Lanjut ke konten

Belajar dari Kasus Ade-Veronika

14 Mei 2012

JALAN raya punya segudang cerita. Lewat jalan raya pula, para penggila gadget dan kalangan jetset bisa menikmati kecanggihan teknologi informasi. Mau lewat mana mengangkut gadget android canggih yang mereka pakai? Pasti lewat jalan raya kan?
Namun, kisah Ade dan Veronika bukan soal kecanggihan gadget yang bisa memodifikasi foto menjadi lebih apik. Kisah keduanya seputar pengendalian emosi saat terjebak insiden kecelakaan. Ironisnya, Ade mendekam di hotel prodeo selama dua minggu. Buat kebanyakan dari kita, jangankan dua minggu, satu hari saja barangkali rasanya dunia mau kiamat. Kebebasan hilang.
Cerita bermula ketika suatu siang, Minggu, 22 April 2012, Ade Abidin bersepeda motor di Jl Veteran, Sukabumi. Dia tak sendiri, ada sang isteri tercinta yang ikut membonceng. Beberapa saat kemudian muncul Veronika dari arah berlawanan. Wanita muda pengendara Honda Jazz itu pun berserempatan dengan pria berusia 56 tahun itu. Veronika yang sedang hamil lima bulan itu, tetap melaju karena tak merasa ada apa-apa. Terjadilah aksi pengejaran oleh Ade. Hatinya membara.
Pengejaran berhenti. Tak cukup perang mulut, Ade ambil aksi main tangan. Wajah Veronika berlumuran darah. Dia tak terima. Sebagai wanita tak berdaya, dia menelepon sang suami, seorang petugas polisi.
Kisah tak berhenti disitu. Ade dituding melakukan penganiayaan. Masuk akal karena Veronika terluka. Jadilah Ade mendekam di balik jeruji hingga akhirnya Kapolres turun tangan mendamaikan kasus itu. Veronika mencabut laporannya dan Ade pun bebas. Pada 8 Mei 2012, dia sudah menghirup udara bebas.
Kisah itu saya cukil dari pemberitaan di situs berita detik.com. Hikmah apa yang bisa kita petik dari kejadian itu? Silakan tafsirkan masing-masing.

Berkendara Redam Emosi

Walau, bagi saya, insiden serempetan kendaraan di jalan raya bukan tak mungkin bakal menimpa kita para pemotor. Peluangnya cukup tinggi. Bukan apa-apa, jumlah kendaraan di Jakarta sudah demikian padat. Tak kurang dari 11 juta kendaraan yang tercatat di Polda Metro Jaya yang menaungi Jakarta. Upaya kita hanya memperkecil terjadinya serempetan.
Nah, manakala serempetan atau insiden kecelakaan terjadi, prioritas utama adalah mengatasi luka yang ada. Upaya mendamaikan pihak-pihak yang terlibat penting dijalankan. Semasih ada celah kekeluargaan, silakan ditempuh. Singkirkan emosi. Kondisi menjadi runyam manakala emosi mengambil alih akal sehat. Bukannya menyelesaikan masalah, malah bisa menambah dosis masalah. Menyelesaikan masalah dengan masalah.
Apabila langkah hukum yang ingin ditempuh, sah-sah saja. Kasus kecelakaan lalu lintas jalan memiliki payung hukum, Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Untuk urusan yang ini sudah pasti melibatkan Kepolisian RI selaku penegak hukum. Kebanyakan dari kita merasa ribet atau repot berurusan dengan hukum. Selain menyita waktu, tenaga, dan tak jarang menguras kocek.
Hikmah lainnya adalah semaksimal mungkin kita bisa berbagi ruas jalan. Berkendara yang aman dan selamat, kuncinya, menaati aturan yang ada. Silakan dicoba. (edo rusyanto)

17 Komentar leave one →
  1. 14 Mei 2012 04:17

    Pondium MC

  2. 14 Mei 2012 07:43

    hmmm, ambil positifnya aja deh

  3. rusmanjay permalink
    14 Mei 2012 08:15

    segala sesuatu ada hikmahnya

  4. 14 Mei 2012 09:32

    saling menghargai ya mbah

  5. TDF permalink
    14 Mei 2012 10:03

    kondisi jalan yang semrawud juga berperan memicu emosi

  6. Aa Ikhwan permalink
    14 Mei 2012 12:17

    trkadang memang sulit mbah mnjg amarah d jln..kdng kl ada yg serobot sruntulan ane reaktif brsha mngejar hny skdr ingin beri peringatan.

  7. 14 Mei 2012 14:17

    Reblogged this on Triyanto Banyumasan Blogs and commented:
    Memang perlu kesabaran ekstra dalam berkendara di jalan umum, beberapa kali saya yang juga pengguna roda dua mengalami di serempet atau di tubruk mobil, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, pernah di kemacetan di tubruk kijang kena knalpot, saya diamkan saja, cuma kasih tahu untuk bersabar. terakhir di sruduk kopami jaya warna biru Kota-Muara Karang, saya berbalik dan Tenadang meski tidak berefek apapun. Hal terakhir terjadi karena saya berhenti di belakang garis putih saat lampu lalin berwarna merah dan kebiasaan angkutan umum Jakarta yang demen berhenti di depan garis putih menedekati persimpangan jalan. Kadang Sabar lebih baik memang, tapi sampai kapan..

  8. 14 Mei 2012 15:25

    veronika ini yg suaminy seorang polisi it yah..
    kita ambil nilai2 positipnya aja dah..

  9. 14 Mei 2012 23:35

    sepakat.. keep safety riding

  10. Dismas permalink
    19 Mei 2012 07:39

    Meredam emosi memang sulit. Tapi kalo sampe kontak fisik seperti itu juga salah. Keterlaluan.
    http://dizmaz.wordpress.com/2012/05/19/free-practice-2-motogp-le-mans-2012-rossi-masih-tertinggal-jauh/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: