Lanjut ke konten

Waspada Yuk di Perlintasan Kereta

26 April 2013

palang kereta api

MIRIS rasanya membaca kasus kecelakaan sepeda motor yang diseruduk kereta. Terakhir kita mendengar kabar kasus kecelakaan yang menimpa seorang mahasiswa di Universitas Indonesia (UI), Depok. Korban meninggal dunia di perlintasan kereta di dekat kampus tersebut. Dia tertabrak commuter line dari arah Jakarta menuju Bogor pada Jumat, 19 April 2013.

Rasanya, bagi kita para pemotor, pilihannya sangat logis untuk meningkatkan kewaspadaan saat di perlintasan kereta. Terlebih di jalur kereta api dua arah. Kereta bisa datang dari dua arah berbeda.
Sepanjang Januari-April 2013, sedikitnya ada 17 korban kecelakaan terkait kereta. Kepala Unit Penangangan Kecelakaan Kereta, Suhardhono seperti dilansir wartakotalive.com, mengatakan, sepanjang Januari-pertengahan April 2013 , tercatat 17 orang menjadi korban kecelakaan kereta. Dari 10 kejadian yang tidak melibatkan penumpang kereta, dua orang meninggal dan delapan luka-luka. Sedangkan tujuh kejadian lagi menimpa penumpang kereta.

“Umumnya, kecelakaan non penumpang terjadi saat pejalan melintas di perlintasan kereta. Biasanya, korban menerobos palang perlintasan atau warga yang tidak awas ketika melewati perlintasan liar,” kata Suhardhono.

Pintu perlintasan yang tergolong rawan kecelakaan, antara lain di Pondok Cina, Citayam, Cilebut. Kemudian, perlintasan liar di sepanjang jalur rel Pondok Rumput, lalu Bojong Gede hingga Citayam.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melakukan investigasi terhadap 44 kecelakaan kereta api sejak 2007 hingga 2012. Seperti dilansir tempo.co, dari 44 kecelakaan kereta api yang diinvestigasi KNKT, ada 73 korban meninggal. Sedangkan 560 korban lainnya mengalami luka-luka.

Saking seriusnya soal kecelakaan di perlintasan kereta, Negara mengaturnya di dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Dalam pasal 114 UU tersebut ditegaskan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain. Selain itu, mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada Kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel.

Bagi para pelanggar, dalam pasal 296 digariskan sanksi yang bakal dijatuhkan, yakni penjara paling lama tiga bulan atau denda maksimal Rp 750 ribu.

Bagi kita para pemotor, cara ampuh untuk mereduksi potensi kecelakaan hanyalah dengan mempertebal rasa sabar. Menunggu hingga semua kereta yang bakal melintas sudah lewat semua. Tak perlu menerabas palang perlintasan ketimbang apes dicium sang ular besi.

Di sisi lain, pemerintah selaku penanggung jawab keselamatan pengguna jalan, wajib menyediakan palang perlintasan. termasuk persinyalan dan petugas yang bisa mengingatkan agar pengguna jalan lebih waspada. Setuju? (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. haroem permalink
    26 April 2013 17:16

    wah, kayaknya masyarakat kita kurang aware yah sama keselamatan berkendara, padahal penting tuh… oiya,, ngomong2 soal keselamatan berkendara, jadi inget, Honda punya program ‘Safety Riding’ kawan,, gratis juga, gw pernah ikut, lumayan worth it sih… ajuin aja bagi yang mau, ke pihak honda nya, via twitter atau FB..

  2. 29 April 2013 10:15

    orang sering menyepelekan, pikirnya bisa melintasi rel dengan cepat, tinggal tengok kanan, tengok kiri, gas…
    memang bener, faktor kesabaran penting banget.. sayangnya banyak orang gak sabaran, dan pilih cari jalan cepat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: