Lanjut ke konten

Pasti Bisa, Kalau Kita Mau

10 Maret 2013

INDONESIA bukan bangsa pecundang. Sejarah panjang peradaban anak negeri membuktikan hal itu. Situs-situs seperti Candi Borobudur di Jawa tengah atau Candi Cangkuang, di Garut, Jawa Barat menjadi saksi bisu. Nenek moyang Indonesia punya peradaban tinggi.

Negeri dengan 17 ribuan pulau dan penduduk 240 juta jiwa, tentu bukan negeri sembarangan. Indonesia punya wibawa. Indonesia jadi rebutan para produsen raksasa dunia. Pasar yang menggiurkan, termasuk bagi para produsen otomotif.

Pada 2013, dengan populasi kendaraan sekitar 94,2 juta unit, Ibu Pertiwi tentu punya probllem tersendiri. Di luar dampak positif kendaraan sebagai alat transportasi, lalu lintas jalan menyisakan catatan kelam bernama kecelakaan. Tiap hari 300-an kasus yang menelan 80-an korban jiwa.

Kita sepakat, faktor pengendara memegang peran penting. Selaku pengendali, ternyata para pengendara berkontribusi lebih dari separuh kasus kecelakaan. Mulai dari keterampilan berkendara, kelengahan, hingga perilaku tidak tertib.

Soal perilaku tidak tertib alias melanggar aturan memang cukup serius. Pada 2012, pelanggaran aturan lalu lintas jalan masih merajalela di Indonesia. Tiap hari, rata-rata ada hampir 12ribu kasus pelanggaran aturan lalu lintas jalan yang ditindak.

Walau, angka pelanggaran tahun lalu anjlok 15,4% jika dibandingkan 2011, rasanya masih tergolong tinggi. Jargon bahwa pelanggaran adalah awal kecelakaan di jalan terasa relevan. Faktanya, pada tahun yang sama, angka kasus kecelakaan justeru naik 7%. Rata-rata per hari ada 322 kasus kecelakaan.

Data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri itu, tentu saja baru kasus-kasus yang tercatat. Patut diduga jumlah pelanggaran dan kecelakaan yang terjadi jumlahnya lebih banyak lagi.

Perilaku berkendara mesti diubah. Dari perilaku yang sembrono dan ugal-ugalan menjadi lebih santun. Berkendara yang aman dan selamat. Menempatkan keselamatan sebagai kebutuhan. Menjadikan kecelakaan sebagai musuh bersama.

Rasanya masyarakat kita memiliki budaya saling menghargai. Toleransi menjadi panglima dalam kehidupan masyarakat. Kepatuhan pada aturan juga masih ada. Jika begitu, semestinya tak elok memprioritaskan egoisme individu ketika berkendara di jalan. Perilaku tidak sabaran yang memangkas toleransi semestinya juga bisa diredam. Pasti bisa, kalau kita mau. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 10 Maret 2013 06:07

    Mantap

  2. 10 Maret 2013 07:20

    jika saling menghargai khidupan akan indah dan mengindahkan..

    ijin nitip mas
    [share] coba dalami isi hati, rahasia apa yang engkau dapatkan..?
    http://temonsoejadi.com/2013/03/08/hati-hati-dengan-hati/

    suuwun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: