Lanjut ke konten

Mulai dari Hal Kecil Dong Akh

6 Maret 2013

KADANG kita terganggu oleh hal yang dianggap kecil. Coba aja menikmati kerikil yang terselip di dalam sepatu. Pasti nyeri dan menjengkelkan.

Atau mau contoh agak ekstrim. Saat berduaan dengan pujaan hati, eh tak mampu menahan panggilan alam. Maaf, buang gas. Pasti suasana menjadi runyam. Paling ngggak, merusak mood.

Banyak hal-hal kecil atau yang dianggap kecil di sekeliling kita. Tentu dengan standard dan ukuran umum. Bahkan, tak sedikit yang memakai ukuran subyektif.

Ketika masalah kecelakaan lalu lintas jalan dianggap hal kecil dibanding kasus korupsi, buntutnya, tak banyak media massa yang mengulasnya dengan berkelanjutan. Cukup berita kecil di halaman dalam. Ketika tokoh besar yang terlibat kecelakaan, barulah media massa memberitakan secara heboh. Setelah itu reda. Maklum, media massa banyak yang menganut ‘big name, big numbers, dan big impact’.

Masalah kecelakaan lalu lintas jalan masih belum seseksi isu pergantian ketua partai politik. Juga tak semeriah pemilihan gubernur.

* * *

Boleh percaya atau tidak, banyak yang menganggap, sepeda motor melintas di trotoar adalah hal kecil. Hal sepele.

Lalu, menelepon atau menerima panggilan telepon saat menyetir dianggap lumrah. Hal kecil. Biasa.

Lantas, adakah yang mau mencaritahu lebih jauh, apa latar belakang tindakan yang dianggap kecil itu. Mari kita menduga-duga.

Pemotor yang melintas di trotoar patut diduga bertujuan untuk tiba lebih cepat ke tujuan. Saat bersamaan, di jalan raya terjadi antrean kendaraan mengular. Stagnan. Tanpa putar otak, ambil jalan pintas, libas trotoar yang notabene hak pejalan kaki.

Merampas hak orang lain dianggap lumrah. Mencuri dianggap biasa. Kenapa bisa terjadi? Oh ya, melintas di trotoar merampas hak para pedestrian.

Sedari kecil mungkin terkontaminasi kebiasaan jalan pintas. Mau dapat nilai bagus saat ujian di sekolah, pilih menyontek. Wong pihak sekolah takut dicap berkinerja buruk saat siswanya tidak lulus 100%, diciptakanlah menyontek ramai-ramai.

Lalu, saat bekerja di kantor, menggapai karir lewat cara instan. Sikut kiri, sikut kanan. Bikin laporan ABS. Saat diminta bantu rekan yang kesulitan, angkat tangan. Saat keliru membuat keputusan, cuci tangan.

Bisa jadi hak-hak pribadinya tercerabut. Kerja penuh tekanan target dan ketatnya jadwal. Hak untuk menikmati waktu bersama keluarga terampas. Hak menikmati waktu pribadi hilang.

Saking sempitnya waktu, manakala telepon berdering saat menyetir, buru-buru diangkat. Telepon penting dari bos di kantor. Atau, telepon penting untuk obyekan. Telepon gak diangkat, duit tambahan melayang.

Kota yang bergerak cepat memaksa orang-orang di dalam bergerak cepat. Sedetik saja bermakna besar. Waktu adalah uang. Dimanapun, kapanpun, terus berkomunikasi.

* * *

Banyak diantara kita pernah mendengar jargon, kecelakaan kerapkali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Menelepon sambil menyetir merupakan salah satu pelanggaran yang tak mustahil membuyarkan konsentrasi berkendara dengan berujung pada kecelakaan.

Melawan arus kendaraan dan menerobos lampu merah adalah dua contoh pelanggaran yang ekstrim. Keduanya amat rentan memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan.

Tahukah kita bahwa ada hal yang dianggap kecil justeru bisa berdampak besar. Sebut saja soal mendahului dengan melibas garis menyambung. Marka jalan itu semestinya mirip dengan separator beton. Memisahkan lajur jalan.

Namun, tak sedikit yang uji nyali. Mendahului sambil melibas marka jalan. Apalagi di area tikungan jalan. Rawan.

Melibas marka jalan adalah pelanggaran. Sama dengan berpindah lajur atau berbelok tanpa menyalakan lampu isyarat. Ada sanksi denda atau pidana penjaranya.

Berpindah lajur atau berbelok tidak menyalakan lampu sein bisa menimbulkan benturan. Tabrak belakang. Tapi kerap dianggap hal sepele. Lihat aja sekeliling kita, masih banyak yang begitu.

Bila hal yang dianggap kecil saja sulit kita ubah, bagaimana mau membuat perubahan besar? (edo rusyanto)

4 Komentar leave one →
  1. Sponge Bob permalink
    6 Maret 2013 06:39

    mulailah dari diri sendiri dulu….

  2. rusmanjay permalink
    6 Maret 2013 07:18

    setuju….
    masalah kecil awal dari masalah yang besar

  3. lesehan permalink
    6 Maret 2013 11:47

    maaf gan, sekarang artikel ttg angka penjualan kok ngk ada ya..? nunggu2 neh..

    tengkyu

  4. Sotong permalink
    6 Maret 2013 14:17

    Kalau test ride motor baru di jalan raya sampai 100 kpj (bahkan lebih) termasuk kecil apa besar, mbah?
    Banyak tuh blogger dan wartawan yang begitu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: