Lanjut ke konten

Helm Full Face Cegah Gangguan Pandangan

11 Oktober 2013
motor hualien garis setop

motor hualien garis setop

PANDANGAN mata saat berkendara, khususnya saat menunggang sepeda motor, mesti bebas dan tak terganggu. Proses melihat ke arah depan dan kaca spion bagian dari menyerap informasi sebelum otak mengolah info tadi untuk selanjutnya diambil keputusan, langkah apa yang tepat. Mengerem atau menambah laju kecepatan. Pandangan yang lepas dan tidak terganggu tentu membantu kenyamanan dan keselamatan berkendara.

Pandangan pesepeda motor lebih mudah terusik dibandingkan para pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih. Para pesepeda motor berhadapan langsung dengan debu, asap knalpot, angin, dan benda asing.

Dokter spesialis mata yang juga Direktur Jakarta Eye Center Johan Hutauruk, dalam acara SOHO #BetterU, di Jakarta, Rabu (9/10/2013), mengatakan, mata merah dan ptergium merupakan gangguan mata yang dekat dengan para pengendara sepeda motor. Hal ini disebabkan kedua gangguan mata tersebut berasal dari asap, debu, angin, polusi dan benda asing. “Oleh karena itu, penggunaan helm full face yang tepat sangat dianjurkan untuk menghindari kontak langsung dengan mata,” kata dia, dalam publikasi yang disiarkan SOHO Group, baru-baru ini.
Tentu, kaca helmnya juga dalam kondisi bersih dari noda atau bercak yang menganggu pandangan mata. Kaca yang bersih dan bening mempermudah pandangan mata dalam menyerap informasi saat berkendara.

Helm full face atau jenis helm yang menutup seluruh wajah merupakan salah satu dari dua jenis helm yang masuk kategori Standard nasional Indonesia (SNI). Jenis lainnya adalah helm open face, yakni helm yang tidak memiliki kerangka untuk melindungi rahang pemakai helm.

Dia menjelaskan, mata merah adalah penyakit mata yang disebabkan karena adanya peradangan pada bola mata. Gejala yang timbul berupa mata merah, gatal, dan berair. “Untuk mengatasinya dapat menggunakan salep atau obat tetes atas petunjuk dokter,” jelas dia.

Sedangkan pterigium, ujarnya, merupakan penyakit mata yang disebabkan karena adanya pertumbuhan jaringan berbentuk segitiga di lapisan membran tipis bening (konjungtiva) di bagian putih mata. Hal ini disebabkan karena radiasi sinar ultraviolet, paparan matahari serta iritasi kronis yang berasal dari asap, debu, angin atau benda asing. “Ptergium ringan dapat diatasi dengan penggunaan obat tetes atas petunjuk dokter. Apabila ptergium sudah menyebabkan penglihatan menjadi buram, disarankan untuk melakukan operasi pengangkatan,” katanya.

Menurut Johan, mata merah dan pterigium merupakan dua dari lima penyakit mata yang sering terjadi di Indonesia. Tiga lainnya adalah kelainan refraksi, katarak, dan glaukoma. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 11 Oktober 2013 01:57

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  2. Aa Ikhwan permalink
    11 Oktober 2013 07:22

    kl cek mata,..dokternya selalu tanya sering naik motor ? :mrgreen:

  3. 18 Oktober 2013 09:54

    thanks mbah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: