Lanjut ke konten

Ada Rp 43 Triliun Buat Jalan Berkeselamatan

24 Oktober 2013

banjir 2013 kuningan

ADA sebersit kemauan yang bisa menjadi angin segar. Penyelenggara jalan mengaku mau sungguh-sungguh berkonsentrasi mewujudkan infrastruktur jalan yang aman dan selamat.

Sang penanggung jawab jalan nasional, Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) juga mengaku mau bersinergi dengan pemerintah daerah. Sementara itu, anggaran untuk pengembangan jalan dan jembatan tahun 2014 sebesar Rp 43 triliun, naik dari Rp 37 triliun pada 2013.

Hal tersebut mencuat dalam Konferensi Regional Teknik Jalan ke-12, di Bandung, Selasa (22/10/2013) pagi. Konferensi di Hotel Grand Royal Panghegar itu mengangkat tema ‘Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Jalan Berbasis Keselamatan dan Lingkungan.’

“Untuk menyediakan jalan yang berkeselamatan, penyelenggara jalan wajjib melaksanakan uji laik fungsi jalan,”
ujar Djoko Kirmanto, menteri pekerjaan umum dalam sambutannya yang dibacakan Hermanto Dardak, wakil menteri PU, Selasa pagi.

Menteri PU menegaskan, Indonesia memiliki masalah serius terkait keselamatan jalan. Menyitir data Kepolisian RI, pada 2012, terdapat hampir 120 ribu kejadian kecelakaan lalu lintas jalan. Ironisnya, jumlah korban meninggal dunia hampir 30 ribu jiwa yang mayoritas adalah usia produktif, yakni 26-40 tahun.
Tahun 2012, sebanyak 24% kecelakaan terjadi di jalan nasional, 31% jalan nasional, dan 45% kasus terjadi di jalan kabupaten dan jalan desa. “Secara nasional, kerugian ekonomi diprediksi 2,9% dari PDB atau sekitar Rp 200 triliun per tahun,” tambah Djoko Kirmanto.

Menurut Hermanto Dardak, sekalipun ada faktor lain, kecelakaan lalu lintas juga pasti terkait dengan kondisi jalan. Karena itu, ada beban yang dipikul para pembangun jalan atas kecelakaan yang merenggut korban jiwa. “Mereka meningggal karena masih kurangnya tingkat pelayanan kita pembangun jalan,” sergahnya.

Peran penyelenggara jalan, khususnya Kemen PU sangat strategis dalam mewujudkan keselamatan jalan. Wamen PU menyebutkan, peran itu ditegaskan dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan yang memiliki lima pilar, yakni manajemen keselamatan jalan dan jalan yang berkeselamatan. Selain itu, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan, dan penanganan medis setelah terjadinya kecelakaan.

Sedangkan di dalam Inpres No 4 tahun 2013 ditegaskan, Kemen PU adalah koordinator Pilar Kedua, yaitu jalan yang berkeselamatan. Pilar tersebut memuat tujuh program yang terdiri atas, pertama, badan jalan yang berkeselamatan. Kedua, perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan jalan yang berkeselamatan. Lalu, ketiga, perencanaan dan pelaksanaan perlengkapan jalan. Keempat, penerapan manajemen kecepatan dan kelima, peningkatan standar kelaikan jalan yang berkeselamatan.

Selain itu, keenam, lingkungan jalan yang berkeselamatan dan ketujuh, kegiatan tepi jalan yang berkeselamatan. “Karena itu, pedestrian mesti menjadi sangat penting untuk mendapat perhatian Kemen PU sebagai wujud jalan berkeselamatan,” ujar Hermanto Dardak.

Rp 43 Triliun

Sementara itu, Dirjen Binamarga Kemen PU Djoko Wuryanto menjelaskan, saat ini, pihaknya fokus pada pengembangan jalan yang berkeselamatan. Mulai dari preservasi jalan, peningkatan kualitas, hingga pembangunan jalan baru.

“Tren ke depan adalah soal keselamatan jalan. Saat ini, kami berkonsentrasi mewujudkan jalan yang mantap dan berkeselamattan jalan,” ujar dia, saat berbincang dengan saya, di Panghegar, Selasa pagi.

Langkah yang dilakukan, tambahnya, dengan mengidentifikasi kawasan blackspot, yakni jalan yang kerap terjadi kecelakaan. Pengidentifikasian bekerja sama dengan instansi lain seperti Komite Nasional Keselamatan Jalan (KNKT) dan kementerian perhubungan. “Kegiatan ini dilakukan rutin, bahkan menggandeng pemda,” katanya.

Dirjen menyebutkan, anggaran untuk jalan dan jembatan pada 2014 ditingkatkan menjadi Rp 43 triliun dari semula Rp 37 triliun pada 2013. Penggunaan anggaran tersebut mencakup untuk preservasi jalan, peningkatan kualitas, dan pembanggunan jalan baru. “Tentu, termasuk untuk mewujudkan jalan yang berkeselamatan,” ujarnya.

Djoko Wuryanto menambahkan, pada 2013, dari Rp 37 triliun, hanya Rp 6 triliun yang untuk preservasi jalan. Selebihnya dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas dan pembangunan jalan.

Menyinggung kondisi jalan nasional, Djoko menjelaskan, saat ini, kondisi jalan yang berstatus mantap sudah mencapai 93%. Dia optimistis, hingga akhir 2013 bakal mencapai 93,2% dari 38 ribu kilometer jalan nasional. Bahkan, katanya, Kemen PU yakin mampu mewujudkan target 2014 yang mensyaratkan jalan yang mantap sebesar 94%.

“Dari jalan yang berstatus mantap, sebagian baik dan sedang. Masih ada lubang-lubang sedikit,” kata dia.

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, dalam sambutan di konferensi tersebut menegaskan bahwa pemerintah pusat dan pemda perlu bersinergi untuk membangun jalan yang berkeselamatan.
“Apalagi kondisi jalan yang mantap di tingkat kabupaten kota di bawah 75%,” katanya.

Wajar dia berbicara begitu mengingat penduduk Jawa Barat bakal menjadi 52,7 juta jiwa pada 2025. Angka itu meningkat 8 juta jika dibandingkan tahun 2012. Karena itu, katanya, butuh transportasi yang andal. “Butuh solusi terpadu untuk transportasi jalan yang berkeselamatan,” seru Wakil Gubernur. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 24 Oktober 2013 16:27

    kemana menguapnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: