Lanjut ke konten

Bahas Road Safety di Lembang Bandung

13 Agustus 2012


Bro Danny Bajjoka, kiri. (dok fb danny)

Danny “the Crazy Chef ” Bajjoka, begitu julukannya. Pria muda anggota klub penunggang Bajaj Pulsar, Bajjoka, Majalengka itu, bertemu dengan saya di kawasan wisata, Jadul Village Resort and Spa, Lembang, Bandung. Penampilannya sederhana, tapi bicaranya tegas. Penuh optimisme.
Kami bersua tanpa sengaja. Saat itu, saya sedang bertandang ke kawasan wisata nan sejuk di Lembang. Usai santap malam dan menikmati kopi campur susu, perbincangan kian larut di Sabtu (11/8/2012) malam hingga jelang Minggu (12/8/2012) dinihari.
“Pengetahuan soal keselamatan bersepeda motor (safety riding) sering didiskusikan di klub kami,” sergah pria penunggang Pulsar 135 itu.
Dia bercerita bagaimana klubnya menerapkan safety riding. Mulai dari penggunaan safety gear hingga soal perilaku yang tidak ugal-ugalan di jalan. “Bahkan, kami menerapkan sanksi moral jika ada anggota yang memakai sandal ketika kopdar,”sergahnya.
Saya pun larut dalam perbincangan. Kami membahas soal keselamatan jalan (road safety) secara makro. Bagaimana pentingnya penerapan berkendara yang aman dan selamat untuk kepentingan semua pengguna jalan. Dimulai dari kesadaran diri sendiri untuk berkendara yang aman dan selamat. Lalu, bagaimana menghargai pengguna jalan yang lain, hingga pentingnya menaati aturan yang ada. Bukan apa-apa, benar kata pak polisi, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan.
Di tengah itu semua, perbincangan pun meluas soal bagaimana sikap kita jika terpaksa terlibat dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Soal yang tak bisa dilupakan adalah mengurus hak para pengguna jalan soal santunan Jasa Raharja. Bagi pemotor yang sudah membayar sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan (SWDKLLJ), hak menerima santunan menjadi mutlak. Pengurusan santunan tersebut harus dilengkapi surat keterangan dari kepolisian, rumah sakit plus bukti kwitansi, dan surat-surat lain, seperti bukti ahli waris jika sang korban meninggal dunia.
”Wah, informasi ini penting sekali untuk disosialisasikan ke anggota klub kami,” tukas bro Danny.
Dia mengaku, saat diskusi atau membahas safety riding di klubnya, soal mengurus santunan Jasa Raharja tak pernah disinggung. Danny mengaku, tak banyak teman-teman dan orang yang dia kenal mengetahui mekanisme mengurus santunan. Terlebih, kata dia, soal hak pengguna jalan jika mengalami kecelakaan tunggal.


Suasana Jadul Village Resort and Spa, Lembang, Bandung. (dok edo)

Nah, soal yang satu ini, kecelakaan tunggal, memang ada klausul khusus di Jasa Raharja. Santunan yang diberikan kepada pengguna jalan yang mengalami kecelakaan tunggal disesuaikan dengan kebijaksanaan direksi Jasa Raharja. Artinya, bisa saja diajukan santunannya, namun mesti menyampaikan surat permohonan agar dikeluarkannya kebijaksanaan direksi tadi.
Kita tahu, santunan bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan dari Jasa Raharja jumlahnya sebesar Rp 25 juta untuk korban meninggal dunia. Sebuah angka yang kecil jika dibandingkan santunan di negeri jiran seperti Malaysia yang sebesar Rp 2,4 miliar dan Singapura Rp 3,6 miliar. Sekalipun begitu, kita para pemotor harus memahami hak selain kewajiban berkendara yang aman dan selamat di jalan raya.

”Ini informasi yang lebih penting agar teman-teman saya mengerti,” tambah bro Danny.
Selain bertemu bro Danny, malam itu saya juga berjumpa dengan bro Martin yang sehari-hari menunggang Honda Tiger. Dia tergabung dalam Tiger Asosiasi Bandung (TAB). ”Soal santunan Jasa Raharja banyak yang tidak tahu cara mengurusnya pak Edo,” tutur dia.
Malam terus bergulir menepi ke dinihari. Menjelang pamit kembali ke Jakarta, Minggu dinihari, bro Danny sempat menunjukan tunggangan yang setia menemaninya sehari-hari, Pulsar 135. (edo rusyanto)

5 Komentar leave one →
  1. 13 Agustus 2012 00:31

    Safety ridding harga mati buat biker. Mari kita sosialisasikan bagaimana keselamatan berkendaraan. Pengetauan dari mulai perlengkapan diri, kendaraan yang layak pakai sampai kelengkapan surat kendaraan. Kedisiplinan itu harus dimulai dari diri kita sendiri.

  2. sponge bob permalink
    13 Agustus 2012 04:09

    kok jumlah santunannya banyakan di singapura n malaysia?
    tanya kenapa?
    padahal jumlah pengendara banyakan di indonesia. apa karena preminya kecil?

  3. sponge bob permalink
    13 Agustus 2012 04:15

    kaya ga tau aja birokrasi di indonesia??..
    kalo bisa dipersulit.. kenapa harus dipermudah?..
    itu sudah menjadi budaya..

  4. haroem permalink
    13 Agustus 2012 16:06

    Mantapp Virus Safety Riding sudah menyebarluas.. berharap dengan banyaknya sosialisasi berkurang juga angka kematian di jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: