Lanjut ke konten

Motor Primadona Bali

16 September 2012


COBA lihat di sekitar Denpasar, Kuta, dan Seminyak, Bali, sepeda motor amat meruyak di jalan raya. Si kuda besi menjadi primadona untuk berwara-wiri. Mulai untuk sekolah, ke tempat kerja, atau berwisata.
Sebaliknya, kita bakal sulit menemui angkutan kota (angkot) yang menghubungkan satu titik dengan titik lain di dalam kota. Tampaknya, populasi kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor lebih dominan.
“Angkutan kota mestinya disediakan, kalau tidak ada ya seperti sekarang, orang lebih suka naik motor,” ujar Putu Adi, salah seorang warga Seminyak, Bali, saat berbincang dengan saya di Seminyak, pertengahan September 2012.
Dia bercerita, setiap hari dirinya menunggang sepeda motor untuk menuju tempat kerja. Butuh waktu sekitar 5-7 menit dengan menunggang sepeda motor sport. “Kadang naik sepeda kayuh, waktunya bisa dua kali lipat naik motor,” kata Putu.
Sebenarnya kondisi itu tak jauh berbeda dengan kota lain, termasuk dengan Jakarta. Di Jakarta, angkutan umum jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kendaraan pribadi. Jika di Bali penjualan sepeda motor sebanyak 759 unit per hari, di Jakarta menyentuh 2.654 unit per hari. Angka itu untuk periode Januari-Agustus 2012. Motor masih menjadi primadona alternatif karena terjangkau kocek masyarakat.
Balik lagi soal motor di Bali. Menurut Andy, seorang eksekutif kebangsaan Inggris, dirinya setiap hari menunggang kuda besi karena lebih nyaman. Dari segi operasional, biayanya lebih efisien dan dari segi waktu tempuh lebih singkat.
“Saya lebih suka naik motor daripada memakai mobil pribadi,” kata pria yang sudah 25 tahun tinggal di Indonesia.
Pendapat Putu dan Andy masuk akal. Menurut Hari, seorang jurnalis di Bali, sepeda motor menjadi pilihan karena angkutan umum di kota tidak memadai. “Ada angkutan bus yang baru saja diluncurkan, Sarbagita, tapi ukuran dan volumenya belum memadai,” sergah dia, saat berbincang dengan saya di Seminyak, baru-baru ini.
Tarif bus Trans Sarbagita, seperti dilansir Antara, sebesar Rp 3.500 untuk umum/dewasa dan Rp 2.500 untuk pelajar serta mahasiswa.
Saat ini, baru dioperasikan satu koridor. Rute Trans Sarbagita koridor I adalah halte SMAN 7 (Jalan Kamboja)–Jalan Angsoka–Jalan Melati–Jalan Surapati–Jalan Kapten Agunga–Jalan Letda Made Putra–Jalan PB Sudirman–Jalan Waturenggong–Jalan Diponegoro–Jalan Raya Sesetan–Jalan By Pass Ngurah Rai–Simpang Dewa Ruci–Jalan By Pass Nusa Dua–Jalan Udayana/Kampus Unud Bukit–Jalan Uluwatu–GWK.

Sedangkan rute sebaliknya adalah halte GWK–Jalan Raya Uluwatu– Jalan Udayana Kampus Unud Bukit–Jalan By Pass Nusa Dua–Simpang Dewa Ruci–Pesanggaran–Jalan Raya Sesetan–Jalan Diponegoro–Jalan Serma Durna–Jalan Serma Made Pil–Jalan Serma Mendra–Jalan PB Sudirman– Jalan Dewi Sartika–Jalan Diponegoro–Jalan Hasanudin–Jalan Udayana–Jalan Surapati–Jalan Kamboja–Jalan Angsoka–Jalan Melati–Jalan Pattimura–Jalan Kamboja (Halte SMAN 7).
Memperbanyak angkutan umum bisa menjadi solusi untuk mengurai kemacetan lalu lintas jalan. Tentu saja, bisa juga mereduksi kuantitas dan kualitas kecelakaan lalu lintas jalan. “Denpasar dan sekitarnya sudah karut marut, gue terpaksa menyewa mobil Rp 350 ribu per hari,” kata Kurnia, seorang teman saya yang baru saja berlibur di Bali. (edo rusyanto)

13 Komentar leave one →
  1. 16 September 2012 00:07

    matic

  2. 16 September 2012 00:38

    Premium

  3. embuh permalink
    16 September 2012 07:06

    bebek mantap … apalagi bebek goreng qiqiqiqi

  4. laskarjawa permalink
    16 September 2012 13:38

    beat injeksi datang semakin ramai lagi. Untung tinggal didesa. Gak ada kata macet.

  5. 16 September 2012 14:54

    wah,saya juga di seminyak ada tgs
    kantor Pak..pak Edo dmana ni?hehe

  6. Ejawantah's Blog permalink
    16 September 2012 20:21

    Bali stres Pak, jalanannya macet penuh dengan kendaraan dan kecil-kecil.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  7. 16 September 2012 20:23

    di bali vario mendominasi jalanan,tapi sayang angkot jarang ada,jadi kalo mau kemana2 mesti pakai taksi.

  8. 18 September 2012 17:54

    saya pernah tinggal 3 taun di Kuta, baru dua bulan ini pindah ke Rembang Jateng, taun 2009 lalu lintas masih nyaman, tp skrg macet dimana2, bahkan naek motorpun bisa bikin stress, kembalikan bali seperti duluuuuu. FYI, sewa mobil 350rb itu termasuk supir? kl avanza tanpa supir harga 150-175rb.

  9. Visco Dutha Parawangsa S permalink
    26 September 2012 16:58

    saya mahasiswa kampus unud. Keadaan jalan memang macet. Jam brangkat dan pulang kerja dijamin macet, apalagi sekitaran bypass ngurahrai-simpangsiur. Naik bis sarbagita dari kampus unud di kute ke denpasar bisa 2 jam lebih kalo macet. Rata rata mobil yg mendominasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: