Lanjut ke konten

Manajemen Komunitas Sampai Road Safety

21 Februari 2012

RASANYA agak berbeda kumpul bareng komunitas pemotor kali ini. Topik yang dibahas rada serius. Bayangin aja, tema yang diusung soal bagaimana manajemen organisasi komunitas. Salah satu topiknya, bagaimana membuat proposal yang jitu agar disetujui calon mitra kerjasama.
Sebelumnya, saat saya diminta ikut nimbrung di acara itu oleh Wiyarto Mulyono, Corporate Communication Dept Head PT Wahanaartha Harsaka (Wahana), sempat kepikiran mau bahas apa yah? “Bahas tentang attitude berkendara bagi anggota komunitas baik saat touring maupun sehari-hari,” kata bro Wiyarto yang kondang disapa bro Shakti itu.
Oh ya, Wahana adalah main dealer sepeda motor Honda untuk kawasan Jakarta dan Tangerang. Praktis komunitas yang dimaksud adalah mereka yang berada di kawasan tersebut.
Minggu (19/2/2012) sore, saat saya tiba di lantai tiga gedung Wahana di Gunung Sahari, Jakarta, tampak sudah berkumpul sebanyak 19 anggota komunitas pemotor Honda. Mereka ada yang dari komunitas di wilayah Tangerang, seperti Honda Beat Club Tangerang (HBCT), TSC, dan TREC. Namun, ada juga yang dari Jakarta seperti Honda Beat Club (HBC), Honda Supra Jakarta (HSJ), Karisma Fans Club, HMPC Jakarta, dan Jack CB TMII.
Ada bro Lutfi Hernowo dari Wahana yang menyampaikan soal pentingnya komitmen dalam berkomunitas. Dengan gayanya yang rileks, sambil mengajak peserta bermain logika, dia menyampaikan aspek pentingnya membangun motivasi dan komitmen tanpa paksaan. “Yang kalah penting adalah berani kreatif, kecuali dilarang,” kata dia yang juga penyuka sepeda kayuh itu.

Bro Shakti memaparkan soal bagaimana pembuatan proposal yang jitu. “Menarik dan memuat rencana kerja yang jelas dan detail. Agar calon pendukung yakin dan mau membantu. Buatlah anggaran yang seriil mungkin, tidak perlu mark up biaya,” jelasnya.
Tentu saja gayung bersambut. Para peserta bertanya. “Kriteria apa yang bisa di-support Wahana?” kata seorang peserta.
bro Shakti menjelaskan soal pentingnya aspek waktu dalam menyampaikan proposal. Pihak Wahana mengaku siap bermitra.
Benarkan materi pertemuan komunitas Honda tersebut cukup serius?
Saya yang diundang untuk menyampaikan soal perilaku berkendara yang aman dan selamat mesti bisa mengajak peserta serileks mungkin. Maklum, saya kebagian jadwal pemberi materi terakhir, pasti para peserta mulai loyo.
Saya coba segarkan ingatan mereka mengenai beberapa aturan yang berlaku dan pentingnya berkendara yang santun. Mau peduli dengan sesama pengguna jalan.
”Bagaimana caranya mengajak orang agar mau safety riding?” tanya bro Fuad.
Pertanyaan yang cukup bagus dan sering dilontarkan peserta pelatihan. Saya ajak mereka agar memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan keselamatan jalan. Dalam kondisi penerima pesan yang rileks, bisa menyampaikan pesan secara maksimal. Persoalannya, setelah tahu soal sesuatu, akankah mereka mengimplementasikannya?
”Gak perlu celaka dulu baru safety riding,” tambah bro Fuad lagi.
Perbincangan soal keselamatan jalan justeru mengalir lebih intensi setelah acara ditutup. Kami berbincang sesaat sebelum meninggalkan ruang pertemuan. Fokus perbincanan seputar peraturan tilang. Maklum, dalam pelatihan bro Ede sempat bercerita soal pengalamannya ditilang dan dimintain duit oleh petugas. ”Saya terpaksa ngasih karena buru-buru,” kata dia.
Dalam perbincangan usai acara bro Fahri dan bro Edwin dengan antusias membahas soal slip tilang. Bro Fahri bahkan bercerita soal pengalaman ditilang dan diberi slip warna biru. ”Saya langsung transfer ke BNI sebesar Rp 39.000,” jelas dia.

Setahu saya, slip biru berarti sang penerima tilang mengakui keselahannya dan bisa kena denda maksimal. Misalnya, pelanggaran marka dan rambu jalan, bisa kena denda Rp 500 ribu. Memang, slip biru mekanismenya lebih praktis, tinggal datang ke bank, lalu transfer.
Berbeda dengan slip merah yang harus mengikuti sidang di pengadilan negeri (PN). Jadwal sidang biasanya sekitar dua minggu setelah hari kena tilang. Jumlah sanksi denda yang harus dibayarkan berkisar Rp 50-100 ribu, tergantung kesalahan yang dilakukan.
Hari kian sore, saya pun pamitan kepada para pemotor muda itu. Melenggang ke rumah sambil menikmati lalu lintas jalan Jakarta yang agak lengang pada Minggu sore. Semangat. (edo rusyanto)

7 Komentar leave one →
  1. 21 Februari 2012 00:38

    sippppppppp

  2. ian egx permalink
    21 Februari 2012 02:40

    Klo operasi patuh jaya n jauh dr atm boleh di protes dong bro? Hehehe..apakah ada peraturan tertentu perihal operasi patuh jaya? kecuali tilang dijalan krn naik trotoar, garis putih dll.

    • 21 Februari 2012 09:32

      biasanya operasi seperti itu memang membuat keder para pengguna jalan. pilihan lokasi umumnya di jalan yg banyak dilalui pengendara, bukan jalan yg sepi. pertanyaannya, apakah penegakan hukum harus selalu melalui operasi resmi? bisakah setiap saat petugas menegakan hukum? hayooo…

  3. 21 Februari 2012 07:49

    mantabs..

  4. haroem permalink
    21 Februari 2012 16:24

    Kegiatan Positif nih dari main dealer bisa mengajarkan komunitas untuk bisa memanagemet sebuah organisasi dan lebih keren lagi eyang menularkan virus safety riding untuk komunitas!

  5. Storm Rider permalink
    22 Februari 2012 14:22

    menarik mengenai slip tilang biru dan merah
    katakanlah saya ditilang dan menerima slip biru
    nah kalo bayar tilang bisa ke bank mana aja.?
    dan juga ke rek nya no brapa.?
    apakah ada keterangannya di surat tilang tersebut.?
    mohon pencerahannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: