Lanjut ke konten

Nasib Pemotor, Diseruduk Kontainer hingga Didor

18 Maret 2012

PEMOTOR punya banyak romantika. Terlebih mereka yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Selain bisa menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan, ancaman lain pun membayang-bayangi.
Kita tahu pemotor bisa terancam segudang penyakit. Mulai flu dan sakit kepala akibat kepanasan dan kehujan, mata memerah, hingga sesak pernafasan. Selain itu, ada ancaman kriminal.
Nah, ancaman kriminalitas banyak rupa. Mulai dari kehilangan di tempat parkir, diclurit para pembegal, bahkan, ada yang didor hingga tewas. Kemana rasa aman itu?
Menjadi mutlak para pemotor untuk membekali diri sebaik mungkin. Soal kriminal misalnya, saat memarkir kendaraan bakal lebih merasa aman dengan menambah kunci kendaraan. Atau memarkir di tempat yang semestinya. Lantas, ketika tidak dirasa terlalu penting, hindari berkendara tengah malam. Kecuali terpaksa, jangan pernah lengah, kewaspadaan ditingkatkan.
Cerita menjadi berbeda manakala para pembegal memakai senjata api seperti kejadian yang menimpa warga Villa Bintaro Indah, Tangerang Selatan. Seperti dilansir detik.com, Sabtu (17/3/2012), korban yang seorang kameramen senior TVRI, tewas di dekat rumahnya saat memergoki para pencoleng. “Pelaku hendak mengambil motor, kemudian ketahuan warga. Pelaku mengeluarkan tembakan,” jelas Kapolsek Ciputat Kompol Alif saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (17/3/2012).
Melihat segudang ancaman seperti itu, mau tidak mau, pemotor harus cerdik dan senantiasa waspada. Termasuk dalam mengantisipasi risiko kecelakaan lalu lintas jalan. Jakarta mempunyai reputasi kurang sedap soal kecelakaan. Tiga tahun terakhir, setiap hari rata-rata korban tewas akibat kecelakaan sebanyak tiga orang. Hampir dua dari tiga korban adalah para pemotor.
Setidaknya, pemotor membekali diri agar terhindar dari risiko kecelakaan. Mulai dari senantiasa memeriksa kondisi kendaraan sesaat sebelum berkendara, hingga menjaga kebugaran tubuh. Soal ketaatan pada aturan menjadi absolut, termasuk saling menghargai diantara sesama pengguna jalan.
Rasanya tidak terlalu sulit untuk mengurangi segala risiko-risiko di atas. Terpenting, ikhtiar agar hidup lebih pada esok hari. Setuju? (edo rusyanto)

10 Komentar leave one →
  1. 18 Maret 2012 01:08

    ya nasib….

  2. pororo permalink
    18 Maret 2012 05:51

    pertamaXXX!!!

  3. 18 Maret 2012 10:46

    yang kecil selalu kalah . . .

  4. 18 Maret 2012 17:23

    Saling menghargailah sesama pengguna jalan,anggaplah kita semua saudara saat kita di jalan

    • 18 Maret 2012 19:37

      lalu lintas jalan yang humanis. duh indahnya. semua nyaman dan semua selamat. amin.

  5. 18 Maret 2012 19:23

    dimanapun grasak grusuk pak.
    http://zainword.wordpress.com/2012/03/18/apakah-adil-18/

  6. haroem permalink
    20 Maret 2012 09:47

    Jalanan sudah tidak aman dan nyaman lagi 😦 ..

  7. Farrel permalink
    9 Juni 2013 11:07

    Setujuu Pak Edo 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: