Lanjut ke konten

Antara Terpaksa dan Ikhtiar

28 Juli 2013

KONDISI darurat alias force majeur kadang membuat seseorang bertindak di luar akal sehat. Lazimnya force majeur, hal itu di luar batas kemampuan manusia. Lantas apa hubungannya dengan bersepeda motor?

Begini. Coba lihat sekeliling kita. Banyak pengendara sepeda motor yang wara-wiri satu motor dengan tiga atau empat penumpang. Tentu, salah satu di antaranya adalah sang pengemudi alias pengendara yang mengendalikan si kuda besi.

Pemandangan yang mudah kita jumpai adalah, satu sepeda motor diisi oleh tiga anak remaja. Atau, terdiri atas, dua orang dewasa dan satu anak-anak. Bahkan, dua orang dewasa dan dua anak-anak. Mereka berhimpitan dengan dalih terpaksa. Entah terpaksa karena alasan ekonomi atau terpaksa lantaran tak ada alat transportasi lain.

Tak sedikit pemandangan tersebut dilengkapi dengan para penumpang yang tak memakai helm. Bahkan, dijejali dengan bawaan sejumlah barang. Makin himpit-himpitan deh.

Saat sang pengendara yang bertugas mengendalikan si roda dua kurang leluasa, bukan mustahil menjadi tidak sigap. Tidak lentur dalam berbelok atau mengantisipasi situasi dadakan. Ujung-ujungnya, bisa memperlebar ruang hadirnya sang jagal jalan raya.

Sepatutnya kita menjaga kenyamanan dalam mengendalikan sepeda motor. Sekalipun dalam kondisi nyaman sang petaka jalan raya bisa hadir sekonyong-konyong. Hanya saja, kesiapan dalam mengantisipasi situasi bisa berbeda-beda. Begitu juga dengan kemungkinan risiko fatalitas yang diderita.

Ikhtiar yang dilakukan tentu bertujuan membuat aman dan selamat saat berlalu lintas jalan. Bila sedari awal mengetahui bahwa apa yang dilakukan bisa berisiko memicu kecelakaan, patut dibilang kurang melakukan ikhtiar. Terlebih, regulasi yang berlaku di Indonesia saat ini, melarang bersepeda motor lebih dari dua orang.

Bagaimana jika dalam kondisi darurat? Itu lain cerita. Namanya juga darurat, ya penanganannya juga darurat. (edo rusyanto) fokus berkendara, tanpa berponsel sambil berkendara

3 Komentar leave one →
  1. b.indt permalink
    28 Juli 2013 18:58

    Bagaimana jika dalam kondisi darurat? Itu
    lain cerita. Namanya juga darurat, ya
    penanganannya juga darurat. (edo
    rusyanto) fokus berkendara, tanpa
    berponsel sambil berkendara
    sample penanganan darurat nya mana mbah?
    biar makin jelas

  2. 4 Agustus 2013 00:38

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Trackbacks

  1. Antara Terpaksa dan Ikhtiar - Usum News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: