Lanjut ke konten

Pahlawan Itu Ada di Dalam Rumah

10 November 2012

RUMAH menjadi benteng utama. Keruntuhan sebuah bangsa bisa dipicu oleh hancur leburnya keluarga. Tak heran jika dalam ‘perang’ modern, keluargalah yang dijadikan sasaran tembak utama.
Keluarga bisa melahirkan generasi yang kuat. Orang-orang yang santun dan berbudi luhur mestinya tercetak dari pendidikan keluarga yang beradab. Orang tua memiliki pengetahuan, pemahaman, dan religiusitas yang kokoh. Lalu, ditularkan kepada seluruh anggota keluarga. Anak-anak patuh dan menerima kucuran ilmu dari orang tua tersebut. Harmoni keluarga yang indah.
Persoalan menjadi rumit ketika komunikasi orang tua dengan anak berantakan. Kepatuhan anak-anak kepada orang tua melemah. Harmoni keluarga dicabik-cabik oleh penghancuran dalam rangka ‘perang’ modern.
Semakin banyak keluarga yang ‘hancur’ kian melemahkan sendi-sendi kehidupan yang lebih besar. Termasuk, kehidupan dalam bermasyarakat dan berbangsa.
Saat perilaku yang tak lagi memiliki rasa menghargai orang tua, keluarga, apalagi orang lain, begitu meruyak, menjadi lahan subur bertumbuhnya sikap tak menghargai aturan. Sikap arogan. Kalau sudah begini, bisa karut marut jika terimplementasi saat berkendara di jalan. Sulut sedikit, emosi meledak.
Keluarga butuh pahlawan untuk melawan ‘penghancuran’ moralitas yang saling menghargai. Orang tua harus tampil di garda depan. Menanamkan rasa saling menghargai kepada diri sang anak. Mencetak generasi yang bisa menghargai arti hidup dan pentingnya aturan yang ada.
Pahlawan untuk mencetak perilaku yang santun dan beradab harus mencuat di tengah keluarga. Harapannya, keluarga tersebut bisa terus menggulirkan mata rantai keturunan yang santun dan beradab.
Manakala generasi itu lalu lalang berkendara di jalan raya, tak perlu ada lagi sikap arogan. Tak perlu ada lagi mencuri hak orang lain. Sudi berbagi dan menghargai aturan. Kalau sudah begini rasanya bisa ikut andil menutup celah potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan.
Kita disodori fakta, pada 2011, setiap hari ada sekitar 300 kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Ironisnya, petaka itu merenggut tak kurang dari 89 jiwa per hari. Kita juga tahu, pemicu utama kecelakaan adalah perilaku berkendara yang tidak tertib alias enggan taat aturan.
Kita rindu pahlawan-pahlawan di dalam rumah yang mampu menjadi figur panutan. Sosok yang bisa menelorkan generasi saling menghargai. Selamat hari Pahlawan. (edo rusyanto)

4 Komentar leave one →
  1. 10 November 2012 11:33

    Betul sekali, keluarga adalah benteng pertahanan yang utama bahkan terakir, moralitas sulit di dapat dari luar/lingkunganpergaulan bahkan pemimpin negeri sekalipun, keluarga/orang tua/yang lebih tua harus mampu menjadi tauladan, saat ini pergaulan luar rumah sulit ditolerir, keluarga yg apik membangun anggotanya dan mampu menularkan di luar rumah itu baru hero. Imho. Semoga saya mampu menjaga dan mendidik keluarga. Amin

  2. husni permalink
    13 November 2012 15:26

    ane sampe terharu bacanya… nice artikel Pak Edo..

    Salam dari padang gurun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: