Lanjut ke konten

Pak Min Menyeberang

23 Maret 2013

SIANG masih memanggang. Teriknya menyelusup ke balik jaket para pemotor. Debu dan asap kendaraan berseliweran menyesakan dada. Lengkap sudah potret metropolitan.

Semmhy pilih menepi. Mematikan mesin tunggangannya. Menyambangi Pak Min, pedagang gorengan di sudut jalan. Biasanya dia merogoh kocek sepuluh ribu rupiah untuk ditukar dengan sepuluh gorengan. Ada tahu, bakwan, pisang, dan ubi goreng.

Sudah lima tahun terakhir Semmhy menjadi pelanggan gorengan Pak Min. Renyahnya gorengan menemani kesibukan menyelesaikan pekerjaan kantor. Gorengan menjadi kudapan wajib bagi Semmhy.

"Biasa ya Pak Min. Campur," kata Semmhy.

"Cabenya dikit aja yah," seru Pak Min.

"Cabe lagi mahal nih mas," tambahnya.

Semmhy hanya mengangguk. Pikirannya mengembara. Sebelum cabe, harga bawang sudah melambung tinggi. Malahan, sebelumnya lagi, harga sapi meroket. Bisa seratus ribu per kilogram. Beban hidup masyarakat seakan tak pernah ringan. Apalagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Apa-apa naik sekarang ya pak?"

"Iya mas, kemarin daging sapi, terus bawang merah, sekarang cabe. Lama-lama harga gorengan juga naik nih."

Berbincang dengan Pak Min bisa menjadi selingan di tengah rutinitas pekerjaan kantor. Semmhy kadang menyisihkan lima sampai sepuluh menit buat ngobrol sambil menunggu gorengannya selesai. Pak Min termasuk yang gemar mengikuti perkembangan. Pernah suatu ketika dia mengkritisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Masa sih tersangka yang satu hartanya diusut sampai ke akar-akarnya. Tapi yang lain malah cuma sekulit bawang."

* * *

Sudah tiga hari Semmhy tak melihat Pak Min berjualan. Pria berusia lima puluh tahunan itu, tak terlihat di pinggir jalan empat dia mangkal.

"Mungkin dia istirahat karena kelelahan atau pulang kampung," batin Semmhy.

Siang itu, Semmhy mencurahkan rasa penasarannya.

"Pak, kemana yah Pak Min. Sudah beberapa hari gak jualan." Tanya Semmhy kepada pedagang minuman ringan yang mangkal disamping gerobak Pak Mamin biasa mangkal.

"Wah, kangen yah ama gorengannya Pak Min." Jawab sang pedagang dengan pertanyaan balik.

Dia melanjutkan.

"Pak Min tidak jualan karena sakit. Sekarang dibawa mudik oleh anaknya."

"Sakit apa pak?"

"Hari Rabu waktu mau dagang, di ujung jalan itu, Pak Min diseruduk motor yang ugal-ugalan. Ngebut."

"Lalu?"

"Kakinya patah, tangannya luka-luka. Ditabrak waktu nyeberang jalan."

Sang pedagang menjelaskan bahwa di ujung jalan dekat tempat mereka mangkal, sering terjadi kecelakaan. Dalam setahun bisa lima sampai sepuluh kasus kecelakaan.

"Kebanyakan pejalan kaki yang ketabrak," kata dia.

Semmhy hanya tercenung. Batinnya berharap Pak Min cepat pulih.

Cipayung, Maret 2013

3 Komentar leave one →
  1. 23 Maret 2013 16:36

    kisah yg inspiratif dan terserat makna yang dalam, semoga angka kecelakaan para pejalan kaki terus berkurang dan para pemotor bisa lebih tertib dalam berkendara.

  2. Leo permalink
    25 Maret 2013 15:08

    Semoga pak Min lekas pulih …
    Sulit sekali masyarakat kita untuk bertenggang rasa dan lebih berhati-hati di jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: