Lanjut ke konten

Bincang Road Safety Bareng Hijaber

21 Juli 2013

SAAT diundang untuk hadir di workshop soal keselamatan jalan (road safety) di kalangan muslimah berjilbab, saya memilih untuk bersedia. Pengguna busana muslimah yang belakangan kondang disebut hijaber, kata Dewi, panitia yang mengundang saya, punya problem tersendiri saat bersepeda motor.

“Khususnya terkait soal pemakaian helm. Karena itu, kami mau mengundang Om Edo untuk jadi pembicara,” ujar dia, Kamis (13/7/20013).

Workshop itu merupakan rangkaian kegiatan bertajuk
‘Hijabspeakfest’ yang bertempat di FX Mall Senayan, Jakarta, 13-21 Juli 2013. Saya mendapat kesempatan pada Sabtu (20/7/2013) siang. Selain saya, ada Andry dari Yamaha Indonesia yang membahas aspek teknis safety riding.

Bagi saya, bertemu dan berdiskusi dengan para hijaber menjadi kesempatan penting. Tak semata menularkan soal tips berkendara yang aman dan selamat, melainkan bicara lebih jauh soal peran perempuan di domestik.

Perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan pentingnya perilaku berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Perempuan sebagai ibu bagi anak-anaknya, bisa menanamkan perilaku itu sejak dini. Selaku isteri, perempuan bisa mengingatkan dengan lembut sang suami tercinta untuk tidak ugal-ugalan. Mengingatkan sang suami agar selalu mengingat keluarga terkasih, sehingga berjuang untuk selalu selamat tiba kembali ke keluarga.

Kekuatan cinta yang ada di perempuan lebih dahyat dari bom atom. Kekuatan itu bisa mengguncang dunia. Kini, tergantung pemanfaatannya. Tak heran, jika surga ada di bawah telapak kaki ibu.

Muslimah sudah terbiasa untuk ikhtiar memproteksi hal berharga di dalam dirinya. Saat berhijab, mereka memproteksi dari potensi tindakan ‘liar’ lawan jenis mereka. Meredam naluri ‘liar’ tadi agar tak merugikan banyak pihak lewat pengumbaran syahwat.

“Bagaimana berhijab sekaligus memakai helm?” Tanya Anti, salah seorang peserta dari Depok, Jawa Barat.

Ada pilihan produk helm yang mengakomodasi para pemakai hijab. Namun, jika masih dirasa tidak nyaman, bisa menempuh cara berikut. Memakai jilbab biasa sehingga saat mengenakan helm tidak terlalu repot, lalu setiba di tujuan meluangkan waktu memakai hijab yang diperlukan. Atau, sekaligus tidak bersepeda motor, namun memakai kendaraan jenis lain, seperti transportasi publik.

Risiko berkendara di jalan bisa terjebak dalam dua hal, yakni menjadi subyek atau obyek kecelakaan. Langkah bijak adalah berbuat sekuat tenaga untuk memangkas potensi kecelakaan dan fatalitas yang mungkin terjadi. Ikhtiar di perlebar. Mulai dari hal kecil, dari diri kita sendiri, dan mulai sekarang.

Sekitar satu jam bertukar pikiran, workshop-pun ditutup oleh Dewi yang menjadi moderator. Hujan turun deras di luar sana. Di bagian lain mal para pecinta klub sepakbola asal Inggris, Liverpool, memadati bagian lobby. Mereka menunggu waktu untuk menuju Gelora Bung Karno. Sabtu malam, Liverpool bertanding dengan kesebelasan ‘Indonesia Sebelas’ yang belakangan berakhir 2-0 untuk liverpool. Hujan rintik-rintik saat saya melenggang meninggalkan FX Mall. (edo rusyanto)

Foto: Citra
fokus berkendara, tanpa berponsel sambil berkendara

2 Komentar leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    22 Juli 2013 06:59

    ajib eyang 😀

  2. Farrel permalink
    28 Juli 2013 14:37

    ciee Om Edo., 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: