Lanjut ke konten

Pedestrian Jadi Pendestrian

20 April 2013

pedestrian gatsu 2013

KECELAKAAN lalu lintas jalan tak mengenal kasta. Tidak mengenal kelas ekonomi, pendidikan, bahkan politik. Siapa saja bisa dijemput sang jagal jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan.

Para pengguna jalan, mulai dari pemotor, pemobil, penumpang angkutan umum, pesepeda, hingga pedestrian atau pejalan kaki, bisa menjadi korban. Atau, bisa juga menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas jalan. Di antara beragamnya para pengguna jalan, para pedestrian dan pesepeda menjadi kelompok yang tergolong rentan kecelakaan.

Di Indonesia, pedestrian yang menjadi korban tewas akibat kecelakaan rata-rata sekitar 18 orang per hari. Angka itu di tingkat dunia lebih mencengangkan lagi. Dalam laporan Badan Kesehatan Duni (World Health Organization/WHO) yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’, disebutkan bahwa pedestrian merupakan kelompok yang amat rentan. Sebanyak 22% dari 1,24 juta korban tewas kecelakaan lalu lintas jalan adalah pedestrian. Artinya, tiap hari 747 pedestrian tewas, atau sekitar 31 orang per jam. Memilukan.
Sebuah angka yang tidak kecil. Sebuah fakta yang menunjukan rentannya pedestrian terhadap kecelakaan di jalan. Mereka rentan tertabrak kendaraan yang lalu lalang.

Karena itu, sudah sepatutnya pemerintah daerah (pemda) menyediakan trotoar sebagai fasilitas pedestrian. Lalu, marka jalan untuk tanda tempat menyeberang berupa zebra cross, yakni garis putih yang mirip belangnya kuda zebra di perempatan atau di pertigaaan jalan.

Belakangan, pada April 2013, saya mendapati perbaikan pembatas trotoar di Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Para pekerja mengganti pembatas yang sudah tidak layak. Pembatas anyar bentuknya lebih tinggi. Barangkali, itu isyarat agar para pemotor tidak melintas di trotoar jalan. Tidak merampas hak pejalan kaki.

Namun, ada yang menggelitik. Dalam papan isyarat yang dibuat dengan warna kuning mencolok, tertera tulisan ‘Mohon maaf. Perjalanan Anda terganggu ada pekerjaan pendestrian’, dan tertera tulisan ‘Kementerian PU’ berikut logo kementerian tersebut. Kok ‘pendestrian’? Barangkali salah tulis yah. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 20 April 2013 00:35

    berduka

  2. Duinnn permalink
    21 April 2013 00:30

    Memilukan, itu data yang tercatat, untuk yang tidak tercatat mesti jadinya lebih dari itu. Untuk fasilitas zebra cross usahakan yang dilengkapi dengan lampu merah manual, ketika ada pejalan kaki ingin menyebrang bisa menekan tombol di tiang lampu merah sehingga lampu merah menyala dalam beberapa detik, jika tombol tidak ditekan maka lampu tetap hijau atau kuning,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: