Lanjut ke konten

Mobil Keliling dan Tiang Listrik

25 April 2012


foto:mediaindonesia.com

WARGA Jakarta bakal berpesta demokrasi pada Juli 2012. Denyutnya sudah terasa memasuki awal April 2012.
Coba tengok mobil keliling ala pasangan calon gubernur/calon wakil gubernur (cagub/cawagub) Jokowi-Ahok. Mobil berwarna putih bergambar cagub itu, berkeliling seantero Jakarta. Terutama ke titik-titik yang padat arus kendaraannya. Barangkali supaya lebih banyak dilihat orang. Oh ya, ada tulisan ‘Jakarta Baru 2012’ di poster mobil keliling itu, selain gambar wajah Jokowi-Ahok.
Jika diperhatikan seksama, gambar Jokowi-Ahok ternyata menyiratkan sesuatu di bagian kiri mobi berwarna putih itu. Keduanya berpose menata rangkaian kereta cepat. Barangkali mau menyampaikan pesan bahwa mereka bakal menata transportasi kota dengan cepat.
Bisa jadi juga bermakna bahwa pasangan baju kotak-kotak itu, memprioritaskan pembangunan transportasi yang aman dan nyaman. Membangun transportasi publik MRT agar kemacetan lalu lintas jalan menciut. Mobilitas warga kian lancar sehingga produktifitas pun meningkat.
Saat bersua Jokowi beberapa waktu lalu di kantor saya, sempat terucap soal keseriusan Walikota Solo itu, untuk membenahi lalu lintas jalan. Khususnya, dalam membangun sarana kota di sektor transportasi publik. Bahkan, dia berujar, bakal membangun trem kota. Moda transportasi berbasis rel yang sempat kondang di Jakarta atau Batavia dimasa penjajahan Belanda. Jokowi berujar, selain lebih ramah lingkungan, busrail itu juga bisa mengangkut lebih banyak penumpang.
Sekalipun demikian, semua strategi cagub/cawagub dalam mengurai kemacetan lalu lintas jalan tak bisa melepaskan konsep busway Transjakarta yang sudah dijalankan mantan gubernur Sutiyoso dan Gubernur Jakarta saat ini, Fauzi Bowo. Transjakarta beroperasi sejak 2004. Setahu saya, hingga awal April 2012, Transkarta memiliki sekitar 600 bus. Sayangnya, dari target 15 koridor, baru terealisasi 11 koridor. Jangan-jangan, sisanya baru bisa dibangun oleh gubernur yang terpilih pada pilkada Juli 2012.
Itu kisah mobil keliling Jokowi-Ahok. Cerita lain bermula dari tiang listrik. Besi kokoh yang berdiri menjulang di sisi jalan milik perusahaan setrum PT PLN itu, memasuki pertengahan April 2012 ada yang berubah wajah. Di perkampungan tempat saya tinggal di pinggiran Jakarta Timur, sudah mulai marak oleh tempelan kertas bergambar cagub/cawagub Hidayat-Didik. Tiang listrikpun marak oleh warna putih dengan gambar wajah pentolan PKS dan PAN itu.

Ada tulisan ’Tokoh Nasional yang Merakyat dan Terpercaya’ di poster itu. Selain, tentu saja potret wajah Hidayat dan Didik, lengkap dengan pakaian koko warna putih, kopiah hitam, dan sarung kotak-kotak yang diselempangkan di badan.
Saat berbincang dengan Didik di kantor saya belum lama ini, pria yang bergelar doktor itu dengan gamblang memaparkan soal transportasi massal. Orientasinya adalah bagaimana mengangkut sebanyak mungkin penumpang. “Kita bisa belajar dari Singapura. Ini diharapkan bisa mengurangi kemacetan,” sergah Didik, beberapa waktu lalu.
Menurut Didik, apa yang dilakukannya secara bertahap. Kegiatan utama adalah membangun transportasi massal. Dia mengaku, tidak akan membangun jalan tol dalam kota, melainkan bakal memperbanyak underpass dan jalan layang.
Seingat saya ada empat jurus utama dia dalam membenahi lalu lintas jalan Jakarta. Tentu, ini yang saya catat saat berbincang-bincang di kantor beberapa waktu lalu.

1. Membangun MRT dari Lebak Bulus ke Ancol dan Cililitan hingga Tanjung Priok.
2. Mengembangkan monorel lebih besar lagi.
3. Sistem angkutan kecil diintegrasikan.
4. Efektifkan busway. Tambah armada. Pasti menguntungkan.

Ngomong-ngomong, jadwal kampanye pilkada cagub/cawagub DKI Jakarta baru digelar pada 24 Juni-7 Juli 2012 loh.
Wah, jurus-jurus itu tampak moncer di atas kertas. Akankah dia kinclong juga saat implementasinya?
Sepengetahuan saya, konsep milik gubernur incumbent juga sangat molek. Namun, saat merealisasikannya bisa terseok-seok. Maklum, bicara transportasi tak bisa melepaskan aspek penting yang bernama, pengguna jalan. Perilaku para pengguna jalan juga menentukan nyaman, aman, dan selamatnya lalu lintas jalan kota. Kepolisian sebagai penegak keamanan dan keselamatan di jalan sudah sering berkoar, kecelakaan kerap kali berawal dari pelanggaran aturan di jalan. Tuh kan! (edo rusyanto)

9 Komentar leave one →
  1. rusmanjay permalink
    25 April 2012 11:33

    DKI 1?

  2. 25 April 2012 11:52

    kalo menurut saya,
    biar dia ngaku2 teman rakyat yang paling merakyat sedunia, paling jujur sejujur-jujurnya, tapi kalo kampanyenya main tempel kertas di area publik (tembok, tiang listrik, dikolong jembatan dkk) MORALNYA GAK LEBIH BAIK DARI TUKANG SEDOT WC, gak akan bisa dipercaya, biarpun itu orang pake kopyah, terus jidatnya ada tapak bekas sujud. they’re big nothing !!

    Apakah dia tidak memikirkan, bahwa kampanye model seperti itu akan menambah kotor kota ini. Saya yakin seyakin-yakinnya, abis pilkadal, team sukses mereka gak akan sudi membersihkan bekas tempelan2 yang semrawut tadi. kalo udah begini mah sama aja, habis buang t41 gak mau basuh (mau sholat gak bisa…. NAJIS !!). Semakin rusuhlah kota ini (bekas pilkadal yang lalu, tempelannya aja masih banyak).

    Lha kalo calon pimpinan aja gak bisa ngatur team suksesnya, gimana sesumbar mau mimpin rakyatnya ?? Janji mananya yang akan mereka penuhi… gak ada !!

  3. Kodokz Jambanz permalink
    25 April 2012 12:04

    janji orang bsar. dari presiden sampai pak rt adanya visi dan misi, padahal visi dan misi setiap calon beda.
    misal yg menang itu wajah baru pasti akan mulai dari awal lg. bkn pembangunan berjenjang. seharusnya siapapun yg terpilih harus merampungkan tgs pemimpin sebelumnya.
    seharusnya jg pemimin itu dikasih jatah 1 periode saja. sehingga siapapun yang memimpin tgsnya hanya melajutkan ap yg dikerjakan pemimpin sebelumnya.

  4. 25 April 2012 12:27

    jadi penonton………..

  5. irwan permalink
    25 April 2012 12:58

    usul saya kalo bs DKI 1 itu di tempati oleh org asli DKI , begitu mbahbroo,, cuma usul dan saran ajah..

  6. 25 April 2012 14:14

    saya pribadi, lebih memilih jadi public transport user, daripada jadi rider..

    selama ini, alasan saya jadi rider adalah efisiensi biaya. tapi mudah-mudahan para pemimpin baru nantinya mampu mewujudkan sarana transportasi massal yang lebih baik. aamiin 🙂

  7. 25 April 2012 15:45

    nitip tulisan mas
    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/04/25/sesibuk-apa-kamu/

    smoga bermanfaat

  8. AhMaYa permalink
    26 April 2012 08:30

    Kang , kalau memecahkan masalah lalulintas dijakarta sih PASTI SULIT walau dipimpin oleh siapapun…….lho kan memang ada MAFIA PERLALULINTASAN disini…….Semua proyek yg bakal memecahkan soal ini….PASTI DIPERLAMBAT……….oleh oknum2 yg ada

  9. JAR HEAD permalink
    26 April 2012 10:26

    aahaay…mas edo kok liat2 ginian yah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: