Lanjut ke konten

Berkendara Saat Ngantuk Mengundang Maut

30 Juli 2013

Faktor manusia masih paling dominan dalam memicu kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Selain faktor manusia, ada faktor lain, yakni jalan, kendaraan, dan alam.

Lebih dari separuh kasus kecelakaan di Indonesia pada 2012 dipicu oleh faktor tersebut. Tahun lalu, tiap hari rata-rata terjadi 300-an kecelakaan yang merenggut rata-rata 80-an jiwa per hari.
Dari keseluruhan faktor manusia, salah satu aspeknya adalah mengantuk. Kondisi mengantuk saat berkendara juga memicu kecelakaan saat arus mudik dan balik Lebaran. “Saat mengantuk membuat seseorang tidak berkonsentrasi. Obat mengantuk hanya satu, yakni tidur,” ujar dokter Andreas Prasadja, sleep psyshician RS Mitra Kemayoran, dalam diskusi ‘Ngantuk Berkendara=Maut’ yang digelar Independent Bikers Club (IBC), di Jakarta, Senin (29/7/2013).

Selain Andreas Prasadja, pembicara dalam diskusi itu adalah Kasubdit Keamanan dan Keselamatan Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP (Pol) Irvan Prawira Satyaputra. Sedangkan dari kalangan industri adalah Hari Sasono, sekjen Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi).

AKBV Irvan mengimbau agar para pemudik tidak menggunakan sepeda motor untuk mengurangi fatalitas kecelakaan. Maklum, pada arus mudik tahun lalu, keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan mencapai sekitar 70%. Rasa kantuk berkendara, terlebih bersepeda motor, bisa merusak konsentrasi saat berkendara.

“Para pengendara kemungkinan bakal terserang kantuk saat memasuki wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah,” kata Dirlantas.

Mengantuk saat berkendara bisa memperlebar peluang kecelakaan lalu lintas jalan. Saat arus mudik tahun 2012, rata-rata sekitar 50-an jiwa tewas setiap hari. Belum lagi ratusan orang yang luka-luka per hari. Semua pihak punya tanggung jawab untuk memperkecil risiko terjadinya insiden di jalan.

“Kami para industri sepeda motor membantu dengan mudik bareng. Orangnya naik bus, sepeda motornya diangkut memakai truk,” kata Hari Sasono, sekjen Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi).

Para pabrikan juga menyediakan posko-posko untuk para pemudik beristirahat. Selain itu, mereka menyediakan posko atau bengkel siaga untuk menservis sepeda motor yang dipakai berkendara para pemudik.

Bagi saya, peran yang bisa dilakukan oleh publik adalah dengan mengedukasi sesama pengendara, seperti yang dilakukan IBC, Senin (29/7/2013).

IBC adalah klub sepeda motor yang didirkan di Jakarta, 30 Desember 2006. Sejak berdiri, kegiatan penyebaran kesadaran berkendara yang aman dan selamat dilakukan di segala lini. IBC memiliki program Safety Riding Goes to School yang masuk ke sekolah-sekolah menengah atas dan gerakan Save The Children untuk kalangan anak-anak. (edo rusyanto)

fokus berkendara, tanpa berponsel sambil berkendara

4 Komentar leave one →
  1. 30 Juli 2013 04:37

    Betul…! Pondium dulu

  2. Aa Ikhwan permalink
    30 Juli 2013 07:10

    ngeri memang

  3. 4 Agustus 2013 00:38

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: