Lanjut ke konten

Motorku Ikut Mencemari Udara

25 Februari 2012
tags:

KUALITAS udara di Jakarta tergolong cukup buruk. Boleh jadi karena setiap hari disesaki oleh asap dari knalpot kendaraan. Salah satunya, asap dari knalpot sepeda motor saya.
Menurut MR Karliansyah, deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terjadi penurunan kualitas udara di areal perumahan penduduk dan di perkotaan sejak tahun 2005 sampai saat ini. Hal ini ditandai dengan adanya polutan udara yang melampaui baku mutu udara ambien, contoh : kadar tertinggi NO2 (0 – 30 ppm) yang banyak ditemukan di kota-kota dengan aktifitas transportasi tinggi, dan kadar tertinggi SO2 (0-50 ppm) banyak ditemukan di areal perumahan.
”Transportasi diperkirakan menyumbangkan 76% dari total emisi pencemar oksida nitrogen (NOx). Sedangkan untuk emisi hidrokarbon (HC) dan karbon monoksida (CO), transportasi merupakan kontributor utama (lebih dari 90%),” kata Karliansyah, saat memberi sambutan dalam seminar Forum Wartawan Otomotif (Forwot) di Jakarta, baru-baru ini.
Hasil studi KLH – BTMP – JARI tahun 2011 terkait studi penentuan faktor emisi kota Jakarta menunjukkan volume sepeda motor pada hari kerja mencapai 39.4% dan pada hari libur/minggu menurun menjadi 28.8%.
Bagaimana supaya kualitas udara tidak terlalu buruk?
Salah satunya, pemerintah sedang memfinalisasi aturan draf peraturan menteri LH tentang baku mutu emisi gas buang sepeda motor EURO 3. ”Pemberlakukannya sekitar dua tahun setelah standar ini ditetapkan. Mudah-mudahan tahun 2012 ini segera finalisasi dan bisa kami umumkan,” tuturnya.
Selain itu, jelas dia, komponen kegiatan yang perlu dilakukan dalam kerangka pengendalian pencemaran dari sumber bergerak di antaranya adalah penggunaan bahan bakar bersih, penerapan manajemen transportasi, dan teknonologi kendaraan. Bahan bakar yang bersih berpotensi untuk meningkatkan kinerja mesin kendaraan sekaligus mengurangi pencemaran udara melalui emisi gas buang. Kepadatan lalu lintas yang ditandai dengan kemacetan di jalan maupun perilaku pengemudi juga akan mengaitkan beban emisi ke udara. Adanya perbaikan dalam pengelolaan lalu lintas yang disinergikan dengan tata ruang perkotaan seperti perluasan jalan, pengalihan moda transportasi ke jenis angkutan lain seperti kereta api, peremajaan angkutan umum akan sangat menunjang dalam menurunkan bahan emisi ke udara.
Sistem transportasi dan pilihan teknologi juga mempengaruhi pola pergerakan manusia dan kendaraan dari suatu kota yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas udara. (edo rusyanto)

6 Komentar leave one →
  1. dani permalink
    25 Februari 2012 12:26

    yoi motorku juga meracuni diri sendiri

  2. dani permalink
    25 Februari 2012 12:32

    Entahlah jika mobil umum itu tidak menyita waktuku aku akan menggunakannnya..
    aku harus bergegas bangun lebih pagi lagi jika mobil umum itu pilhanku..belum lagi perpindahan angkot ke metromini..angkot pun harus bersabar berjalan untuk memenuhi muatannya, mungkin karena motor juga dan orang dah beralih kemotor..angkotpun susah sekali penuhnya..angkot berjalan perlahan ditambah mobil-mobil pribdai yang keluar dari gang tak ayal semakin memperpelan angkot..saat lampu merah sekitar 100meteran angkot berhenti diantara mobil dan motor..namun saat lampu hijau angkot berjalan perlahan dikarenakan mobil yang maksa masuk dari persimpangan lain saat lampu mulai kuning dan menutupi jalur yang telah hijau…hasilnya 100 meter pun berakhir dengan lampu yang merah lagi…hump…..belum lagi aku harus berpindah metro..ahhh15 menit berlalu dilamer ini…dan belum nanti mobil pribadi yang semakin banyak keluar gang dan seterusnya dan seterusnya…(sedih…)

  3. 25 Februari 2012 17:09

    terima kasih informasinya

  4. extraordinaryperson permalink
    26 Februari 2012 11:16

    yah mau gimana lagi….daripada naik angkot…uda lama, mahal, gak terlalu aman pula

    http://extraordinaryperson.wordpress.com

  5. test permalink
    27 Februari 2012 17:49

    Saya dulu selalu naik angkot
    tapi karena supir angkot sekarang brengsek, mobilnya udah gak layak, dan beberapa kali mengalami penodongan & kecopetan di dalamnya, akhirnya saya beralih ke motor.
    Saya rasa banyak orang lain yg beralih ke motor sekarang punya alasan yg sama seperti saya.
    Apa pemerintah gak malu punya angkutan umum seperti kopaja dll yg telah usang beredar di ibukota yg modern? Saya aja malu waktu seorang bule memperhatikan bus kota yg kondisinya gak layak & kotor di bunderan HI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: