Lanjut ke konten

Lebih dari 70% Korban Kecelakaan Adalah Pesepeda Motor

10 Juni 2013
img 20130328 wa0002

img 20130328 wa0002

BELAKANGAN kita mendengar banyak pesepeda motor menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan. Mereka bergelimpangan di jalan raya, mulai dari luka ringan, luka berat, hingga meninggal dunia. Ada yang menjadi subyek, tapi tak sedikit juga yang menjadi obyek kecelakaan.

Bagaimana kondisi di Jakarta dan sekitarnya? Mari kita tengok data tiga tahun terakhir yang dilansir Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya (Ditlantas Polda Metro) berikut ini.

Pada 2010, korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta dan sekitarnya mencapai sebanyak 745 jiwa. Angka itu setara dengan dua orang per hari. Pada tahun itu, total korban kecelakaan yang tewas mencapai sekitar 1.063 jiwa. Artinya, pesepeda motor berkontribusi sekitar 70,08% terhadap total korban tewas akibat kecelakaan di jalan.

Para penunggang kuda besi terus bergelimpangan. Pada 2011, mereka yang tewas akibat kecelakaan naik 7,38% menjadi 800 jiwa. Angka itu setara dengan 79,60% dari total korban tewas akibat kecelakaan di Jakarta dan sekitarnya.

Nah, setahun kemudian, persisnya pada 2012, para pesepeda motor yang tewas di jalan raya menurun sekitar 16,62% menjadi 667 jiwa. Namun, angka itu tetap tinggi, yakni setara dengan 73,14% dari total jumlah korban tewas.

Selain pesepeda motor, mereka yang tewas akibat kecelakaan di jalan adalah para pengendara mobil pribadi, pengguna angkutan umum, pesepeda kayuh, hingga para pejalan kaki. Jumlah mereka jika ditotal memang jauh lebih kecil dibandingkan pesepeda motor yang berkontribusi lebih dari 70%.

Kenapa tiap hari harus ada dua pesepeda motor yang tewas di jalan-jalan Jakarta dan sekitarnya?

Sepeda motor lebih ringkih dibandingkan roda empat. Sebagai kendaraan roda dua, praktis sepeda motor lebih mudah tergelincir atau terjatuh. Di sisi lain, sang penunggang lebih rentan menderita celaka dibandingkan pengguna mobil yang terlindungi oleh kerangka besi kendaraan.

Karena itu, selain dituntut memiliki ketrampilan berkendara yang memadai, sang penunggang sepeda motor juga perlu mengenali risiko yang ada. Pemahaman atas risiko dan dibarengi dengan solusi menghindarinya, bisa meminimalisasi fatalitas akibat kecelakaan di jalan.

Pesepeda motor mesti senantiasa menerapkan jurus berkendara yang aman dan selamat. Tak melulu mesti trampil, juga mengikuti aturan dan berperilaku yang sudi berbagi ruas jalan. Namun, kunci utama tetap pada kemampuan menjaga konsentrasi dan terus waspada saat berkendara. (edo rusyanto)

5 Komentar leave one →
  1. 10 Juni 2013 20:36

    semoga berbenah 😦

  2. 10 Juni 2013 20:42

    Hidup astra…!!

  3. Farrel permalink
    10 Juni 2013 22:24

    Sptkt orang2, mobil klo kecelakaan ada bemper sm bodi yg melindungi, motor klo kecelakaan kena pengendarany langsung. Betul kan?

  4. kurniawan permalink
    11 Juni 2013 00:15

    Sudah jelas banyak pengendara motor yg jadi korban kecelakaan tp masih banyak jg Bikers yg masih sok2 an, Egois dan Arogan dijalanan. Keliatannya memang sangat susah utk buat Bikers jd tertib agar tdk ada korban tp ya mau bgm lg…. Disuruh tertib rapi malah Bikers nya yg marah2 klo sudah kejadian baru kapok.

  5. 11 Juni 2013 07:00

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: