Lanjut ke konten

Media Massa Bisa Jadi Edukator Keselamatan Jalan

15 Maret 2012


foto:bro mitra

MAILING LIST alias milis Oto Blogger Indonesia (OBI) ramai membahas sebuah artikel tabloid Motor Plus yang menyinggung balap liar (bali). Artikel dalam edisi 679/XII, 29 Februari – 7 Maret 2012 itu, mencuatkan pertanyaan sejauh mana peran media massa dalam kampanye keselamatan jalan?
Diskusi ringan di milis yang berlangsung Kamis (15/3/2012) siang itu, bagi saya sebuah pencerahan. Membuka mata lebar-lebar akan peran penting media massa. Bro Mitra, salah satu anggota OBI, menuangkan dalam blognya.
Aksi balap liar bukan barang baru. Aktifitas yang memakai jalan umum itu sudah berlangsung cukup lama di kota-kota besar di Indonesia. Cukup berisiko. Tribunnews.com pada edisi 2 Februari 2012 memberitakan tewasnya seorang pemuda di Karang Baru,Aceh, saat balap liar. Korban yang berusia 22 tahun itu menabrak truk dari arah berlawanan sehingga luka di kepala cukup parah. Bahkan, risiko lain juga dipikul oleh mereka yang ikut menonton seperti kejadian di Semarang penghujung Januari 2012. Sang penonton tewas.

Kembali lagi soal Motor Plus. Dalam artikel berjudul ‘Pelatuk Roller Jadi Senjata’, tabloid tersebut membuka tulisan dengan menyinggung soal kegiatan balap liar. Entah definisi balap liar versi tabloid itu.
Lantaran kalimat itu, menimbulkan aneka persepsi seperti ditulis bro Mitra di blognya. “Sang media cetak seolah memberi pembenaran bahwa kebut2an di jalan raya adalah tindakan legal…!!!,” tulis bro Mitra.
Bagi saya, setelah membaca tulisan hingga tuntas, tampaknya karya jurnalistik itu, perlu dilengkapi dengan fakta lain. Salah satunya, ada regulasi yang mengatur soal larangan berbalapan di jalan umum. Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dalam pasal 115 menyebutkan pengemudi Kendaraan Bermotor di Jalan dilarang: a. mengemudikan Kendaraan melebihi batas kecepatan paling tinggi yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21; dan/atau b. berbalapan dengan kendaran bermotor lain.

Sedangkan sanksi untuk aturan itu bisa dilihat dalam pasal 297 yang menyatakan bahwa

setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor berbalapan di jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 3 juta.

Kita tahu, peran media massa demikian besar terhadap konsumennya. Saya jadi teringat tentang fungsi media massa yang mencakup informasi, edukasi, dan rekreasi. Peran edukator rasanya tak bisa dipungkiri harus lebih diperkuat di tengah era masyarakat madani. Termasuk edukator seputar keselamatan jalan. Selaku edukator yang baik, biasanya bakal membekali diri dengan beragam literatur dan aturan main yang berlaku di zamannya. Oh ya, tahun 2011, sedikitnya 31.185 jiwa tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

8 Komentar leave one →
  1. 15 Maret 2012 15:09

    balap liar tewas di tempat,,semoga sadar ya mbah
    http://pertamax7.wordpress.com/2012/03/15/penampakan-lebih-detail-akan-yamaha-new-vixion/

  2. 15 Maret 2012 15:11

    Kapan tulisan saya bisa kayak gini..?

    (Lengkap, akurat, dan disertakan fakta)

  3. 15 Maret 2012 21:06

    pasti bisaa..
    smk bisaa…
    kita bisaa…
    baca yang ini bro..
    http://nakawara.wordpress.com/2012/03/15/f1zr-idola-anak-muda-era-millenium-2/
    salam kenal om edo..

  4. 15 Maret 2012 22:04

    Beginilah imbas dari iklan pabrikan yang kurang mendidik konsumennya.
    Akibatnya bermunculan 4l4y2 baru………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: