Lanjut ke konten

Ramai-ramai Libas Bahu Jalan

7 Februari 2012

SETIAP hari lalu lintas jalan tol Jagorawi amat padat. Tol yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi itu, menjadi nadi kaum urban. Mendorong roda perekonomian wilayah di sekitarnya. Termasuk Jakarta.
Beragam kendaraan melintas. Mulai dari yang harganya seratusan juta rupiah, sampai dengan mendekati satu miliar rupiah per unit. Pemilik mobil pastilah memiliki uang lebih. Setidaknya jika dibandingkan dengan rakyat Indonesia kebanyakan. Dari sudut pendidikan, mestinya mengenyam yang lebih baik. Tahu tatakrama.
Ternyata, tahu saja tidak cukup. Banyak yang tahu bahwa bahu jalan tol bukan untuk mendahului. Bahu jalan tol untuk kondisi darurat. Tapi faktanya? Coba lihat di jalan tol. Pemobil berlomba-lomba mengejar waktu. Bahu jalan jadi alternatif memacu kecepatan. Rasanya, kita boleh nyinyir pada perilaku itu.
Kelompok masyarakat menengah atas kita masih penuh dengan orang-orang egois. Ketika masyarakat bawah menjadi bulan-bulanan tudingan semrawut. Antre sembako kisruh. Antre zakat saling dorong. Banyak yang mencibir. Tapi ketika antrean pembeli ponsel pintar yang harganya lebih dari dua juta rupiah per unit kisruh, potret kelam menjadi merata. Tak perlu strata ekonomi untuk membedakan perilaku ugal-ugalan.
Kembali soal bahu jalan. Saya senang sekali ketika ada sejumlah teman di komunitas otomotif mobil yang mengakampanyekan anti bahu jalan. Komunitas itu patut dipuji untuk upaya meningkatkan keselamatan berkendara di jalan.
Seorang teman berbisik, mendahului dari kiri melalui bahu jalan, sebenarnya juga penuh risiko. Misal, saat melaju dalam kecepatan tinggi, tiba-tiba di bahu jalan ada kendaraan lain yang sedang berhenti karena darurat. “Risiko terjadi benturan amat lebar,” kata dia. Percaya? (edo rusyanto)

21 Komentar leave one →
  1. 7 Februari 2012 00:29

    halah halahhhh….

    nitip kampanye safety riding ala Blog BIKERS dongggg

    http://blogbikers.com/2012/02/06/blog-bikers-safety-riding-photo-contest/

  2. 7 Februari 2012 08:03

    bukan pada tempatnya………..

  3. umbul-umbul belambangan permalink
    7 Februari 2012 08:59

    terlalu riskan om, nyawa jadi taruhan

  4. 7 Februari 2012 09:49

    yup…. 4wheeler pakai bahu jalan = biker naik trotoar

    Omm Edo kan banyak channel-nya… mungkin bisa kasih masukan ke penyelenggara jalan toll… misal pemasangan rambu plus papan peringatan dan papan himbauan yang menggerakkan hati (mungkin sekalian himbauan yang keras, mis : pakai bahu jalan = manusia purba deelel).
    Dua minggu lalu pas Demo buruh lagi gedhe-gedhenya, seorang meninggal dalam ambulance, karena ambulan terjebak ditengah-tengah…. mo pakai bahu jalan dah gak bisa, karena bahu jalan juga penuh ma mobil dan truk yang berhenti… Alhasil tuh orang sakit di dalam ambulance yang meraung2 (tapi berhenti) dari pagi sampai siang…lewat dehh!!

    Kalo ngobrol ma orang Jepun, ternyata di Jepun dulu juga semrawut, tapi karena di awal ada tindakan represif dari aparat… terus disusul oleh rasa malu bila melanggar, akhirnya bisa tertib kan… Di Bangkok dah mulai tertib… biar macet masih tertib.
    Lha kita, yang mayoritas beragama muslim masak gak malu melanggar… padahal malu adalah salah satu dari 77 cabang iman.

    • 7 Februari 2012 09:53

      Saya coba semaksimal mungkin. Smoga para operator jalan tol juga membaca tulisan ini.
      Makasih dah berbagi disini.
      Salam
      https://edorusyanto.wordpress.com

    • 7 Februari 2012 10:06

      Sedikit share omm Edo…
      Kapan hari komplek perumahan saya yang kebetulan disamping JORR (bekasi), pagar antara jalan toll dan komplek bagian ujung gak ada… alhasil banyak sampah dar penyelenggara toll dibuang di situ.
      Terus dari RW buat surat (ke direkturnya langsung) supaya sampah dibersihkan dan dibuatkan pagar.
      Alhamdulillah responnya cepat… kira2 seminggu – 2 minggu dah jadi pagarnya.
      Memang bukan Direkturnya langsung sih yang turun tangan…hehehe 🙂
      Mereka ngomongnya “open” terhadap masukan sih… katanya…

      • 7 Februari 2012 10:11

        Sudah menjadi kewajiban penyelenggara jasa untuk menerima kritik, saran, dan masukan dari konsumen/masyarakat. Hanya mereka yg nggak ingin maju, menutup segala input. Salam.

  5. 7 Februari 2012 11:00

    kayaknya dimana-mana begitu…bukan di jalan tol aja… di jalan raya biasa juga banyak motor yang naik ke trotoar…bunyiin klakson keras2 biar yang lagi jalan minggir

    • 7 Februari 2012 12:11

      betul banget mas bro, perilaku berkendara yg egoistis terjadi dimana-mana. smoga kian ke depan kian berkurang. amin.

  6. Joni permalink
    7 Februari 2012 11:05

    saya sebetulnya geram tidak hanya kepada para pengguna bahu jalan, tetapi juga kepada para penegak hukum(tidak semua) yang kurang tegas kepada para pelanggar hukum, sehingga para penegak hukum tersebut dilecehin(dalam hal ini adalah pelanggar bahu jalan)

    Pernah terbersit pikiran untuk memberikan usulan kepada pemerintah, yaitu: setiap warga yang melaporkan adanya pelanggaran akan mendapatkan imbalan (kalau polisi sudah tidak mampu lagi ngurusin kayak beginian)

    contoh dalam kasus ini adalah, jika ada orang yang mendokumentasikan kendaraan yang menggunakan bahu jalan tidak pada mestinya (bisa foto atau video) dapat mengirimkan dokumen tersebut ke penegak hukum untuk diproses secara hukum (denda). nominal denda itu nantinya dibagi dua, setengah pertama masuk ke kas negara dan setengah lainnya diberikan ke pelapor.(jika denda 1 juta rupiah, 500ribu masuk kas negara, 500ribu diberikan ke pelapor)

    pemanggilan pelanggar berdasarkan kepada plat nomor kendaraan dan jika masih mangkir, denda dibebankan pada saat pengurusan perpanjangan STNK.

    • 7 Februari 2012 12:09

      gagasan yang menarik, smoga pak polisi mendengar. trims dah berbagi disini mas bro. salam.

    • bacrut permalink
      7 Februari 2012 14:17

      ide yg bagus, kyknya ntar saya sering bawa kamera nich klo masuk tol..

      wakakaka

  7. 7 Februari 2012 12:22

    pengamatan yang cermat om edo…)

  8. penggemar ninja permalink
    7 Februari 2012 14:19

    terbukti, ngak roda dua, ngak roda empat,,

    ngak yg pendidikan tinggi, ngak yg buruh , sama aja kelakuannya..:D

    yg penting itu mental orangnya, bukan pendidikan atau apa yg dibawanya

    Piss

  9. haroem permalink
    7 Februari 2012 18:52

    Mungkin perlu ada sosialisasi kembali nih! Kok melanggar perarutan serentakk

  10. 8 Februari 2012 17:16

    Masbro sekalian…mgkn mayoritas komentator adalah bikers.
    Pernah ga di tol dr priok ke cilandak 3jam? Itu tol byr lho mas?
    Maap, klo mau ga melanggar sediakan dulu fasilitas yg memadai sesuai yg dibayarkan.

  11. 5 Oktober 2015 13:49

    Pak Edo, ijin pakai gambarnya untuk di blog saya ya Pak. Kalau sempat bisa mampir juga ke tulisan saya tentang pemakai bahu jalan. Matur nuwun Pak.
    https://theferdians.wordpress.com/2015/10/05/bahu-jalan-sebuah-ketidaktahuan-atau-ketidakpedulian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: