Lanjut ke konten

Radio Hijau Soroti Jagal Jalan Raya

15 April 2013

PADA masa pergerakan, peran siaran radio mampu mengobarkan semangat. Merajut gelora perjuangan yang bertebaran seantero negeri. Nyala api keberanian terus mendapat bahan bakar. Semua dipompa lewat gelombang udara, menelusup dalam teater pemikiran pendengar.

Kekuatan siaran radio mampu mengaduk-aduk alam bawah sadar para pendengar. Bisa lewat lagu, sandiwara radio, siaran berita, hingga perbincangan yang disiarkan secara langsung. Jika disiarkan berulang dan diserap berkelanjutan oleh pendengar, bukan mustahil mendorong pendengar melakukan aksi atas inspirasi yang mencuat.

Meyakini kekuatan siaran radio, saya mencoba memanfaatkan setiap peluang ajakan diskusi perbincangan yang disiarkan secara langsung. Waktu siaran beragam dari pagi, siang, malam, bahkan dinihari. Sebagian ada yang siaran di studio, seperti di Delta FM dan Green Radio FM, keduanya di Jakarta. Atau, siaran via telepon seperti di Elshinta, Pelita Kasih, RRI Pro 2 FM, dan PR FM. Tiga yang pertama di Jakarta dan satu terakhir adalah stasiun radio di Bandung.

Kesemuanya memang tidak ada satu pun yang merupakan siaran terjadwal. Siaran bisa sewaktu-waktu ketika redaksi stasiun radio menganggap tema keselamatan jalan. "Kami ada kontrak sembilan kali talkshow dengan sebuah yayasan, salah satu temanya soal safety riding," ujar Jil, salah seorang pengelola radio Green Radio 89,2 FM Jakarta, saat berbincang dengan saya, di Jakarta, Jumat (14/4/2013) sore.

Ya, sore itu saya diminta membahas tema keselamatan jalan oleh Green FM alias Radio Hijau. Ada dua pembicara lain, yakni Benhard dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Nurul Megawati, kasubdit Dikyasa Ditlantas Polda Metro Jaya.

Kepolisian mengaku sudah melakukan edukasi, teguran, dan penegakan hukum untuk menekan angka kasus kecelakaan di jalan raya Jakarta dan sekitarnya. Walau, menurut seorang pendengar, penegakan hukum masih kurang dirasakan. "Banyak lampu warna putih yang menyilaukan adakah penertiban dari kepolisian?" Tanya Raymond, salah seorang pendengar di Jakarta.

AKBP Nurul meminta masyarakat pengguna jalan agar tertib dan tidak melanggar aturan agar tidak celaka. Hal serupa dilontarkan Bernhad. "Kami mengimbau agar masyarakat memakai angkutan umum daripada kendaraan pribadi, baik mobil dan motor," kata dia.

Bagi saya, semestinya kedua pemangku kepentingan keselamatan jalan itu fokus menjjalankan tugas pokok dan fungsinya. Kepolisian berperan menegakkan hukum secara tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Sedangkan dishub mewujudkan moda transportasi yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau.

Tentu, para pengguna jalan juga harus memberdayakan diri. Melindungi diri dar fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Diskusi radio yang disiarkan satu kali barangkali baru sekadar angin segar bagi penyebaran perilaku berkendara yang aman dan selamat. Butuh waktu berulang-ulang untuk memengaruhi pendengar lebih massif. Mencegah sang jagal jalan raya menjemput satu per satu para pengguna jalan. Kita tahu tiga tahun terakhir rata-rata tiga jiwa melayang setiap jam akibat sang jagal di jalan raya. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Brodjo permalink
    16 April 2013 10:10

    Mantappp.. sosialisasi terus di gencarkan semoga masyarakat cepat merubah habit buruknyaaa 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: