Lanjut ke konten

Jangan Takut Hanya Kalau Ada Polisi

26 Februari 2013

kakorlantas dan aisi 2013

PERAN negara amat besar untuk menanamkan budaya sejak dini. Saya percaya, potret kehidupan berlalulintas di jalan adalah produk dari sistem pendidikan, sosial, ekonomi, dan hukum. Bahkan, juga produk sistem politik negara kita.

Ketika seluruh lumbung elemen tata kehidupan negara menyiratkan penindasan si kuat pada yang lemah, jadilah jalan raya mempertontonkan pemobil saling merampas bahu jalan dan jalur khusus seperti busway, serta jalur pemotor. Lalu, pemotor merampas trotoar hak pedestrian. Bahkan, penguasa angkutan umum, yakni sang sopir, memindahkan penumpang seenaknya karena enggan meneruskan trayek resmi.

Melihat hal itu, peran polisi selaku penegak keamanan dan keselamatan pengguna jalan tentu tidak ringan. Masih banyak masyarakat yang melanggar dan tidak disiplin di jalan raya.

“Polisi sudah represif, pengguna jalan takutnya karena ada polisi. Harus diubah paradigma itu, mestinya takut karena kecelakaan dan bakal meninggal akibat kecelakaan,” ujar Irjen Polisi Pudji Hartanto, kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri), di Jakarta, Senin (25/2/2013).

Pernyataan Kakorlantas itu mencuat di dalam seminar ‘Building Road Safety Culture for Bettter Indonesia’, yang digelar Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), di Grand Mercure Jakarta Harmoni Hotel, Jakarta, Senin siang. Seminar tersebut bagian dari kegiatan ulang tahun Federation of Asian Motorcycle Industries (FAMI) yang ke-14.

langkah korlantas polri

Menurut dia, langkah yang ditempuh Korlantas Polri ada tiga, yakni preemtif, preventif, dan represif. Khusus langkah represif, polisi mesti tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu.

Cabut SIM

Sementara itu, Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Chrysnanda Dwi Laksana mengaku, pihaknya memperketat penerbitan surat izin mengemudi (SIM) bukan untuk mempersulit. Pemberian SIM mestinya mempertunjukan bahwa sang pemegang SIM memiliki kompetensi berkendara.

Mengenai perpanjangan SIM, lanjutnya, bisa dilakukan tanpa uji ulang sebagai apresiasi untuk mereka yang tidak terlibat kecelakaan lalu lintas dan tidak melanggar peraturan selama memegang SIM. Kedua, diuji ulang jika tergolong sebaliknya.

“Ketiga dicabut sementara bagi pengendara yang berbahaya seperti mabuk dan ugal-ugalan. Sedangkan keempat, SIM nya bisa dicabut seumur hidup melakukan tabrak lari karena itu adalah kejahatan kemanusiaan,” ujar Chrysnanda, dalam seminar yang sama.

Selain opsi pencabutan SIM, bagi saya lebih pas jika penerbitan juga dibenahi dengan berbasis kepada komptensi berkendara. Soal pencabutan SIM, seingat saya, belum ada regulasinya di dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Barangkali ingatan saya keliru. Namun, jika memang ada kebijakan pencabutan SIM harus diimbangi dengan tingkat seleksi yang super ketat untuk penerbitannya. (edo rusyanto)

4 Komentar leave one →
  1. 26 Februari 2013 08:00

    Seharusnya polisi jangan hanya menilang! .. Dan harus juga memberikan arahan dan penjelasan kepada yang di tilang dampak dari bahaya yang mereka langgar tata tertib lalulintas,.

  2. 26 Februari 2013 15:34

    persepsi negatif masyarakat memang seperti itu, jika ada polisi,,,menghindar

    ijin nitip mas, putus cinta itu biasa, putus rem itu baru bahaya..
    http://temonsoejadi.com/2013/02/26/cuma-cinta-ditolak-wanita-kenapa-galau/

    suwun

  3. 26 Februari 2013 21:10

    Budaya menanggalkan keselamatan… kalau mau jujur pastinya kita belum 100 % blum menanggalkan kebiasaan itu, ambil contoh : seringkali yang kita lakukan khususnya dalam berkendara jarang sekali berpikir untuk apa tujuannya. spt kilk tali helm.. sepele.. dan kita semua pasti tahu fungsi dari pengunci tali helm… tapi kenyataannya banyak tidak klik karena alasan buru buru atau memang yang penting pakai helm dan tidak di tilang pak pol.

  4. 27 Februari 2013 10:42

    yg sy alami…polisi lebih banyak sikap preventif-nya…ketimbang mengayomi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: