Lanjut ke konten

Sembilan Seruan Soal Commet

7 Februari 2012


Tiket elektronik. (foto:bumntrack)

PENERAPAN tiket elektronik kereta api (KA) Jabodetabek mendapat respons beragam dari konsumen. Ujicoba yang diterapkan mulai 1 Februari 2012 tentu tak bakal lepas dari kekurangan. Inilah yang dikritisi para pengguna KA yang tergabung dalam KRL Mania.
Ada Sembilan point penting yang dikritisi KRL Mania dalam suratnya Selasa, 7 Februari 2012. Dalam surat yang ditujukan ke Direktur Utama PT. KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) point itu di antaranya adalah pentingnya sterilisasi stasiun KA sebagai kawasan publik terbatas. Hanya para pihak yang berkepentingan dengan KA yang ada di area tersebut.
Selain itu, tidak ada jaminan kerahasian data pribadi/KTP, biaya pembuatan kartu tidak dibebankan ke pelanggan, dan penumpang nonreguler dan rombongan dipersulit. Selengkapnya bisa lihat dalam surat di bawah ini. (edo rusyanto)

Kepada Yth.

*Direktur Utama PT. KAI Commuter Jabodetabek (KCJ)*

Di Jakarta

Dengan Hormat,

Sejak 1 Februari 2012 lalu KCJ sebagai operator KRL Commuter Line memperkenalkan Kartu COMMET (*Commuter Electronic Ticketing*) sebagai alat transaksi baru saat akan naik KRL tersebut. Tapi sungguh disayangkan pada Tahap 1 ini tampak ketidaksiapan disemua sisi:

1. Minim informasi: Begitu minimnya informasi yang bisa didapat penumpang dan amat kurangnya sosialisasi yang dilakukan KCJ di lapangan. Dari komunikasi pribadi ke beberapa pejabat KCJ, juga tampak informasi yang berbeda-beda.

2. Ketidaksiapan Sumber Daya Manusia: Petugas di lapangan (baik KCJ maupun perusahaan rekanan) tampak sekali tidak siap. Mereka tidak bisa memberikan penjelasan yang memadai dari segi teknis ketika ditanya soal pemakaian maupun masalah yang ditemui, misalnya detail aturan tarif, cara isi ulang, cara *refund*, prosedur penyelesain kasus kesalahan transaksi (*dispute transaction*) dll. (Detail berbagai pertanyaan penumpang bisa dilihat di *Lampiran 1 – FAQ*).


(foto:republika.co.id)

3. Ketidaksiapan/ ketidakhandalan alat: Sejak hari pertama, banyak sekali laporan terkait Commet, misalnya: kerusakan mesin/kartu, lamanya waktu identifikasi kartu, tidak terbacanya kartu, pesan kartu bermasalah tanpa kejelasan penyelesaian dari petugas sampai adanya pemotongan pulsa dengan nilai yang tidak wajar (misalnya Depok Baru – Sudirman sebesar Rp. 18.000). Ketika dikonfirmasikan ke beberapa pejabat KCJ, jawaban mereka: ini baru ujicoba. Ini mencurigakan karena pada minggu lalu masih terdapat pengumuman tender perbaikan mesin Commet di website KCJ.

Meski KCJ tidak mau menyebut sebagai ujicoba, dan hanya sebagai Tahap 1 dimana Commet berfungsi sebagai KTB, pada esensinya ini adalah ujicoba, karena pemegang kartu Commet diminta ujicoba mesin Commet dengan tapping di gate in dan gate out. Lazimnya dalam suatu ujicoba, semua infrastruktur (mesin, kartu, jaringan) dan SDM sudah benar-benar siap dan dipastikan tidak ada kerusakan.
Melihat ketidaksiapan di atas, sebaiknya diperbaiki dulu ketiga unsur di atas.

Perlu kami tekankan bahwa sebagai perusahaan penyedia jasa, KCJ perlu secara aktif *managing consumers’ expectation*. Penumpang yang terbiasa dengan ujicoba yang profesional tentu mengharapkan ujicoba sebagai simulasi kondisi hal yang sebenarnya terjadi, dengan *impact management* dan *contingency plan* yang jelas. Ketika banyak penumpang menemui masalah dan mencoba mencari penyelesaian, petugas di lapangan maupun pejabat KCJ hanya bisa berkilah bahwa ini adalah “Tahap 1”. Sekali lagi, esensi pengenal Commet ini adalah ujicoba dan ujicoba bukan untuk melihat kegagalan, tapi mencari keberhasilan dengan masukan diberbagai sisi.

Ditengah minimnya informasi tersebut, KRL Mania berdasarkan berbagai sumber berupa brosur resmi maupun dialog langsung dengan petugas menyarankan diperbaikinya beberapa hal sebagai berikut:

1. Tidak ada jaminan kerahasian data pribadi/KTP: Untuk membuat Commet, harus menyerahkan KTP. Perlu ditinjau ulang prasyarat pembelian COMMET karena:

a. Mempermudah dan mempercepat proses transaksi terutama bagi penumpang non-reguler yang hanya sesekali bepergian naik KRL. Sebagai pembanding adanya kemudahan, fleksibilitas dan tanpa menyerahkan data pribadi/KTP adalah proses pembelian *E-Toll Card *yang sama-sama menggunakan jasa perbankan.

b. Tak ada klausul adanya jaminan kerahasiaan data pribadi dari KCJ yang diolah terlebih dahulu oleh pihak ke-3 (perusahaan rekanan/kontraktor).

2. Biaya pembuatan kartu tidak dibebankan ke pelanggan: Seperti halnya
*E-Toll Card*, seharusnya operator tidak membebankan biaya pembuatan kartu kepada konsumen karena hal itu sebagai bagian dari *investment cost* dari pihak Operator dan/atau pihak bank.

a. Bagi calon penumpang yang jarang naik KRL, misalnya suatu keluarga lima orang ingin naik KRL pada hari Sabtu, mereka harus membayar 5 x Rp 50.000 = Rp 250.000. Mereka dibebani biaya kartu 5 x Rp 20.000 = Rp 100.000. Sehingga ketika pulang, Rp. 100.000 melayang karena tidak bisa direfund.

b. Kalaupun biaya itu dibebankan, maka jika penumpang sudah merasa tidak akan naik KRL lagi dalam waktu lama operator wajib menyediakan prosedur *penukaran kartu (refund) sebesar harga kartu dan sisa akhir saldo.

c. *Refund hanya bisa dilakukan di stasiun pembelian*. Ini juga menyusahkan penumpang, karena bisa saja mereka pulang pergi tidak dari stasiun yang sama.

3. Penumpang non reguler dan rombongan dipersulit: Perlu dipertimbangkan keberadaan penumpang non-reguler dalam menentukan model dan aturan sistem tiket elektronik nanti:

a. Penumpang keluarga dan/atau rombongan diberi keleluasaan untuk bisa melakukan *beberapa kali transaksi untuk satu rombongan* (beberapa kali tapping saat masuk/keluar dengan kartu yang sama) dengan pantauan petugas (lihat hitungan 2.a).

b. Jika sistem model 3.a diatas tidak memungkinkan diterapkan karena alasan teknis, maka KCJ harus *tetap menyediakan tiket eceran/kertas* buat penumpang non-reguler (seperti halnya tiket jalan Tol dan sistem elektronik tiket kereta dibanyak negara).

4. Prosedur tapping di atas KRL menyulitkan: Dengan diberlakukannya *Single
Operation *dan penerapan Commet hanya untuk KRL Commuter Line, maka prosedur tapping kartu didalam kereta dan denda berupa penarikan tarif terjauh harus dihapus karena:

a. Identifikasi kelas kereta tidak diperlukan lagi.

b. Pada jam sibuk pagi dan sore, petugas dan penumpang amat kesulitan untuk bergerak untuk tapping kartu. Kodisi kereta seperti itu jelas bukan kesalahan penumpang dan petugas dan amat tidak adil jika denda diberlakukan (dikenakan tarif terjauh Rp 13.500) karena hal tersebut.

5. Keharusan pengisian ulang saldo kartu Commet pada Tahap 1 *paling lambat 1 minggu sebelum akhir* bulan berjalan sungguh sebuah peraturan yang sulit dimengerti dan seharusnya dihapus karena pembeli COMMET tetap punya hak naik KRL sampai akhir bulan tersebut meski belum melakukan pengisian ulang.

6. Sterilisasi stasiun tidak dilakukan: Salah satu prasyarat penting yang sudah sering kami persoalkan sejak awal Proyek Commet ini pada awal 2009 yang tidak konsisten dilakukan. Hampir semua peron stasiun masih belum steril dengan pedagang yang menganggu kenyamanan penumpang saat keluar masuk, terlebih lagi akan ada penyempitan (*bottle-necking*) di pintu keluar masuk saat Commet diterapkan.


(foto:vivanews.com)

7. Potensi bottleneck dan antrian: Dalam ujicoba terlihat perlu waktu antara 2-5 detik untuk penumpang memasuki gate, tapping, mendorong penghalang dan keluar gate. Ini adalah risiko yang harus diperhitungkan karena *probability *(dapat terjadi setiap saat) sangat besar dan *severity*(dampak terhadap antrian) juga besar. Perlu dipastikan
sistem IT Commet tidak menjadi *bottleneck*.

8. Tarif Berdasarkan Jarak. Dengan diberlakukannya elektronik tiket, harusnya KCJ bisa dengan fleksible menerapkan tarif berdasarkan jarak/ area (*zona based tariff*) yang mana itu itu bisa sejalan dengan program peningkatan daya muat KRL. Hal itu karena akan ada lebih banyak penumpang jarak pendek yang beralih ke moda KRL karena tidak terbebani dengan tarif terjauh.

Meski pada Tahap 1 ini kartu hanya berfungsi sebagai pengganti KTB, harusnya KCJ tetap mendorong penumpang (pemegang Commet) untuk melakukan tapping di pintu keluar/masuk sebagai bentuk uji coba yang sesungguhnya yang diharapkan bisa mengetahui berbagai kelemahan sistem sejak dini dan bisa segera dilakukannya pembenahan sebelum tahap penerapan yang sesungguhnya nanti dijalankan.

9. Segera dibentuk satgas khusus Commet disetiap stasiun yg terdiri dari petugas yang terlatih dalam menangani dan menyelesaikan setiap keluhan penumpang sehari-hari.

Kami harap masukan diatas bisa segera dipertimbangkan realisasinya oleh KCJ sehingga waktu 2 bulan cukup untuk membenahi segala kekurangan yang ada.
Jika tidak, kekhawatiran kami adalah ekspektasi penumpang yang sudah memakai Commet dan sudah kecewa akan terus terjadi, memburuk dan menimbulkan kericuhan di setiap stasiun terutama pada jam sibuk.

Hormat kami,


KRL Mania

Komunitas Penumpang KRL Jabodetabek

Kontak: KRL-Mania-owner@yahoogroups.com

Website: http://www.krlmania.com

10 Komentar leave one →
  1. 7 Februari 2012 13:20

    Copast Post

  2. 7 Februari 2012 13:44

    wuihhhh…. ribet amat yach….
    apa karena saya gak pernah naik KRL dimarih ??

  3. 7 Februari 2012 18:51

    cuman sekali naik kereta Mutiara Timur :0

    http://learningfromlives.wordpress.com/2012/02/07/hanya-keajaiban-tuhan/

  4. 7 Februari 2012 20:31

    nomer 1 gan ane setuju, ane aja ga tau ada tiket elektronik untuk KA, heu *ndeso
    salam hangat selalu dari Albab’s Blog

  5. 7 Februari 2012 22:17

    paling bahan korup buat pegawai PT KAI sama aja ky wc dpr

  6. 8 Februari 2012 02:28

    Assalamu’laikum..wah mantaps nich post
    sosialisasi minim banget…tentang commet.

  7. kelana permalink
    8 Februari 2012 08:19

    sudah beberapa hari ini mengandangkan mobil dan beralih ke commuter line dari bintaro menuju kantor saya di jakpus dan memang kondisinya masih jauh dari layak untuk bisa membuat pengendara mobil lainnya beralih ke moda transportasi yang satu ini.
    tempat parkir yang tidak nyaman, tempat menunggu yang separuh terbuka, kereta yang masih sering terlambat, termasuk jeda waktu antar keberangkatan yang masih panjang….intinya masih butuh usaha serius untuk membenahi moda yang satu ini kalo pengen menarik pengguna moda transportasi yang lain beralih….

  8. Rollerman permalink
    8 Februari 2012 13:01

    yaaa mau gmana lagi,tapi kalo gak gitu ya gak maju2 emang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: