Lanjut ke konten

Bongkar Egoisme di Jalan

24 Maret 2013

Yakinlah, kecelakaan lalu lintas jalan bisa merusak semua mimpi. Menghancurkan cita-cita luhur sang anak yang mau berbakti pada orang tua. Atau, meluluhlantakan asa lantaran tiang ekonomi keluarga runtuh.

Jagal jalan raya memangkas produktifitas. Merobek-robek kemampuan kerja sang korban. Sekalipun bisa dipulihkan, sang produktifitas nyaris tak pernah kembali seperti sediakala. Kecelakaan selalu menyakitkan.

Tiap jam kita dipertontonkan hilangnya tiga nyawa akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Mereka bisa saja calon-calon pemimpin bangsa. Calon tokoh penting untuk kebaikan hidup bangsa pada masa mendatang. Atau, sosok yang saat ini menempati simpul penting di lingkungan kita. Bisa jadi sosok vital bagi penghidupan ekonomi keluarga. Jika mereka direnggut oleh jagal jalan, bukan mustahil bisa menimbulkan rentetan panjang masalah sosial di masyarakat kita.

Pengemudi masih menjadi pengendali utama di jalan raya. Apapun kendaraannya, faktor manusia sebagai pengemudi menjadi unsur amat penting. Bisa sebagai pemicu kecelakaan atau sebaliknya.

Langkah strategis untuk menekan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan bisa dimulai dari diri sendiri. Memangkas egoisme di dada. Menghapus rasa ingin menang sendiri. Mempertebal rasa sabar demi tetap fokus dan konsentrasi berkendara. Kita tahu, hilangnya konsentrasi kerap tampil sebagai biang keladi kecelakaan.

Perilaku yang tidak menghalalkan segala cara bisa tercermin dalam tingkah polah berlalulintas jalan. Tak perlu saling menindas. Perilaku yang beradab bisa bikin nyaman di jalan. Kita mahfum, esensi keadaban manusia adalah perilaku yang saling menghargai dan sudi berbagi.

Pada sisi lain, esensi keadaban kita mengajarkan untuk menghargai aturan yang ada, termasuk regulasi lalu lintas jalan. Melanggar aturan perundangan yang ada setara dengan penghinaan terhadap intelektual. Perundangan disusun atas karya intelektual. Menghina intelektual adalah pelecehan atas karunia yang diberikan sang Maha Pencipta. Di sisi manakah keadaban kita berada?

Padahal, di lapangan kita disodori fakta bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan.

Egoisme lain yang harus super dibongkar adalah ego sektoral para pemangku keselamatan jalan. Mereka mestinya lebih serius bersinergi. Bahu membahu demi menyelamatkan anak negeri dari duka di jalan raya. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Brodjo permalink
    25 Maret 2013 17:27

    Setuju eyang dengan tidak egois dijalan adalah salah satu mengurangi resiko kecelakaan yaaa, lebih fokus berkendara jugaaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: