Lanjut ke konten

Bentengi Keluarga Kita

29 Mei 2013

izin berkendara

KESELAMATAN mesti menjadi prioritas saat berkendara. Ketika itu terjadi, cita-cita mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis bisa lebih diwujudkan. Suasana jalan yang kental dengan sikap respek diantara sesama pengguna jalan. Tak perlu ada saling serobot.

Kerangka besar keselamatan berkendara melingkupi aspek sosial, ekonomi, budaya, hukum, bahkan politik. Situasi di jalan raya merupakan limpahan dari sistem tatanan masyarakat tersebut. Kalau sistemnya rentan dengan karut marut, kondisi jalan rayanya bisa ikut-ikutan karut marut.

Selain soal kebiasaan, pemahaman atas regulasi, yakni Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) juga menjadi penting. Termasuk soal kebiasaan memberikan izin kepada anak di bawah umur untuk mengemudi kendaraan, entah itu roda dua atau roda empat.

Anak-anak di bawah umur, yakni mereka yang berusia di bawah 17 tahun, masih dianggap belum stabil dalam mengemudi. Bisa jadi lebih mudah terprovokasi oleh situasi di sekelilingnya sehingga bukan mustahil bisa membuyarkan konsentrasi. Belum lagi secara teknis, dimana bobot kendaraan sangat tidak seimbang dengan fisik anak-anak.

Bisa jadi lantaran itu semua, UU No 22/2009 tentang LLAJ pada pasal 77 menegaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sesuai dengan jenis kendaraan bermotor yang dikemudikan. Untuk itu, calon penerima SIM mesti mengikuti pendidikan dan pelatihan sehingga memiliki kompetensi dalam mengemudia.

Bahkan, dalam pasal 81 ayat satu ditegaskan bahwa untuk mendapatkan SIMsetiap orang harus memenuhi persyaratan usia, administratif, kesehatan, dan lulus ujian. Nah soal syarat usia, dalam ayat dua-nya disebutkan bahwa paling rendah usia 17 tahun untuk SIM A, C, dan D. Lalu, usia 20 tahun untuk SIM B I. Sedangkan untuk SIM BII minimal usia 21 tahun.

Sementara itu, untuk syarat administratif mencakup identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP), mengisi formulir permohonan, dan rumusan sidik jari.

Melihat persyaratan di atas, artinya, anak di bawah umur belum bisa mendapat SIM. Para perumus UU pasti sudah mempertimbangkan aspek-aspek keselamatan jalan. Tinggal para orang tua mampu mendidik anggota keluarga untuk memahami regulasi yang ada. Namun, basis utamanya tetap pada aspek keselamatan. Rasanya, mengizinkan anak di bawah umur untuk mengemudi bisa mengundang risiko yang tinggi. Sepatutnya orang tua membentengi setiap anggota keluarga dari kejamnya si jagal jalan raya yang tiap hari rata-rata merenggut 80-an jiwa anak bangsa.

Apalagi, berdasarkan informasi yang saya peroleh, komposisi korban kecelakaan yang melibatkan anak-anak usia di bawah 16 tahun, porsinya terus membesar. Pada rentang 2007-2010, rata-rata kontribusinya sekitar 10% dari total korban kecelakaan. Baik mereka yang luka-luka maupun meninggal dunia. Namun, hal yang perlu diwaspadai adalah tren kontribusinya yang terus membesar. Walau, sempat menurun pada 2008. (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. 29 Mei 2013 09:44

    *pertamax*
    Kendaraan saya pernah di tabrak anak umur 16 tahun, badan lebih besar dari saya, tapi otak ternyata belum. Anaknya tidak punya SIM, KTP pun belum…

    Dari ceritanya, si anak sudah setiap hari mengendarai mobil ke sekolah.

    Di sekolahnya punya formulir kesepahaman yang harus di tandatangani orang tua dan diberikan ke pihak sekolah. Isi formulirnya, adalah lepas tanggung jawab. Jika terjadi sesuatu apapun pada mobil atau si anak di area parkir sekolah, segalanya merupakan tanggung jawab si anak dan orang tua, sekolah lepas tangan.

    Yang bertanda tangan di formulir adalah si anak dan orang tua.

  2. 29 Mei 2013 13:10

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: