Lanjut ke konten

Waspada Saat Berbelok Bro

8 Juni 2013

overtake

BEBERAPA hari terakhir sempat menemui dua kasus yang cukup menggelitik sekaligus memilukan. Insiden kecelakaan saat berbelok. Tak ada fatalitas yang buruk, hanya luka ringan yang diderita sang korban.

Insiden pertama terjadi pada malam hari. Seorang pesepeda motor tiba-tiba keluar dari gang, tanpa tedeng aling-aling langsung tancap gas. Boro-boro ngasih lampu sein, si pesepeda motor langsung bablas. Tancap gas. Nyaris terjadi ciuman. Pengguna jalan sedikit lega.

Nah, insiden kedua lebih buruk. Pesepeda motor melaju dengan kecepatan berkisar 60-70 kilometer per jam (kpj). Lalu, sedikit melambat saat hendak berbelok. Sayangnya, ada pengendara mobil yang mengambil lajur terlalu ke kanan. Si pesepeda motor praktis kalang kabut, mencoba mengerem sejadi-jadinya. Tetap saja, dia tersungkur. Ada luka robek di kaki bagian kiri dan memar di lengan bagian kiri.

“Saya terlalu percaya diri, tidak memperhatikan ada mobil dari arah berlawanan yang kebetulan mengambil lajur terlalu ke kanan,” kata sang pesepeda motor.

Kewaspadaan Digandakan

Saat hendak berbelok mutlak menggandakan kewaspadaan. Terlebih di tikungan tajam. Bukan mustahil, ada kendaraan dari arah berlawanan yang terlalu ke kanan atau bablas keluar lajurnya.

Secara sederhana, ketika hendak berbelok setiap pengendara mesti memberi lampu sein sebagai tanda hendak berbelok. Tentu, jangan lupa dimatikan setelah usai berbelok atau pindah lajur.

Sedangkan bagi mereka yang hendak keluar gang atau jalan kecil, mutlak untuk melipatgandakan kewaspadaan dengan melihat keadaan sekeliling. Tidak asal bablas yang berisiko memicu terjadinya benturan.

Barangkali jurus SEE alias search, evaluate, and execute mesti sering dilakukan. Tak semata hendak mendahului. Namun, saat berbelok pun bisa diterapkan. Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari arah berlawanan, lalu informasi diolah, dan barulah diputuskan.

Sudah banyak kasus kecelakaan seperti itu. Sepatutnya menjadi pembelajaran berharga bahwa kecelakaan tak pernah mengenal jarak, waktu, bahkan status sosial. Kapan saja bisa terjadi kecelakaan di jalan. Hal yang bisa kita lakukan adalah memperkecil fatalitas. Mengurangi risiko atas fatalitas yang buruk. Tak ada ruginya berikhtiar. (edo rusyanto)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: