Lanjut ke konten

Melonjak, Anak-anak sebagai Pelaku Kecelakaan

30 Mei 2013

S/W Ver: 85.98.90R

KOLEGA saya terpaksa mengizinkan anaknya mengendarai sepeda motor lantaran terpaksa. Salah satu yang memaksa adalah kondisi transportasi publik yang belum memadai. Angkutan publik dianggap berpotensi membuat si anak telat tiba di sekolah.

“Belum lagi risiko terjebak dalam tawuran antara sekolah,” sergah kolega saya itu, di Jakarta, suatu ketika.

Kemungkinan banyak yang mengalami hal serupa seperti kolega saya itu.

Banyak di antara kita yang menyaksikan anak-anak di bawah umur mengendarai sepeda motor. Mereka bahkan ada yang bertiga dan tidak memakai helm pelindung kepala. Kenapa hal itu terjadi?

Sebelum mencaritahu jawaban pertanyaan di atas, barangkali kita bisa menyimak fakta data yang ada di sekitar kita. Data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyodorkan fakta mencengangkan. Setidaknya buat pemahaman saya.

Bagaimana tidak, pada 2012, anak-anak di bawah usia 16 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan melonjak drastis. Bila pada 2011 baru 40 kasus, tahun lalu menjadi 104 kasus. Artinya, melonjak 160%. Memprihatinkan.

Dari enam kelompok usia pelaku kecelakaan, rentang di bawah 16 tahun mencatat lonjakan tertinggi. Kelompok lainnya, hanya rentang 22-30 tahun yang naik 8,53%. Selebihnya mencatat penurunan berkisar 2-6%.

Kelompok usia 31-40 tahun mencatat penurunan paling tajam, yakni 5,74%. Berbanding terbalik dengan kelompok anak-anak di bawah umur. Apakah semakin matang usia semakin lebih hati-hati ketika berkendara?

Dari sisi kontribusi, anak-anak di bawah umur, menyumbang 1,72% terhadap total pelaku kecelakaan. Tahun 2012, tercatat 6.064 pengendara yang menjadi pelaku kecelakaan.  Sedangkan, rentang 22-30 tahun, menjadi penyumbang terbesar, yakni 33,13%.

Di sisi lain, anak-anak sebagai korban kecelakaan anjlok 27,98%. Khususnya, untuk rentang usia 1-10 tahun. Mirip dengan diposisi sebagai pelaku, anak-anak yang menjadi korban kecelakaan hanya menyumbang 4,04%. Angka itu merupakan yang terendah dari enam kelompok usia korban.

Oh ya, pada 2012, jumlah korban kecelakaan lalu lintas jalan di wilayah Polda Metro Jaya tercatat sebanyak 10.003 orang. Jumlah tersebut turun tipis, yakni 2,06% dibandingkan tahun 2011.

Korban kecelakaan tersebut mencakup korban meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan.

Alasan Izinkan Anak

Saya belum punya data hasil survey ilmiah yang meneliti kenapa orang tua mengizinkan anak-anak mengendarai sepeda motor atau mobil. Saya hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman semata.

1. Dianggap mampu. Ada orang tua yang menganggap anaknya sudah mampu berkendara sehingga mengizinkan si anak menggemudi. Sudut pandang ini merujuk pada penglihatan bahwa si anak sudah bisa menyetir, baik motor maupun mobil.

2. Jarak dekat. Asumsi bahwa jarak dekat cukup aman bagi si anak saat berkendara. Walau, faktanya, kecelakaan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.

3. Terpaksa. Melihat kondisi angkutan umum yang belum memadai, ada orang tua yang merelakan anak-anaknya berkendara.

4.  Praktis. Kemangkusan dan kesangkilan sepeda motor menjadi salah satu alasan orang memilih si kuda besi. Terlebih, dalam soal mengoperasikan si roda dua yang dianggap lebih praktis. Pada gilirannya, anak-anak di bawah umur pun langsung nunggang si kuda besi.

5. Permisif. Tampaknya, orang tua mengizinkan anak-anak berkendara karena sang orang tua bersikap permisif. Tak mempertimbangkan aspek risiko, termasuk soal kecelakaan di jalan.

6. Tidak ditilang. Ada yang bilang, tidak apa-apa sang anak berkendara tokh tidak ditilang oleh petugas.

Barangkali ada alasan-alasan lain. Namun, perlu kita renungkan bahwa setiap pengendara memiliki persyaratan. Syarat utama adalah memiliki kompetensi yang disahkan oleh negara berupa surat izin mengemudi (SIM). Untuk mendapatkan surat mandat dari negara, seseorang penerima SIM C (sepeda motor) dan SIM A (mobil), minimal berusia 17 tahun. Hal itu diatur dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).
Bahkan, untuk melindungi warga di jalan raya, bagi pengendara yang tidak memiliki SIM bisa diganjar hukuman. Ada sanksi denda maksimal Rp 1 juta atau penjara maksimal satu tahun.

Di sisi lain, anak-anak di bawah umur dianggap lebihh rentan terhadap provokasi di lingkungan sekitar. Ketika berkendara, kondisi demikian bisa membuyarkan konsentrasi. Sang anak dianggap masih labil.

Secara teknis, kemampuan mengatasi bobot kendaraan juga belum imbang. Khusus roda dua, rawan terjerembab mengingat keseimbangan yang tidak pas. Maklum, sepeda motor mudah tergelincir.

Menjadi tugas kita para orang tua mengedukasi anak-anak. Termasuk soal keselamatan berkendara di jalan. Tugas kita menyelamatkan generasi penerus. Indonesia sudah darurat, tiap hari 80-an jiwa tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

pelaku laka lantas 2012 jakarta

11 Komentar
  1. 30 Mei 2013 16:18

    Pembiarann yg tidak bisa dibiarkan

  2. kurniawan permalink
    30 Mei 2013 23:27

    Gak usah heran…. Secara gak langsung itu Karma secara halus krn si orang mungkin dulunya spt itu atau si orang tua nya mengendarai motor tdk bisa tertib (kata pepatah, buah jatuh tdk jauh dr pohonnya) shg sang anak meniru kelakuan orang tua.

  3. 31 Mei 2013 05:46

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  4. 31 Mei 2013 09:02

    Syukuuur kakak tertua saya pernah ikut jadi pembalap road-race. SO, kepada adik-adiknya, dia gak cuma ngajari berkendara secara benar & aman, tapi juga melarang kami berkendara selagi masih di bawah umur. Salah satu alasan yg kuingat, “Otot kalian belom cukup untuk mengendalikan laju motor.” 🙂

  5. 31 Mei 2013 09:45

    Problem yang harus di pecahkan bersama melibatkan bukan hanya petugas, namun orang tua, pengguna jalan, iklan tv komersil, para psikolog, aturan yang ditegaskan kembali, kampanye berterusan, praktisi SR, dlsb,,,

  6. okta permalink
    31 Mei 2013 13:32

    izin share om…

  7. 1 Juni 2013 11:57

    Masa pubertas saat anak2 memang sangat luar biasa ..

  8. 1 Juni 2013 19:25

    Apalagi byk anak2 sd ato smp ugal-ugalan dijalan gak taat aturan ngebut seenaknya aja SALAH SIAPA?

  9. 2 Juni 2013 07:52

    Kayaknya hanya pemegang otoritas yang bisa memulai. Bagi saya orang awam rasanya sulit dari mana harus memulai.

  10. 4 Juni 2013 08:21

    seharusnya orang tuanya yg ditindak tegas karena sudah melakukan pembiaran,buat ja undang-undang dmn orang tua mendapatkan hukuman jika “SECARA SENGAJA” membiarkan dan mengijinkan anak-anak berkendara kendaraan bermotor padahal anak tersebut masih di bawah umur dan belum memiliki SIM.
    buat para orang tua ingatlah “kendaraan bermotor bukan mainan,secara tidak sadar kalian telah mendekatkan anak kalian pada maut,karena kendaraan bermotor adalah MESIN PEMBUNUH nomer 1 didunia.”

Trackbacks

  1. Gara-gara matic makin banyak bocah bawa motor | Smartf41z

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: