Lanjut ke konten

Melorot, Prosentase Pengemudi yang Layak

10 Juli 2013

suara pembaruan transportasi mei 2013

TERLALU tinggi risiko yang dipikul jika para pengemudi angkutan umum dalam kondisi tidak layak mengemudi tapi masih diperbolehkan membawa kendaraan. Nyawa para penumpang dan sang pengemudi itu sendiri dipertaruhkan.

Kementerian kesehatan (kemenkes) pada 2012 menemukan fakta cukup mengejutkan. Terjadi lonjakan jumlah sopir angkutan umum yang tidak layak mengemudi. Fakta itu mencuat saat kemenkes menggelar pengujian bagi sopir angkutan mudik Lebaran. Unsur utama yang diuji kemenkes adalah kadar alkohol dan amfetamin pada diri sang sopir.

Pada 2012, kemenkes melakukan pengujian kepada 2.065 sopir. Hasilnya, 10% masuk kategori tidak layak mengemudi. Padahal, setahun sebelumnya, saat menguji 711 orang, mereka yang masuk kategori tidak layak mengemudik sebesar 4%. Sebaliknya, yang masuk kategori layak mengemudi melorot dari 84% menjadi 64%. Sedangkan sopir yang masuk kategori layak dengan catatan sebanyak 26% atau melonjak drastis jika dibandingkan tahun 2011 yang masih sebesar 12%.

Menurut kemenkes, defenisi Layak Mengemudi adalah jika tekanan darah sang sopir dalam kondisi normal atau hipertensi ringan. Sedangkan kandungan alkohol dan amfetamin di dalam darah keduanya negatif.

Lalu, mereka yang Layak Mengemudi dengan catatan adalah jika tekanan darahnya memiliki hipertensi sedang. Untuk kandungan alkohol dan amfetaminnya negatif. Pengemudi yang masuk kategori ini diharuskan berobat di klinik terminal.

Nah, yang repot adalah mereka yang masuk kategori Tidak Layak Mengemudi. Mereka adalah yang memiliki tekanan darah hipertensi berat. Atau, hasil pemeriksaan kandungan alkohol dan amfetaminnya menunjukan hasil positif.
Kemenkes merekomendasikan agar pengemudi seperti ini diganti oleh pengemudi cadangan dan yang bersangkutan wajib berobat di klinik terminal. Lalu, pengemudi dapat kembali mengemudi bila pada pemeriksaan berikutnya diperoleh hasil Layak Mengemudi.

Bagaimana kondisi tahun ini? Kita lihat saja nanti. (edo rusyanto)

7 Komentar leave one →
  1. 10 Juli 2013 20:25

    berduka ūüė¶

  2. 10 Juli 2013 21:39

    wah wah ,,,,,, merawaskan bro ,,,,,kondisinya

  3. kurniawan permalink
    10 Juli 2013 21:54

    Saya rasa sepertinya sangat banyak sekali pengendara sepeda motor yang tidak layak ketimbang pengemudi angkutan umum. Seperti misalnya dalam kehidupan sehari2 sangat banyak pengendara sepeda motor yg tidak mentaati peraturan lalu lintas lalu disaat mudik jg masih banyak pemudik sepeda motor yg bertiga atau berempat bahkan tidak sedikit yg tahu ttg keselamatan.
    Saran saya untuk Bung Edo Rusyanto, tolong jangan hanya memihak kepada pengemudi sepeda motor tp cobalah anda untuk bisa netral dan adil dlm menyikapi thd para pengendara motor, mobil, bus, truck dan angkutan umum.
    Yg saya tahu knp pengendara motor apabila ditegur krn salah selalu tidak pernah mau merasa bersalah atau selalu merasa paling benar saat dijalan?? Apakah hal ini pantas utk dipertahankan krn salah menjadi benar??

  4. 21 Juli 2013 04:45

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Trackbacks

  1. Prosentase Pengemudi Layak Alami Penurunan - Usum News
  2. Prosentase Pengemudi Layak Alami Penurunan | gusdya.comgusdya.com
  3. USUMedia News | Prosentase Pengemudi Layak Alami Penurunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: