Lanjut ke konten

Mereka Bisa Bersih, Tegas, dan Konsisten

28 Februari 2012

SUDAH menjadi rahasia umum. Ada petugas dan pengendara yang nakal. Bak gayung bersambut, urusan jadi beres ketika kedua pihak sefaham. Fulus jadi jalan keluar.
Kalau jalan damai dipilih dalam pelanggaran aturan lalu lintas jalan, pasti yang diuntungkan segelintir orang. Tapi kalau penegakan hukum dijalankan dengan tegas dan konsisten bisa menyelamatkan banyak orang. Kok bisa?
Sanksi tegas bisa menimbulkan efek jera. Ke depannya, bisa mikir dua kali kalau mau melanggar. Nah, jika perilaku itu membudaya, patuh pada aturan, kecelakaan lalu lintas jalan juga bisa ditekan. Itu semua hanya pikiran saya selaku orang awam.
Lantaran itu, tulisan ini saya beri judul seperti di atas. Petugas yang bersih, tegas, dan konsisten, pasti masih ada. Saya percaya itu. Tinggal bagaimana orang-orang seperti itu bisa menularkan auranya kepada yang lain.
Di sisi sebelah, para pengguna jalan juga sudah saatnya lebih takut pada aturan, ketimbang sosok petugas. Aturan lalu lintas jalan disusun pasti punya segudang alasan. Tapi, satu tujuan. Keselamatan jalan untuk semua. ”Pengendara sepeda motor ‘lebih takut kepada polisi’ daripada aturan keselamatan di jalan raya,” tegas Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, MT, guru besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, saat menjadi pembahas di Semiloka Nasional: Pengembangan Program Aksi Keselamatan Pengendara Sepeda Motor, di Universitas Brawijaya, Malang, Senin (13/2/2012).
Kesadaran pengguna jalan untuk mentaati aturan demi keselamatan semua dan petugas yang bersih, bisa ikut mematahkan peluang terjadinya kecelakaan di jalan. Kita sudah disodorkan fakta, pada 2011, sekitar 31.185 jiwa tewas sia-sia. Sementara itu, keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan mencapai sekitar 72%.
”Karena itu, mestinya polisi memaafkan pelanggaran sekecil apapun,” tukas sang Guru Besar.
Kekhawatirannya adalah menjadi kebiasaan. Permisif. Padahal, kata Agus, pelanggaran kecil bisa berdampak fatal yang tinggi. Selaras sih dengan jargon petugas itu sendiri yang selalu bilang, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan. Barangkali, jika pelanggaran bisa ditekan, peluang kecelakaan juga ikut mengecil. Teorinya. (edo rusyanto)

11 Komentar leave one →
  1. Aa Ikhwan permalink
    28 Februari 2012 07:15

    susah krn sdh mendarah daging tp ttp berharap bisa dilakukan, saat muncul orang2 yg mau konsisten biasanya tiba2 aja hilang entalh dimutasi atau lainnya.

  2. 28 Februari 2012 08:16

    betul om, saya yakin pengendara itu lebih takut petugas daripada rambu2nya, jadi…..petugas harus lebih sering berpatroli….

  3. ashley permalink
    28 Februari 2012 08:51

    yakin ?…..bisa…..?

  4. haroem permalink
    28 Februari 2012 10:38

    Positive Thingking aja deh ! semogaaa mereka bisa menjadi panutan masyarakat serta bersih, Tegas, dan Kosisten

  5. robotic_munky permalink
    28 Februari 2012 12:02

    klo ada polisi tidur, saya ngurangin kecepatan motor kok.
    soalnya polisi tidur lebih tegas dari pada polisi beneran (hah bneran? bohongan juga kalee, wani piro?)

  6. 28 Februari 2012 12:28

    Sebenernya aliran uang-nya sama aja eyang sama sama di-tilep. Kalo damai si-penilang dapet porsi lebih banyak, cos cuman dibagi antar si-penilang, “bendahara” dan sisanya masuk kas negara.

    Nah kalo ikut sidang, dibagi jadi banyak pihak, si-penilang, tukang ketok palu, panitia acara, “bendahara” sisanya masuk kas negara.

    KECUALI, si-penilang berbaik hati memberi form setor ke bank. Nah itu baru contoh yg benar

  7. 28 Februari 2012 13:14

    penegakan aturan jelas kata kunci yang tidak bisa diganggu gugat ya mbah..selama ini hal itu cenderung hanya dijadikan peluang penyelewangan..

    nitip mbah..
    http://boerhunt.wordpress.com/2012/02/28/kalau-kita-tidak-belajar-memberi-jalan-kita-juga-tidak-akan-mendapat-jalan/

  8. 28 Februari 2012 15:26

    gmn caranya petugas bs menyadarkan masyarakat ttg keselamatan di jalan raya.. yakni tegas, terpecaya dan konsisten

  9. olala permalink
    29 Februari 2012 09:08

    kemarin naik taksi ngobrol ngobrol seputar aparat menurut sang pengemudi ketika ditanya masalah kualitas aparat jawabnya 1: 100 mas ….
    100 aparat cuma ada 1 yang berkualitas…itupun menurut dia lama kelamaan jg ikut nda berkualitas juga…
    Sedih juga citra aparat ternyata udah sedemikian jeleknya…

  10. 29 Februari 2012 10:26

    yang mesti benahi sistemnya kalau sistemnya bagus, saya yakin para pelakunya ikutan bagus. Tapi kalau sistemnya kacau daftar jadi aparat bayar, naik pangkat bayar, akhirnya pas dilapangan masyarakat yang jadi korban untuk balikin modal.

    Jaman dahulu 🙂 para orang tua ingin anaknya bisa jadi polisi biar bisa nangkap penjahat biar negara aman. Sekarang kebanyakan orang tua ingin anaknya jadi polisi karena motivasi ekonomi yang lebih baik. Pertama tama sistem perekrutan dirubah dulu cari orang yang mau nangkap penjahat (menegakan hukum) bukan orang yang cari duit supaya bermewah mewah.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: