Lanjut ke konten

Gonjang-ganjing Pembatasan Sepeda Motor

6 September 2012

DUA hari terakhir pada awal September 2012, saya menerima email dan pesan black berry messenger (BBM) soal pemberitaan pembatasan jarak tempuh sepeda motor. Ada yang bertanya, ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Lalu, apa sih maksud soal pembatasan jarak tempuh.
Saya coba caritahu, ternyata, topik pembatasan yang dimaksud rupanya terkait dengan pernyataan Kepala Korlantas Polri, Inspektur Jenderal Pudji Hartanto. Sebagaimana dilansir mediaonline, gagasan itu terkait dengan sepeda motor yang lebih berisiko celaka saat menempuh jarak jauh.
Kepolisian, kata Pudji, seperti dilansir http://www. tempo.co, akan menyiapkan aturan khusus sepeda motor agar tidak melampaui jarak yang melebihi kemampuan mesin. Ia mencontohkan salah satu poin aturan itu akan melarang sepeda motor bernomor polisi B (Jakarta) untuk memasuki daerah Bandung (nomor polisi D).
Berarti, peraturan sedang disusun. Bisa dong masyarakat mengajukan usulan atau pendapat.
Terkait hal itu, sebagai orang awam, saya coba menitipkan pesan. Karena saya yakin, lontaran pendapat Korlantas di atas, bagian dari testing on the water.
Saya menangkap kesan, aturan sepeda motor tidak boleh menempuh jarak jauh terkait erat dengan pergerakan sepeda motor di musim mudik Lebaran. Hal itu terutama akibat tingginya keterlibatan sepeda motor dalam kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Setidaknya, dari pemberitaan berbagai media massa, sepeda motor disebut-sebut sebagai kendaraan yang paling banyak terlibat yakni sekitar 72%. Entah jika dari sudut jumlah fatalitas atau korbannya. Saya tidak punya data hal itu.
Kepala Bagian Analis Kebijakan Korlantas Polri Kombes Pol Adnas, seperti dilansir harian Investor Daily, Rabu, 29 Agustus 2012, menuturkan, jumlah kasus kecelakaan lalu lintas selama musim lebaran 2012 (H-8 sampai H+6) berdasarkan

hasil pantauan seluruh Polda se Indonesia sebanyak 5.233 kasus kecelakaan. Korban meninggal dunia 908 korban, luka berat 1.505 orang, luka ringan 5.139 orang dengan kerugian material diprediksi sebesar Rp 11,125 miliar.

Dia menjelaskan, faktor-faktor penyebab kecelakaan terdiri atas 28% (faktor manusia), 20% (faktor alam), 18% (faktor kendaraan), dan 15% (faktor jalan).

Lagi-lagi, fakta menunjukan, faktor manusia sebagai pengendara menjadi pemicu utama kecelakaan. Entah karena mengantuk, lelah, atau tidak tertib saat mengemudikan kendaraan.
Nah, jika alasan pembatasan sepeda motor menempuh jarak jauh, setidaknya 200 kilometer, dikaitkan dengan tingginya keterlibatan sepeda motor dalam kasus kecelakaan di musim mudik Lebaran, rasanya berlebihan. Fatalitas kecelakaan saat mudik Lebaran 2012, seperti data yang sudah dipublikasikan, rata-rata per hari menewaskan 57 jiwa. Sedangkan di luar musim mudik Lebaran, khususnya pada 2011, rata-rata per hari sekitar 86 jiwa. Artinya, fatalitas lebih rendah saat musim mudik dibandingkan angka sepanjang tahun.
Jumlah kecelakaan lalu lintas jalan selama musim mudik lebih rendah jika dibandingkan jumlah kasus kecelakaan sepanjang tahun.
Sebagai ilustrasi, pada musim mudik 2011, jumlah kasus kecelakaan sebanyak 4.744 kasus, sedangkan sepanjang tahun 2011, sekitar 109 ribuan kasus kecelakaan. Kalau sudah begitu, artinya, saat berkendara pada hari-hari biasa lebih berbahaya ketimbang saat musim mudik dong?


Seputar Pembatasan

Setahu saya, pembatasan sepeda motor tertuang di dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pada pasal 133, ayat 2 point (c) disebutkan pembatasan lalu lintas sepeda motor pada koridor atau kawasan tertentu pada waktu dan jalan tertentu.

Sedangkan dalam peraturan pemerintah (PP) No 32/2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak, Serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas yang terbit pada 21 Juni 2011, atau sekitar dua tahun setelah UU No 22/2009 diterbitkan, pembatasan motor juga diatur lebih rinci.

Dalam pasal 60, PP 32/2011dijelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan manajemen lalu lintas maka bisa dilakukan pembatasan lalu lintas sepeda motor pada koridor atau kawasan tertentu pada waktu dan jalan tertentu.
Nah pada pasal 70 disebutkan; (1) Pembatasan lalu lintas sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf c dapat dilakukan apabila pada jalan, kawasan, atau koridor memenuhi kriteria paling sedikit:
a. memiliki perbandingan volume lalu lintas kendaraan bermotor dengan kapasitas jalan pada salah satu jalur jalan sama dengan atau lebih besar dari 0,5 (nol koma lima); dan b. telah tersedia jaringan dan pelayanan angkutan umum dalam trayek yang memenuhi standar pelayanan minimal pada jalan, kawasan, atau koridor yang bersangkutan.

Lalu, pada ayat (2) Pemberlakuan pembatasan lalu lintas selain memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperhatikan kualitas lingkungan.
Sedangkan di pasal 71 diuraikan bahwa pembatasan lalu lintas sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 70 ayat (1) dilakukan dengan cara melarang sepeda motor untuk melalui lajur atau jalur pada jalan tertentu.

Dari paparan UU No 22/2009 dan PP 32/2011 tidak mencuat secara eksplisit pembatasan lalu lintas sepeda motor untuk jarak jauh. Melainkan lebih kepada pembatasan berdasarkan koridor, waktu, dan jalan tertentu.
Dan uniknya, tidak ada alasan secara eksplisit demi keselamatan para pengguna sepeda motor atau agar pemotor terhindar dari kecelakaan lalu lintas jalan. Maklum, sesuai UU No 22/2009, manajemen kebutuhan lalu lintas kriterianya adalah; a. perbandingan volume lalu lintas kendaraan bermotor dengan kapasitas jalan,b. ketersediaan jaringan dan pelayanan angkutan umum, serta c. kualitas lingkungan.

Kembali soal pemanfaatan sepeda motor untuk transportasi mudik Lebaran dan kaitannya dengan kecelakaan lalu lintas. Bagi saya, ada sebuah pertanyaan besar. Kenapa pemanfaatan kendaraan pribadi demikian besar? Seperti dilansir http://www.tempo.co, sesuai catatan Kepolisian, jumlah sepeda motor yang dimanfaatkan untuk perjalanan mudik Lebaran 2012 mencapai 2.514.634. Angka ini naik 6,16% dibandingkan 2011 yang mencapai 2.368.720 kendaraan. Sedangkan jumlah mobil pribadi mencapai 1.605.299 unit, naik 5,60% dibandingkan 2011 yang mencapai 1.520.150 unit.
Total pemudik, seperti dilansir Posko Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2012 di Kementerian Perhubungan, pada H-7 hingga H+6 (Minggu pagi), mencapai 13,61 juta orang atau naik 8,55% dibanding periode yang sama tahun lalu yang masih 12,53 juta. β€œPemudik tertinggi yakni yang menggunakan moda angkutan jalan sebanyak 4,56 juta orang,” tulis situs http://www.bisnis.com.
Artinya, ada kekeliruan dalam moda transportasi kita. Kenapa pemudik lebih suka menggunakan kendaraan pribadi? Bisa jadi karena angkutan umum yang tersedia tidak mampu mengangkut pemudik yang mencapai belasan juta orang. Atau, angkutan umum yang tersedia tidak aman, nyaman, dan selamat serta dianggap terlalu mahal untuk ukuran kantong kebanyakan orang.
Disisi lain, kendaraan pribadi bisa dimanfaatkan untuk wara-wiri oleh pemudik ketika tiba di kampong halaman. Di sini, menunjukan sistem transportasi di kota tujuan atau di desa tujuan juga kurang memadai.

Kalau sudah begini, kemana tanggung jawab penyelenggara transportasi kita? Kenapa pemerintah gagal mewujudkan transportasi yang mampu menyokong mobilitas secara maksimal?

Soal lain adalah perlunya ketegasan para penegak hukum dalam mengatur para pengguna jalan. Penegakan hukum yang tegas dan konsisten bisa meminimalisasi jumlah kasus kecelakaan. Maklum, faktor manusia yang cukup menonjol adalah cara berkendara yang tidak tertib alias melanggar aturan yang ada. Kalau begitu, butuh penegakan hukum yang tegas. Saya yakin, para pengguna jalan kita bisa patuh dan tertib jika penegakan hukum bisa maksimal, tidak tebang pilih, tegas, transparan, dan kredibel.
Wong saat kita berkendara di negara tetangga, Singapura yang penegakkan hukumnya tegas para Warga Negara Indonesia (WNI) bisa berlaku tertib kok.

Secara sederhana persoalannya adalah karena moda transportasi publik dianggap belum memadai, masyarakat menggunakan kendaraan pribadi. Kebetulan, jenis kendaraan yang lebih banyak terjangkau kocek masyarakat adalah sepeda motor.
Sepeda motor adalah solusi atas ketidakbecusan penyelenggara transportasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Siapa sih yang mau berletih-letih dan menanggung risiko tinggi jika tersedia transportasi publik yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Lihat saja di program-program mudik bareng yang digelar korporasi. Dipadati oleh para pemudik yang memilih ikut naik bus berpendingin udara. Tinggal duduk, sampai kota tujuan.
Atau, lihat bagaimana penumpang kereta api meningkat 20-an% pada musim mudik Lebaran 2012. Tapi, karena kapasitas angkutnya tidak memadai dan belum terkoneksinya kereta api dengan moda transportasi lain secara baik, masyarakat memilih kendaraan pribadi.
Soal perilaku berkendara dan penegakan hukum menjadi dua variabel penting lainnya dalam menekan kasus kecelakaan. Pengguna jalan harus lebih mampu menerapkan manajemen perjalanan yang memberi porsi cukup untuk beristirahat. Lalu, penegakkan hukum terhadap pelanggaran juga harus lebih digencarkan.
Wah jadi ngelantur kesana kemari. Intinya, pembatasan sepeda motor untuk jarak jauh dengan dalih menurunkan kecelakaan lalu lintas jalan, rasanya kurang tepat sasaran. Terbukti, kecelakaan harian lebih tinggi ketimbang saat arus mudik. Kecelakaan di dalam kota lebih tinggi. Itu pendapat saya, bisa saja keliru. (edo rusyanto)

35 Komentar leave one →
  1. 6 September 2012 04:10

    gue yakin ini cuma testing on the water, kalo ampe beneran dilakukan ya lbay banget itu polisi…
    tranportasi publik yg paling penting buat digalakkan

  2. 6 September 2012 07:07

    kuncinya ada tiga….
    1. infrastruktur.
    2. infrastruktur
    3. infrastruktur…

    itu dibenahi dulu, yg lain bakal beres… πŸ˜€

  3. 6 September 2012 08:31

    Waduh, saya pernah kebablasan dari Jakarta sampe Surabaya boncengan berdua naik supra 100 πŸ˜€

  4. 6 September 2012 12:05

    pemerintah lebih senang mengatasi masalah secara instan, soal akibat dari kebijakan tsb tidak dipikir. Yang penting rakyat bisa beli motor, bayar pajak, tapi mobilitasnya dibelenggu. Top banget.

  5. 6 September 2012 12:52

    Kalau diberlakukan pembatasan jarak ya konyol banget jadinya..

  6. ismun permalink
    6 September 2012 12:59

    Sekilas info penjualan motor Yamaha Agustus 2012

    Model β€”β€”-Unit β€”β€”Pangsa %

    Soul GT 29.754 β€”β€” 53.5%
    Mio J FI 25.549 β€”β€” 46%
    Fino 163 β€”- 0.3%
    Mio Sporty 91 β€”β€” 0.2%
    Xeon 12 -—– 0%
    Sub Total Matik 55.569 β€”β€” 41.78%

    New Jupiter Z 19.815 β€”β€”- 45.3%
    New Jupiter MX 12536 β€”β€”28.7%
    Vega ZR 11.395 -—– 26%
    Sub Total Bebek 43.746 β€”β€” 32.87%

    Vixion 24.303 –—- 72.1%
    Byson 9.109 β€”β€”27%
    Scorpio 293 —–– 0.9%
    Sub Total Sport 33.705 β€”β€”25.34%

    Total 133.020 —––100%

    sumber:
    http://otomotif.kompas.com/read/2012/09/06/3996/Agustus.2012.Penjualan.Yamaha.Menciut

  7. 6 September 2012 13:22

    Pemerintah Asbun? Mendingan anak TK yang jadi Pemerintah, minimal Rakyat ngak marah kalau salah.

    Kecelakaan motor selalu di itung-itung tampa penjelasan. Emangnya motor itu celaka sendiri? Sebagian besar melibatkan kendaraan lain(mobil bus Truk dll) karena yang celaka cuma pengendara motor truk bis dan lainya yang terlibat tidak dihitung sebagai kecelakaan. Sebagian lain karena infrastruktur jalan rusak oleh kendaraan lain tapi yang menanggung resiko pengendara motor. Dan sebagian lanya emang ada faktor pengendara.

    Tapi penglihatan saya di jalanan persentase pengendara motor yang tidak safety dari semua pemilik motor yang ada mungkin cuma 1 %. Tapi coba liat pengendara mobil pribadi yang tidak tertip saling nyerobot atau tidak mau mengalah pada kendaraan lain di persimpangan/lapu merah dengan penumpang hanya sopir doang, bikin macet dan kisruh, perkiraan saya hampir 15% dari pemilik mobil pribadi. Hal ini saya dapati setelah 6 bulan lebih membawa mobil.

    Maaf bagi pengguna mobil tertenu, saya berharap tapi jangalah motor selalu menjadi korban opini orang orang yang tidak mau kesenangan terganggu seperti anda dengan menambah kesusahan orang-orang yang sudah susah.

    • Abdi nu Dhaif permalink
      10 September 2012 19:04

      Top banged analisis sampeyan, Gan terutama poin ini : “Sebagian lain karena infrastruktur jalan rusak oleh kendaraan lain tapi yang menanggung resiko pengendara motor”. Saya sendiri rider yg sering bolak-balik Bandung – Sukabumi. Banyak jalan rusak. Jelas, pengendara sepeda motor yg musti menanggung akibatnya.

  8. 6 September 2012 13:29

    wiiik… kalo dari sudut pndang instansi lain yg terkait dengan penggunaan jalan gimana? karena masalahnya banyak yg terkait dan solusinya bukan dari satu atap instansi aja kang…

  9. 6 September 2012 14:40

    jadi mumet…
    http://www.gombongmotorcommunity.com

  10. 6 September 2012 15:59

    Mikirnya bagaimana, membatasi motor berplat B gak boleh masuk bandung, (ini kalau khusus plat B), bagaimana kalau sebaliknya. Dan tentunya daerah-daerah lain juga. Trus bagaimana penduduk yang ada di daerah perbatasan, apa gak repot.

  11. 6 September 2012 16:17

    kecelakaan juga banyak terjadi dari angkutan umum, apalagi sopir bus yang ugal ugalan, malah ga mau ngalah sama pengendara motor….
    wew kita tunggu saja realisasinya http://hondarevoclubjakarta.com/home

  12. 7 September 2012 10:00

    polisinya males kerja jadi bikin aturan macem macem, kasih setiap jaminan untuk menggantikan ongkos tambahan bagi orang yg berpergian ke luar daerah (touring, mudik, dsb)Dasar polisi nggak pakai otak. Benahi / instropeksi dulu kedalam jajarannya kalau sudah beres dan bisa jadi contoh dan pengayom masarakat sebenarnya baru bikin aturan.

    Kalau mau minim kecelakaan bikin peraturan orang dilarang naik kendaraan, saya yakin kecelakaan kendaraan nol persen, di dalam rumah saja orang bisa celaka. Bikin prasarana jalan yg memadai & petugas jangan di kantor saja. Kalau macet kadang sama sekali nggak ada petugas polisi. Tapi kalau jalanan lengang ada saja polisi yg razia. Polisi lebih bermanfaat mengatasi macet dari pada merazia orang..

    Ini bukti motor nggak bikin macet.

  13. 7 September 2012 11:47

    Lugas pembahasanya…. lengkap…. harus di benahi donk tansportasi publik nya…. warga dengan senang hati akan naek transportasi publik

  14. 7 September 2012 11:49

    Pengendara motor yang pada bloon ,suka nyrmpet kendaraan lain mis;bus,truk,mobil pribadi.
    Saya pernah lihat di pom bensin aja pengendara motor kayknya ga punya mata ,bus udah nyalain lampu sen masih sepeda motor ngotot ,imbas nya dia di gilas ban belakang truk. Orang orang bukan bantuin malah ngomong ‘mampus kau ,ini membuktikan ego seorang pengendara motor.

  15. 7 September 2012 15:59

    kalau dengan argumen seperti itu kayaknya aturan tersebut sangat tendensius, ingin membatasi mobilitas rakyat kecil, yang kemampuan untuk berpergian cuma pake motor & angkutan umum, saya kira benahi dulu transportasi umumnya, infrastruktur, layanan segala tetek bengeknya lah sekalian, jadi saran saya buat yang bikin aturan kaya gitu harus tahu data & faktanya dulu bro,karna hal itu menyangkut hajat hidup orang banyak, kalau sampai disahkan itu terlaaaaaaaaluuuuuuuu.

  16. ceritaminimagazine permalink
    7 September 2012 16:21

    mungkin pembatasan produksi motor di negeri ini juga penting….

    • Ip Santoso permalink
      11 September 2012 23:14

      bagaimana kl pembatasan cylinder sj, kl diperkecil kan tdk ada motor kebut-kebutan

  17. user_aja permalink
    7 September 2012 20:35

    gimana jadinya nasib gw yg sering bolak balik jakarta bandung tiap minggu pake motor klo ada aturan kaya gitu,

  18. 8 September 2012 08:56

    hmmmmmmmmmmmm

  19. Abdi nu Dhaif permalink
    10 September 2012 19:09

    Ribet amat bikin aturan. Selalu saja sepeda motor yang dimarginalisasi. Dimana letak keadilan, jika motor dipake berdua, sedangkan banyak mobil hanya berisi satu penumpang. Sebaliknya, banyak jalan rusak akibat truk-2 kelebihan muatan. Lalu, sepeda motor yang terperosok.

  20. cahyo permalink
    11 September 2012 10:25

    jujur bapa-bapa polisi kalo sy punya mobil mah mending bepergian pake mobil, tp da adanya motor gimana atuh. naik umum lama, mahal, dan rawan kejahatan

  21. Ip Santoso permalink
    11 September 2012 23:05

    Sepertinya bukan keputusan yg bijak, 1 contoh kendaraan nopol bandung gak boleh masuk jakarta…. bagaimana seandainya org bandung yg kerja dan tinggal sementara di jakarta butuh operasional motor sehingga membawa motor dari bandung, apa harus mutasi dulu baru bisa dipakai di jakarta? kalau seperti itu kasusnya berarti masyarakat sangat terbebani.

    Mengapa tidak dibuat jalur terpisah saja antara mobil dan motor, sehingga antara mobil dan motor tidak menjadi satu ruas jalan?

    Atau mungkin yg lebih extrim dibuat batasan masa usia motor dan mobil yg boleh digunakan di jalan raya, sehingga dapat menekan angka peredaran kendaraan bermotor.

  22. Rash Kenegawa permalink
    14 September 2012 12:53

    Seandainya ada jalur khusus kendaraan non roda empat dan lebih bagaimana ya? Motor menjadi favorit untuk perjalalan luar dan dalam kota karena dapat “nyempil” disetiap kemacetan, tapi disitulah “nyempil” itu yang dapat berakibat fatal..yaa kalau begitu..Manusianya lah yang harus lebih WASPADA dan SABAR…

  23. MAS BEJO SUBEJO permalink
    21 Oktober 2012 05:37

    IDENYA BAGUS DAN SAYA SANGAT SETUJU, TETAPI PEMERINTAH JANGAN CUMA BISA MELARANG DAN MEMBATASI, TAPI YG PENTING LEBIH DULU MEMBENAHI DAN MENYEDIAKAN ALAT TRANSPORTASI YG BAGUS, TERJANGKAU AMAN NYAMAN. KALO MASYARAKAT MASIH NEKAT YA,,,,SANGSI BERLAKU DONG. MASYARAKAT JUGA HARUS MAU DIATUR,,,KALO NGGAK MAU DIATUR YAA BIKIN AJA NEGARA SENDIRI.

  24. Willy permalink
    8 November 2012 18:28

    Gmn mau gak kecelakaan? Lagi jalan anteng2 tiba2 ada lobang gede menganga, tiba2 jalan mulus brubah jadi kriting, lg jalan santai tiba2 dipotong angkot/bis yg brenti tiba2 dari kanan ke kiri.
    Apalagi jalan luar kota/jarak jauh, ga ada yg kecepatannya pelan. Setidaknya 60kpj.

  25. shaqi permalink
    12 November 2012 10:54

    Sebenernya penyebab ini smua adalah trletak pada diri kita masing” apakah kita sudah mampu untuk menahan diri serta bisa bersabar dalam berkendaraan, jd sebelum biberlakukan PJTP mohon pihak pembuat ( Pemerintah ) untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan , apa tdk lebih baik sebelum diberlakukan ya minimal diberikan pemantapan mental,serta cara” berkendara yg baik agar tdk merugikan dirinya sendiri serta pengguna jalan umumnya, contoh kecil ketika saya akan berbelok pd jarak kira’ 20meter saya sdh memberikan tanda lampu sein tp entah mengerti apa tdk pengendara di belakang saya tetap memaksakan diri ingin melewati saya sambil membunyikan klaksonnya … apa disini si orng tersebut mengetahui setiap fungsi item dikendaraan apa memang dia ingin mencelakakan orng lain karena kebodohan dia ?? ” Always Safety Riding & Saling Berbagi sesama pengguna Jalan “

Trackbacks

  1. Masih Seputar Isu Pembatasan Jarak Tempuh Pengendara « JurnalBikers
  2. Ini Bukti Pembatasan Motor Sebatas Wacana « Edo Rusyanto's Traffic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: