Lanjut ke konten

Mengenal, Menyukai, dan Memilih

24 April 2013

SETIAP jengkal di jalan raya punya kadar risiko masing-masing. Mulai dari yang paling ringan, yakni lecet-lecet, hingga meregang nyawa. Risiko mesti dikenali sejak dini.

Kalau saya perumpamakan, kecelakaan lalu lintas jalan tidak pernah mengenal jarak. Bahkan, tidak pernah mengenal waktu, sosial, ekonomi, dan politik. Mau wong cilik kek, profesional kek, pejabat kek, hingga pengusaha kakap. Kesemuanya bisa terpuruk di atas aspal. Hanya saja, yang membedakan nanti adalah perlakuan di mata hukum. Kadang mereka yang kuat tak perlu khawatir meringkuk di hotel prodeo.

Coba renungkan sejenak kecelakaan yang pernah kita alami masing-masing. Atau, situasi yang hampir menyebabkan kita terjebak dalam insiden di jalan. Adakah insiden itu sudah dikenali faktor penyebab dan risikonya?

Saya termasuk yang yakin, kalau kita mau ikhtiar pasti ada hasilnya. Langkah awal, mari kita kenali risiko yang ada. Misal, jika tidak memakai helm, bukan mustahil risiko benturan di kepala bisa lebih fatal dibandingkan memakai helm. Solusinya, pemotor memakai helm saat berkendara.

Sederhananya demikian. Kenali sang risiko, lalu mengelolanya, dan fatalitas diharapkan menjadi lebih minim.

Pada bagian lain memotivasi seseorang mau melakukan hal-hal yang dianggap sederhana tadi bukan pekerjaan mudah. Tak heran jika kita melihat 650-an pelanggaran aturan di jalan setiap harinya. Buah dari itu semua, tiap jam kita melihat 13 kasus kecelakaan dan tiga orang tewas tiap jam.

Sebelum akhirnya seseorang memilih berkendara yang aman dan selamat sebagai keseharian, sedikitnya ada dua fase.

Pertama, mengenali risiko dan faktor pemicu kecelakaan lalu lintas jalan. Salah satu cara mengenalinya dengan mempelajari rekam jejak yang ada.

Kedua, ibarat pepatah setelah kenal, timbulah rasa sayang alias menyukai. Terakhir, barulah seseorang memilih untuk menjadikan perilaku berkendara yang aman dan selamat sebagai keseharian.

Menjatuhkan pilihan untuk berkendara yang aman dan selamat tentu bukan semata melindungi diri sendiri di jalan. Perilaku itu juga bisa melindungi orang lain dari petaka di jalan raya. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 24 April 2013 09:17

    jgn lupa berdoa..

  2. 24 April 2013 09:45

    emanngnya berapa persen pemotor yang mudeng begini?
    heheheh…

    let them die for their ignorance daahh

    #modaro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: