Lanjut ke konten

RSA Berkabung, Selamat Jalan Pak Giri…..

28 Juni 2012


Pak Giri, tengah memakai kemeja putih lengan pendek, usai silaturahmi dengan pengurus RSA (dok rsa)

KAMI kehilangan sosok yang gigih, inspiratif, dan bersahaja. Kecerdasan dan semangatnya luar biasa. Itu yang terpancar setiap saya dekat dan berbicara dengan Giri Suseno Hadihardjono, mantan menteri perhubungan (menhub) Republik Indonesia.
Kehangatan dan semangat itu terus terasa, sekalipun Sang Pencipta memanggil pria kelahiran Solo, 5 Januari 1941 itu, pada Rabu (27/6/2012) petang.
Kita semua kehilangan. Mantan Menhub itu wafat Rabu, 27 Juni 2012, sekitar pukul 17.08 WIB di RS Mitra Internasional Ramsay, Jatinegara, Jakarta Timur. Beliau meninggal karena sakit dan sempat dirawat selama sepekan.
Giri Suseno Hadihardjono menjabat Menteri Perhubungan pada era Kabinet Reformasi Pembangunan pimpinan Presiden BJ Habibie. Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan, salah satu jasa almarhum adalah ketika menyusun sistem transportasi darat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Sistem tersebut dikembangkan pada awal tahun 1980-an. Saat itu, almarhum masih menjabat Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
Di masa pensiunnya, Giri Suseno yang meraih Sarjana Teknik Mesin dari Institut Teknologi Bandung pada 18 April tahun 1964 tersebut, aktif menggelorakan keselamatan jalan. Aktifitasnya selaku ketua Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia banyak menginspirasi para pejuang keselamatan jalan. Catatan kelam kecelakaan lalu lintas jalan yang tiap hari merenggut tak kurang dari 68 jiwa, membuat gerah pria kelahiran Solo tersebut. Beberapa tahun terakhir, Giri gigih merajut sinergi para pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan. Gerakannya menyambangi pihak-pihak seperti kementerian perhubungan, kementerian pekerjaan umum, kepolisian RI, hingga pemerintah daerah, tak pernah letih.
“Perjuangan harus dengan hati. Kita butuh sinergi yang kuat untuk gerakan keselamatan jalan di Indonesia,” sergah peraih Master Of Science In Engineering dari The University Of Michigan pada 13 April 1966 itu, pada suatu ketika di Jakarta.

Dia menyerukan agar seluruh kekuatan masyarakat dan pemerintah bahu membahu menyebarluaskan pemahaman keselamatan berkendara. Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki catatan buruk terkait kecelakaan lalu lintas jalan. Sejak tahun 1992 hingga 2012, ratusan ribu jiwa anak negeri tewas sia-sia akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Belum lagi ratusan ribu lainnya yang menderita luka ringan dan luka berat. Kecelakaan menimbulkan trauma. Belum lagi kerugian materi yang pada 2011 saja mencapai Rp 200 triliun.
Wajar, jika Giri Suseno begitu miris melihat kondisi tersebut. Selain di GRSP, beliau juga menjadi penasihat di lembaga swadaya masyarakat (LSM) Road Safety Association (RSA) yang berdomisili di Jakarta. Gagasan dan suntikan semangatnya pada RSA memberi inspirasi anak-anak muda bergerak tanpa pamrih. Berjuang menyerukan pentingnya berkendara yang aman dan selamat untuk menyelamatkan anak negeri.


Pak Giri bersama para pengurus RSA. (dok rsa)

Secara nasional, sosok Giri Suseno juga amat memberi warna gerakan keselamatan jalan melalui ajang Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) sejak tahun 2008. Dia pula yang secara kritis menyikapi lemahnya sinergi di kalangan stakeholder keselamatan jalan. ”Ego sektoral merupakan penyakit,” kata Giri Suseno dalam suatu kesempatan.
Bagi Giri Suseno, ego sektoral bisa dihilangkan jika semua berpikir untuk manfaat masyarakat luas. Termasuk soal target 50% selama 10 tahun untuk menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia sepanjang 2011-2020.
Kini, pria yang pernah menjabat sebagai menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) itu mendahului kita menemui Sang Khalik. “Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT, masih terngiang oleh saya ketika terakhir bertemu beliau,dan mengatakan ‘pergerakan yang dimulai dari sini (memegang dada) akan jauh lebih baik, daripada pergerakan dari sini (menunjuk kepala)’, beliau mengapresiasi kami sebagai pergerakan dari hati untuk keselamatan berkendara,” tutur bro Rio Octaviano, ketua umum RSA Indonesia.
Selamat jalan Pak Giri, beristirahatlah dengan tenang. Perjuanganmu terus kami gulirkan, menuju Indonesia yang bersih dari petaka di jalan raya. (edo rusyanto)

15 Komentar leave one →
  1. 28 Juni 2012 00:06

    selamat jalan

  2. 28 Juni 2012 00:11

    turut berduka cita
    dan slamat jalan eyang giri 😦

  3. 28 Juni 2012 00:36

    Ikut berduka, selamat jalan…

  4. Kodokz Jambanz permalink
    28 Juni 2012 05:28

    turut berduka cita.

  5. 28 Juni 2012 12:09

    ijin menyimak dan nitip artikel mas
    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/06/28/rasa-puas-itu-seperti-apa/

    terima kasih

    semoga Allah terima semua amalnya…

  6. Ied Bucung permalink
    28 Juni 2012 15:09

    Selamat Jalan
    semoga Amal ibadah diterima di sisi Tuhan YME.

  7. 28 Juni 2012 16:47

    turut berduka cita eyang. . .

    semoga bermunculan penerusnya

    keep brotherhood,

    salam,

  8. fesoy permalink
    4 Juli 2012 10:19

    turut berduka… selamat jalan Pak Giri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: