Lanjut ke konten

31 Pedestrian Tewas Tiap Jam

22 Maret 2013

PASTI belum hilang diingatan kita tragedi Tugu Tani, Jakarta Pusat. Peristiwa di pagi hari, 22 Januari 2012 itu, menjadi catatan hitam bagi para pedestrian di Indonesia.

Ya. Sebanyak 12 pedestrian sedang melintas di trotoar dihantam minibus. Kecelakaan maut itu merenggut sembilan korban jiwa dan tiga orang luka parah. Duka pedestrian.

Sekalipun sang pengemudi minibus pemicu kecelakaan maut divonis 15 tahun penjara, duka keluarga korban nyaris tak pernah sirna. Hukuman atas perbuatan mengemudi yang brutal itu, diharapkan membuat efek jera. Bagi siapapun yang memicu kecelakaan, siap-siap meringkuk di hotel prodeo. Untuk waktu lama, menebus dosa yang tak terperikan.

Di jagat raya, pedestrian digolongkan sebagai pengguna jalan yang rentan kecelakaan. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memasukan pedestrian dan pesepeda dalam kelompok rawan kecelakaan. Ancaman paling telak datang dari para pengemudi mobil yang ugal-ugalan. Pengemudi yang tidak berkonsentrasi dan memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi.

Laporan WHO yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’, mempertegas hal itu. Ngebut meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan parahnya dampak kecelakaan.

Rentannya pedestrian terlihat dari laporan tersebut. Sebanyak 22% dari 1,24 juta korban tewas kecelakaan lalu lintas jalan adalah pedestrian. Artinya, tiap hari 747 pedestrian tewas, atau sekitar 31 orang per jam. Memprihatinkan.

Nasib pedestrian di Indonesia tak jauh berbeda dengan di dunia. Bila secara global tiap hari 747 pedestrian tewas tiap hari, di Indonesia rerata 18 orang per hari. Tentu bukan kabar menyenangkan. Manakala banyak di antara kita harus berjalan kaki dari satu lokasi ke lokasi lain, ancaman terus membayangi.

Ancaman maut terhadap pedestrian tak semata datang dari pemobil. Para pemotor yang ugal-ugalan pun tak kalah mengerikannya. Bahkan, persoalan kian meruncing manakala area melintas pedestrian dirangsek para pemotor. Gesekan bisa meletus setiap saat. Pedestrian yang dirampas haknya, bakal geram. Maklum, tak hanya oleh pemotor, trotoar juga banyak dijarah para pedagang.

Rentannya pedestrian juga bisa dipicu perilaku berjalan yang tidak aman. Misal, menyeberang sembarangan atau lengah akkibat berjalan sambil mengoperasikan ponsel. Sudah semestinya semua pengguna jalan bisa saling menghargai dan bijak. Sedangkan pemerintah wajib menyediakan trotoar jalan yang aman dan selamat. Mulai dari sekarang. (edo rusyanto)

7 Komentar leave one →
  1. ibrahim touring permalink
    22 Maret 2013 06:55

    saat nya aparat kepolisian bertindak sangat tegas

  2. doni permalink
    22 Maret 2013 08:40

    wuss.. mendramatisir bgt judulnya.. tiap brp jam bayi lahir, tiap brp jam orang makan, tiap brp jam orang pup, tiap brp jam..

  3. AhMaYa permalink
    22 Maret 2013 09:40

    Ternyata pejalan kaki juga bisa menjadi korban ya Mbah……..

  4. 22 Maret 2013 13:39

    Waduuuh…yg aman apa donk…pedestrian 31/jam, pemobil 44/jam, pemotor 32/jam…mengerikan..!

  5. 22 Maret 2013 17:10

    Arep komen nang artikel Aki Mio J soak, wis tutup. Komen di sini saja.
    Apese Pak RT, tuku montor yahomo pisan ae bonus dorong. Balik saja P RT, ra koyo sing lawas.
    ============
    Kata iklan, kalau gak salah, 30 meninggal/menit karena diabetes.

  6. 23 Maret 2013 16:02

    bukti hak pejalan kaki masih tersisihkan..

  7. 25 Maret 2013 00:29

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: