Lanjut ke konten

Di Proyek Aja Kudu Safety, Apalagi di Jalanan

9 Desember 2011

SAAT menyaksikan pembangunan proyek Pusat Riset Fakultas Teknik Universitas Indonesia beberapa waktu lalu, ada imbauan yang menarik perhatian. Tulisan yang mencolok, ‘Hindari Kecelakaan, Keluarga Menunggu di Rumah’.
Di sudut yang lain, ada imbauan untuk memakai alat perlindungan diri seperti helm, sarung tangan, dan sepatu.
Para pekerja di proyek senilai berkisar Rp 10-20 miliar itu, pasti faham betul soal risiko yang bakal terjadi ketika bekerja. Bisa jadi sewaktu-waktu tertimpa benda keras dari arah atas. Karena itu, harus memakai helm. Atau, bisa jadi menginjak benda tajam atau benda tumpul yang cukup keras, karenanya memakai sepatu.
Kesadaran untuk berkeselamatan saat di lingkungan kerja menjadi amat penting. Tentu saja, dibarengi dengan ketegasan para pelaksana proyek agar mendisiplinkan diri saat bekerja. Maksudnya, sang pelaksana atau kontraktor harus menyediakan alat perlindungan diri, sekaligus mengingatkan para pekerjanya agar bekerja dengan selamat.

Nah, kalau di lingkungan proyek saja demikian ketatnya pemakaian alat perlindungan diri, saya jadi teringat soal lalu lintas jalan. Kita tahu, lalu lintas jalan seperti di Jakarta amat riskan. Sewaktu-waktu para pengguna jalan bisa terlibat insiden kecelakaan lalu lintas. Terlebih para pesepeda motor yang ringkih dari insiden. Sewaktu-waktu bisa jadi terjerembab karena jalan yang licin. Terperosok karena lubang jalan, atau bertubrukan satu dengan yang lain. Entah adu kambing, atau tabrak belakang.
Kalau sudah begitu, rasanya amat masuk akal jika saat bersepeda motor memakai alat perlindungan diri. Minimal, pemotor memakai helm sebagai pelindung kepala dan sepatu sebagai pelindung kaki. Alat lainnya, tentu berupa sarung tangan, pelindung siku, atau pelindung tulang kering dan lutut.

Paling tidak, pemakaian helm menjadi mutlak. Kalau pekerja proyek hanya berisiko tertimpa benda dari atas, kalau pemotor bisa berisiko lebih banyak. Paling fatal, jika harus berbenturan dengan aspal akibat insiden kecelakaan. Masa di proyek aja mesti safety, di jalan raya ogah-ogahan. (edo rusyanto)

9 Komentar leave one →
  1. 9 Desember 2011 00:10

    Bener om,safety first
    komentator ganteng and cute absen tengah malam
    http://wahyuvixi.wordpress.com

  2. 9 Desember 2011 07:33

    Emank kadang aneh bila kita memperhatikan bikers dinegara kita,memakai helm bukanya suatu keharusan yg timbul dari diri kita sendiri,tapi seperti sesuatu yg dipaksakan dan kadang malah sebagai beban buat kita. Padahal pemakaian helm adalah untuk keselamatan diri sendiri bukan untuk pak polisi ato orang lain…………………………….

  3. 9 Desember 2011 10:56

    Safety First…!!!

  4. 9 Desember 2011 12:40

    Sadar akan pemakaian helm itu yang belum di negeri kita ini. Padahal banyak sekali manfaat pake helm tuh.

  5. 9 Desember 2011 16:15

    mantaaf tuh… hidup Safety… Seiri Seiton Seiso Seiketsu Shitsuke….

    http://otobizz.blogspot.com/2011/12/video-suzuki-r3-2012-will-debut-at.html

  6. 10 Desember 2011 00:54

    sebenarnya terkait antara kecelakaan kerja dgn kecelakaan di jalan, krn kalau tidak salah kutip, di UU Naker mengatur bahwa kecelakaan kerja bukan cuma kecelakaan saat di tempat kerja, melainkan juga kecelakaan yg dialami oleh pekerja saat berangkat dan pulang dari pekerjaan, krn jika pekerja mengalami kecelakaan, akan berpengaruh pada produktifitas, semisal di pekerja harus opname atau bahkan s.d meninggal. Hal ini ada di pasal LK3 dan ISO 14001 dan OHSAS 18001, CMIIW

    salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: