Lanjut ke konten

Setiap Dua Hari, Satu Tewas Akibat Tabrak Lari

18 Oktober 2013

sumber kencono tribunnewsjogja

KOTA Jakarta dan sekitarnya masih diwarnai dengan kasus tabrak lari. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, sepanjang Januari-Agustus 2013, tiap hari ada empat kasus tabrak lari yang menewaskan 116 orang.

Entah karena kesadaran tanggung jawab pengendara yang sudah meningkat, kasus tabrak lari di Jakarta anjlok pada periode itu. Tingkat kepedulian antara sesama pengguna jalan juga kemungkinan kian membesar. Bahkan, mungkin rasa bersalah akibat tindakan tabrak lari selalu menghantui sang pelaku kecelakaan.

Oh ya, per akhir Agustus 2013, kasus tabrak lari anjlok 19,68% jika dibandingkan periode sama 2012. Pada tahun lalu, rata-rata hampir enam kasus tabrak lari dalam sehari.

Bisa jadi juga kesadaran berkendara yang aman dan selamat sudah membaik pada delapan bulan 2013 jika dibandingkan periode sama 2012. Peningkatan kesadaran berkendara yang aman dan selamat memungkinkan terjadinya penurunan fatalitas dalam kasus tabrak lari.

Lihat saja, sepanjang Januari-Agustus 2013, sebanyak 25,49% dari korban total korban tewas akibat kecelakaan adalah korban tabrak lari. Saat itu, ada 116 korban tewas atau rata-rata hampir setiap dua hari sekali ada satu korban tewas akibat tabrak lari.

Nah, bila dibandingkan periode sama 2012, prosentase korban tewas tabrak lari menurun mengingat tahun itu kontribusinya sebesar 28,72%. Angka itu setara dengan rata-rata, dalam 1,3 hari ada satu korban tewas akibat tabrak lari.

Secara umum, korban tabrak lari turun 20,02% pada delapan bulan 2013 menjadi 1.126 orang. Korban tersebut mencakup korban tewas, luka berat, dan luka ringan. Sedangkan korban tewas akibat tabrak lari anjlok hingga 37,29%. hanya korban luka berat yang meningkat, yakni sebesar 5,26% menjadi 460 orang.

Saya jadi ingat pernyataan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Chrysnanda DL. Beliau bilang, tabrak lari termasuk kategori berat dalam kasus kecelakaan. Artinya, selain dikenai pidana atas kecelakaan yang terjadi, surat izin mengemudi (SIM) sang pelaku bisa dicabut.

Tabrak lari dan jenis kecelakaan lain tentu menyakitkan bagi para korbannya. Lantas, kenapa terjadi kasus tabrak lari? Bisa jadi karena sang penabrak takut dihakimi oleh masyarakat sekitar lokasi terjadinya kecelakaan. Atau, sang penabrak memang tidak memiliki rasa tanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya.

Nyaris tak ada orang yang mau tertimpa kasus kecelakaan. Bagi sang korban kecelakaan, situasinya menjadi lebih runyam manakala terlibat dalam tabrak lari. Ibarat kata, sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah menderita, tidak ada yang mau bertanggung jawab. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    18 Oktober 2013 07:51

    waduh

  2. 18 Oktober 2013 09:52

    hiks 😦

  3. 22 Oktober 2013 01:26

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: