Si kuat, para pemobil menjarah lajur bahu jalan. Bahkan, si kuat pengemudi angkutan umum menindas penumpangnya dengan memutar balik arah dan memindahkan penumpangnya demi ego pribadi.

Tiap tahun, jutaan pelanggaran terus terjadi di jalan raya. Buah pahitnya harus dipetik, bergelimpangnya puluhan ribu anak bangsa akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Ratusan ribu lainnya menderita luka-luka. Sepanjang Januari-Agustus 2013, jumlah korban dari kalangan anak muda, yakni 16-40 tahun, mencapai hampir 47 ribu orang. Korban tersebut menderita luka hingga tewas. Korban dari kalangan usia muda menyumbang 41% terhadap total korban kecelakaan tersebut.

Polisi pun membuat stempel, kecelakaan kerap kali diawali pelanggaran aturan di jalan.

Mestikah semua berdiam diri? Tak adakah tekad mengenyahkan penindasan yang berbuah kecelakaan dari bumi Pertiwi?

Sumpah diawal tulisan ini mencoba membuka mata nurani kita. Sudah sepatutnya kita bersumpah dan berbuat untuk membebaskan jalan raya dari petaka. Kecelakaan berdampak menyakitkan, tak semata hilangnya jiwa raga anak bangsa. Kerugian ekonomi yang dipikul pun mencapai Rp 200 triliun per tahun. Selamat Sumpah Pemuda. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 1 November 2013 01:47

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: