Lanjut ke konten

Begini Kampanye Road Safety di Markas Jaket Kuning

27 Maret 2013

seminar fkm ui_edo JK

MENGAJAK perguruan tinggi untuk peduli keselamatan jalan (road safety) menjadi sebuah tantangan. Peran lembaga pendidikan itu cukup strategis bagi kehidupan bangsa kita. Sejarah mencatat, kelompok pemuda dan para cendikiawan mewarnai jatuh bangunnya Republik Indonesia tercinta.

Manakala ada undangan dari Pusat Kajian dan Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PKTK3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, sontak saya mengiyakan. Lembaga tersebut mengajak Road Safety Association (RSA) yang saya pimpin untuk berbagi pengalaman. Jadilah saya tampil bicara di ajang SHE International Seminar “Safety Leadership, Disaster, & Crisis Management”, 26-27 Maret 2013, di kampus UI Depok.

Seminar menghadirkan Jusuf Kalla sebagai pembicara kunci. Sempat saya sampaikan kepada mantan wakil presiden itu, soal meruyaknya kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Tiap jam kita kehilangan tiga nyawa anak negeri akibat kecelakaan. “Mesti dilihat populasi penduduk dan jumlah kendaraan yang ada, hal itu terkait,” ujar dia, saat berbincang singkat usai memberi sambutan, Selasa (26/3/2013) pagi.

Saya kebagian berbicara pada Rabu (27/3/2013). Saya ditemani bro Dito Faisal, salah seorang pengurus RSA. Kami menjadikan seminar itu sebagai medium menularkan kesadaran road safety di kalangan calon-calon pemimpin bangsa. “Bagaimana kiat berkampanye road safety yang bisa direspons bagus oleh masyarakat,” tanya seorang mahasiswi saat kami berdiskusi, Rabu sore.

seminar fkm ui_edo

Diskusi cukup serius. Namun, sesekali diselingi canda tawa untuk mencairkan suasana. Tak pelak, terdengar suara riuh rendah di ruang Promosi Doktoral di gedung G, FKM UI. Saat saya paparkan bagaimana sejak 2007 RSA blusukan ke komunitas-komunitas di Jakarta dan sekitarnya, mayoritas peserta cukup antusias. “Bagaimana kampanye road safety yang efektif? Lantas, bagaimana cara mengukur keberhasilannya,” sergah seorang mahasiswa yang mengaku ingin meniru gaya kampanye RSA.

seminar fkm ui_peserta 3

Siang hingga sore itu saya memang sengaja memaparkan pengalaman yang dialami selama RSA blusukan kampanye keselamatan jalan. Lewat jurus mendekati para pengguna jalan secara langsung, kami merasa selama ini cukup mendapat respons antusias. Mengubah secara perlahan pola pikir dan sikap para pengguna jalan. Tentu agar lebih aman, nyaman, dan selamat. Memang bukan hal mudah. Maklum, tiap hari, dalam tiga tahun terakhir, sekitar 300 kasus kecelakaan terjadi di Indonesia. Lebih dari separuh kasus kecelakaan dipicu oleh faktor manusia.

Pendekatan kepada akar rumput (grass root) bukan tanpa tantangan dan kendala. Selalu ada resistensi yang menganggap RSA bak ‘polisinya’ para pemotor. Atau, menganggap RSA terlalu menggurui. Setiap perjuangan selalu ada tantangan. Itu pasti. Saya selalu mengatakan kepada teman-teman di RSA, susah bukan berarti tidak bisa dan jangan pernah letih. Karena itu, slogan kami adalah menuju harapan agar anak cucu kami kelak tidak tertimpa musibah kecelakaan lalu lintas jalan.

“Selain kampanye ke kelompok masyarakat, apakah RSA juga bekerjasama dengan para stakeholder keselamatan jalan atau pemerintah?” Tanya seorang peserta.

Saya coba utarakan apa yang terjadi selama ini ketika jalan bareng dengan Polda Metro Jaya, Korlantas Polri, kementerian perhubungan, hingga kementerian kesehatan. Jalan bareng itu di antaranya adalah berupa diskusi, bertukar pikiran dalam workshop atau sumbang saran untuk kegiatan-kegiatan sosialisasi keselamatan jalan.

Dalam seminar di FKM UI kali ini, kami pun tetap menyampaikan ‘Segitiga RSA’. Jurus itu berisi tentang upaya lebih aman dan selamat dengan mengedepankan ketaatan pada aturan (rules). Selain itu, berkendara yang peduli dengan sesama pengguna jalan (attitude) dan meningkatkan keterampilan berkendara (skill).

Pada pamungkas, kami lontarkan tentang pentingnya penegakan hukum lalu lintas jalan. Hal ini untuk merespons pernyataan kepolisian yang senantiasa mengatakan bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Nah, kalau pelanggaran dikurangi berarti bisa menekan jumlah kasus kecelakaan dong? (edo rusyanto)

3 Komentar leave one →
  1. ngakak permalink
    27 Maret 2013 21:55

    mungkin lebih tepat jas kuning. imho

  2. Brodjo permalink
    28 Maret 2013 10:31

    Mantappp.. sekarang sosialisasinya safety ridingnya sudah merambah ke perguruan tinggi … sukses terus eyangg

  3. Dani permalink
    29 Maret 2013 16:51

    sorry OOT, Eyang Edo mo nanya kalo ngadain acara Safety riding buat organisasi plus praktek lapangan ada yang bisa fasilitasi ndak..yah ada materi ada praktek gitu buat 50 orang…mentok sih dibudget…please pencerahannya lewat email yah ..hatur nuhun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: